Kamis, 30 Januari 2014

Remember When (Santa, mengakulah!)

Judul : Remember When
Penulis : Winna Efendi
Penerbit : Gagasmedia
Tahun : 2013 (cetakan kesembilan)
Halaman : viii + 252
Rating : 4/5 bintang


Aku sempat beberapa kali mengelus-elus Remember When di toko buku, tapi tidak aku beli. Sampai akhirnya Desember lalu aku ke toko buku dan mau beli buku ini tapi sudah nggak ada lagi. Rupanya santa bisa membaca pikiranku, makanya dia kasih buku ini sebagai kado (dan dua buku lainnya).

Sejak baca Refrain yang jadi kado #UnforgotTen Gagasmedia, aku ngefans sama Winna Efendi. Winna bisa membuat cerita yang romantis dan manis, padahal tema yang dia ambil sudah banyak dipasaran. Sama seperti Remember When yang mengambil tema suka sama pacar sahabat, sudah sering kan kita dengar/baca? Lalu, kenapa Remember When bisa begitu disukai dan katanya sih bakal difilmkan?

Dilihat dari sudut pandang, jelas Remember When adalah novel yang unik karena diceritakan secara bergantian dari empat orang yaitu Freya, Moses, Anggia, dan Adrian. Mereka berempat adalah sahabat dengan sifat yang bertolak belakang. Freya yang berpacaran dengan Moses punya sifat yang sama yaitu pendiam, kutu buku, pintar, cenderung kaku. Anggia yang berpacaran dengan Adrian adalah tipe cewek-cowok populer yang jago main basket, kaya, cantik-ganteng. Anehnya, mereka berempat bisa bersahabat.

Seperti hukum alam yang mengatakan kalau dua kutub yang berbeda itu tarik menarik, inilah yang terjadi dalam persahabatan mereka berempat. Biarpun masing-masing sudah berpacaran, muncul ketertarikan antara Adrian dengan Freya dan sebaliknya. Adrian mulai merasa jenuh dengan Anggia, padahal kan mereka sama-sama cakep, kaya, populer, pasangan serasi deh. Nah kan, berarti nggak enak kalau pacaran sama yang sifat dan segalanya mirip banget sama kita, hehehe…

Baca Remember When mengajak aku untuk nostalgia lagi ke masa SMA: jatuh cinta, memikirkan cita-cita, berantem dengan sahabat, masalah keluarga. Semuanya dikemas dalam satu novel ini dengan gaya penceritaan khas Winna Efendi yang bikin aku pengen balik ke SMA (kata orang masa-masa paling indah). Pokoknya aku nyesal nggak beli buku ini dari dulu-dulu, tapi makasih banget buat Santa yang sudah ngasih Remember When. Sekarang, saatnya aku menebak siapa sih santa?
***
Postingan ini telat satu hari karena kemarin aku sama sekali nggak bisa menebak siapa santaku. Petunjuknya ‘cuma’ foto tanpa kata-kata apapun. Oke, dengan sedikit bantuan dari Sherlock aku akan coba analisis.

Paket buku dikirim menggunakan Wahana, bukan Tiki/JNE kemungkinan santa berasal dari kabupaten karena mengirim melalui Wahana ke Banjarmasin lebih murah.

Santa menyukai Supernova (Partikel) Dee Lestari, karena difoto ada buku tersebut. Aku cek di Goodreads siapa yang ngasih rating tinggi (4-5) buat buku itu.


Petunjuk yang ketiga ini bisa dibilang cheating sih, aku baca dipostingan Oky kalau yang telat ngirim kado adalah Widy dan Ndari. Kayaknya santaku bukan Ndari jadi aku asumsikan santaku Widy. Lalu aku cari di blog BBI dan nemu satu blog yang ada nama ‘widy’ nya. Terus aku cek di GR, Widy ini ngasih 5 bintang buat Partikel. Nah, masalahnya di foto nggak pakai jilbab tapi di GR dia pakai jilbab. Benar nggak sih, santaku kamu, Widy? Ayo mengakulah…

Riddle post bisa dibaca disini

Senin, 27 Januari 2014

Posbar BBI : Samudra di Ujung Jalan Setapak

Judul : Samudra di Ujung Jalan Setapak
Penulis : Neil Gaiman
Penerbit  : Gramedia
Tahun : 2013
Halaman : 264
Rating : 3/5 bintang


Setelah beberapa tahun menjadi anggota BBI, aku bisa ikutan posbar untuk pertama kalinya, yeh yeh yeh. Terimakasih untuk ide bikin kalender BBI, jadi aku bisa tahu kapan jadwal posbar sehingga bisa menyiapkan buku dan resensinya.

