Minggu, 22 Februari 2015

Acoustic Life #1

Judul : Acoustic Life #1
Penulis/Komikus : Nanda
Penerbit : Gramedia
Halaman : 288
Tahun : 2014



Lucu! Itu kesan pertama pas liat komik ini.

Nggak lucu! Pas liat harganya yang hampir seratus ribu. Gila aja beli komik dengan harga segitu.

Solusinya? Aku numpang baca aja sampai selesai. Nggak lama kok, kurang lebih satu jam aja langsung kelar. Apalagi waktu itu Sabtu pagi, nggak banyak orang buat rebutan tempat duduk. Cuek aja lah ketawa-ketawa sendiri soalnya memang lucu banget ceritanya. Gambarnya sih nggak bagus-bagus amat, tapi punya ciri khas. Ditambah semua halaman full color bikin mata jadi adem.

Sepertinya di Korea komik keseharian seperti ini sedang ngetren. Nanda, si komikus membuat doodle seputar kehidupan rumah tangganya. Aku ngerasa mirip sama si Nanda ini, banyak kebiasaan dan sifat dia yang ‘ini kok aku banget’.


Sebenarnya aku nggak pengen memasukkan komik ke dalam Goodreads Reading Challenge biar semuanya murni buku (fiksi/nonfiksi). Tapi sudah terlanjur masukkin Acoustic Life ke dalam rak “currently reading”, jadi ya sudahlah yaa.. hehehe

4 bintang buat Acoustic Life yang masih belum mampu bisa kubeli.

Senin, 09 Februari 2015

French Pink

Judul : French Pink
Penulis : Prisca Primasari
Penerbit : Grasindo
Halaman : 74
Tahun : 2014


Buku ini nggak sengaja kutemukan pas muter-muter Gramedia tanpa tahu buku apa yang pengen aku beli (timbunan udah ludesss :D). Diantara banyak buku, French Pink nyempil dipojokkan. Segera saja kuambil karena sebelumnya aku udah baca resensi buku ini di Taste Life Twice terlebih rating di Goodreads cukup bagus, ya udah beli aja deh mumpung punya voucher Gramedia.



Alhamdulillah nggak nyesal beli buku super tipis ini karena disamping hardcover, ada ilustrasinya, ceritanya juga bagus banget. Unsur-unsur Jejepangan bikin aku tambah suka karena dari dulu suka sama segala hal yang berhubungan sama Jepang. Pemilihan lokasi di Jepang ini karena mbak Prisca pengen sekalian merekam perjalanan dia pas di Jepang. Selama membaca aku ikut merasakan suasana pertokoan, café dan stasiun kereta sambil berharap buku ini akan dibikin dorama yang mirip seperti Pan To Soup To Neko Biyori.

Disini kita diajak untuk berkenalan sama Hitomi yang punya toko pita Sweet Ribbons di distrik Jiyugouka. Terus, di buku ini juga muncul beberapa istilah tentang warna seperti French Pink (warna kesukaanku!) dan English Lavender. Nah Hitomi ini kan jualan pita, tapi dia sendiri sekarang linglung kalo ada orang yang minta pilihkan warna pita sama dia -_-. Tampaknya Hitomi sedang mengalami stres berat.

Selain Hitomi, ada satu orang lagi yang jadi tokoh dalam novella ini yaitu Hane. Ia adalah sosok asing yang dianggap Hitomi sebagai shinigami, semacam dewa kematiannya orang Jepang. Hane inilah yang bikin penasaran. Sifatnya juga rada nyebelin, bisa dibilang jahil sih. Tapiiii setelah tahu siapa Hane sebenarnya, duh, perasaan jadi campur aduk antara kaget dan terharu.

Ide si penulis menyandingkan warna-warna lembut dengan kematian pada buku ini terasa kontradiktif (dalam artian positif). Biasanya kan kematian cenderung sama warna-warna gelap seperti coklat atau hitam. Hitomi, please jangan mati yaaaa :')



Setelah selesai sama French Pink, aku kehabisan buku bacaan lagi, hiks. Ada yang mau ngasih aku buku mungkin? :p