Buku yang aku ikutkan untuk posbar dengan tema fabel ini adalah bukunya Neil Gaiman yang menang Goodreads Choice Awards 2013 untuk genre fantasi. Aku sempat bingung fabel itu seperti apa sih? Setahuku fabel itu cerita dengan tokoh binatang yang bertingkah laku seperti manusia (kayak yang kita pelajari pas mata pelajaran Bahasa Indonesia dulu). Di lemariku nggak ada cerita seperti kancil dan buaya dan segala buku dongeng dengan tokoh hewan, jadi aku mention Bebi di twitter. Bebi ngasih aku link GR contoh buku-buku fabel (yang ternyata bukan hanya cerita tentang binatang), oalah ternyata aku punya beberapa buku yang dimaksud.

Ditulis menggunakan sudut pandang anak-anak, tapi buku ini kurang cocok dibaca oleh anak. Ada adegan ehm ehm (sensor) yang walaupun tidak dijelaskan secara gamblang tapi bisa bikin anak-anak penasaran, oke aku simpulkan ini novel dewasa. Si anak laki-laki ini yang tidak diketahui namanya ini berusia tujuh tahun, sifatnya rada mirip sama Charlie di The Perks of Being Wallflower. Anaknya tertutup, rada aneh, dan tidak menyukai keramaian.

Aku tertarik untuk membaca buku ini karena penasaran, kenapa bisa ada samudra di ujung jalan setapak? Bayangkan saja di dekat rumah masa kecil kalian ada sebuah samudra. Kebanyakan orang mungkin tidak percaya, apalagi kalau disana ada seorang nenek yang tidak pernah menjadi tua walaupun terakhir kali kalian bertemu adalah puluhan tahun yang lalu. Nenek tersebut bisa menggunting dan menjahit ulang segala kejadian dalam hidup, sangat ajaib. Namanya juga fantasi ya, aku aja langsung merinding saat ada cacing yang masuk kedalam kaki si anak laki-laki sehingga cacing itu mengacaukan kehidupannya. Untunglah ada Mrs Hempstock Tua, Mrs. Hempstock dan Lettie yang bisa menyelamatkan si anak laki-laki ini.

Banyak yang bilang keahlian Neil Gaiman menulis novel fantasi sudah tidak diragukan lagi. Aku sih setuju-setuju aja dengan pendapat tersebut. Beberapa kali aku dibikin cengo, nggak nyangka Neil Gaiman bisa punya imajinasi sehebat ini. Bahkan beberapa saat aku sempat takut melihat kain rombeng gara-gara membayangkan Ursula Monkton.

Buku ini sudah lama aku baca, lebih dari sebulan yang lalu sehingga agak-agak lupa dengan detail ceritanya. Sejauh yang aku ingat, aku suka sama sampulnya, judulnya yang keren, dan kritikan si anak laki-laki terhadap orang dewasa. Menjalani hidup dengan sudut pandang anak-anak itu menyenangkan, hehe.

Selasa, 21 Januari 2014

Beauty Sleep

Judul               : Beauty Sleep
Penulis             : Amanda Inez
Penerbit           : Gagasmedia
Halaman          : viii + 224
Tahun              : 2013
Rating             : 4/5 bintang
18052202
Tuan Putri,
Kita berasal dari tempat yang berbeda
Aku berasal dari Amerika
Sementara dirimu gadis Indonesia
Penyuka bunga matahari
Kita dipertemukan oleh surat-surat dan kartupos
Dari ibumu yang berhasil diselamatkan
Dari sebuah kantor pos yag terbakar
Setelah itu, hari-hari kita lebih berwarna
Meski matamu hanya melihat kegelapan
Namun kini,
Aku bahkan tak bisa melihatmu tersenyum
Dirimu disekap tidur panjang
Tanpa tahu kapan akan membuka mata
Aku merindukanmu, Putri
Kumohon, bangunlah!

Dongeng tentang putri tidur ternyata tidak hanya bisa dinikmati dari cerita klasik zaman dulu. Melalui imajinasinya, Amanda Inez menulis novel ini dalam waktu lima hari saja. Sempat nggak percaya juga kalau novel ini bukan genre favorit penulisnya sendiri yang lebih menyukai fantasi.

Sudut pandang dalam novel ini berasal dari orang kedua. Jarang ada novel yang menggunakan sudut pandang ini. Seru membaca cerita tentang Tuan Putri yang diceritakan dari sudut pandang si bodoh. Seolah-olah si bodoh berbicara langsung kepada Tuan Putri yang tidak bisa bangun lagi. 

Si bodoh bercerita kepada Tuan Putri melalui tulisan agar Tuan Putri bisa mengetahui semua tentang si bodoh, latar belakang kehidupannya sampai kisah pertemuan mereka yang unik. Si bodoh berharap nanti saat Tuan Putri terbangun, ia akan membaca tulisan itu. So sweet.

Misteri yang aku coba pecahkan saat membaca novel ini adalah mengapa Tuan Putri terus tertidur. Kalau didalam dongeng kan, Putri tidur karena kena jarum dan baru bisa bangun saat dicium Pangeran, lah sedangkan Si bodoh jauh sekali dari sosok pangeran. Walaupun idenya mirip dengan Putri Tidur atau Sleeping Beauty, konflik serta penyelesaian masalahnya sangat berbeda.

Si bodoh tidak ada membicarakan perasaannya terhadap Tuan Putri, tidak ada kata-kata cinta, sayang, blablabla tapi kita bisa merasakan kalau si bodoh sangat ingin melindungi Tuan Putri. Cinta memang seharusnya ditunjukkan melalui tindakan. Tuan Putri pasti gadis yang sangat spesial karena ada orang yang tulus mencintainya padahal ia sendiri tidak bisa bangun dari tempat tidurnya.

Selain bercerita tentang Si bodoh dan Tuan Putri, unsur religinya lumayan kuat. Tuan Putri diceritakan sebagai gadis yang taat, ia sering berdoa di gereja ditemani Si bodoh. Si bodoh yang hidupnya mulai menjauh dari agama sebenarnya juga berasal dari pendidikan agama yang kuat, hasil didikan dari para suster. Memasukkan unsur keagamaan seperti ini mirip seperti novel-novelnya Stephanie Zen.

Secara keseluruhan novel ini sudah sangat bagus, baik dari segi tulisan, cerita, sampai packaging-nya. Diakhir cerita juga pembaca dikasih ‘kejutan’ berupa nama sebenarnya dari Si bodoh dan Tuan Putri. Aku cuma kurang suka pas masuk bab terakhir, nggak terima kalau akhirnya (sebelum epilog) seperti itu. Seperti apa maksudnya? Daripada spoiler, mending baca sendiri deh. Jangan lupa kunjungi penulis yang sekarang kuliah di Kanada ini melalui AmandaInez.com atau @AmandaInezz.

Senin, 20 Januari 2014

Laporan Seminar Bersama Tere Liye (15 Desember 2013)

Lagi-lagi laporan postingan ini telat banget baru ditulis. Seminar menulis bersama Tere Liye ini aku ikuti pada tanggal 15 Desember 2013 di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Tere Liye adalah penulis ketiga yang diundang sebagai pembicara oleh organisasi Hippocampus. Setiap tahun Hippocampus mengundang penulis untuk memberikan motivasi menulis. Sewaktu masih jadi anggota Hippocampus, aku sempat jadi panitia untuk mengundang Raditya Dika *heuu pamer gitu ceritanya.

Salah satu penulis cowok Indonesia favoritku adalah Tere Liye (sudah sering banget aku bilang, hehe). Aku bawa sekitar 7 buku untuk ditandatangani beliau, berharap bisa sekalian foto bareng *ini sih udah ketebak banget. Ternyata Tere Liye begitu datang-tanda tangan-ngasih seminar-langsung pulang.



Buat yang penasaran, seminarnya membahas apa sih, berikut poin-poin yang beliau sampaikan saat seminar :

Beliau sudah menulis sejak berusia 9 tahun, ini berarti karir menulis beliau sudah 25 tahun. Menurut beliau, menulis tidak bisa dipelajari tapi harus ditumbuhkan.

Sambil memberikan seminar, beliau saaaangat suka menyelipkan dongeng dan cerita (mirip seperti yang biasa beliau tuliskan di status facebooknya). Cara Tere Liye bercerita itu benar-benar mirip pendongeng. Menurut beliau, nasehat itu lebih mudah disampaikan dan dicerna lewat cerita dan dongeng.

 Apa yang harus ditulis? Bagaimana menulis sesuatu itu agar menarik dan bermanfaat?
1. Topik tulisan bisa apa saja, tapi penulis yang baik selalu punya sudut pandang spesial
2. Menulis membutuhkan amunisi, tidak punya amunisi, tidak akan pernah menjadi sebuah tulisan. Amunisi tersebut bisa didapat dengan banyak membaca, mengamati, mendengarkan, mencatat, dan memperhatikan.
3. Kalimat pertama itu mudah, gaya bahasa adalah kebiasaan, menyelesaikannya lebih gampang lagi. Beliau menjelaskan bahwa jika kebingungan untuk menyelesaikan tulisan, tulis saja *tamat*
4. Ala karena terbiasa. Menulis itu karena terbiasa.

Tere Liye sempat bercerita kalau ia sering berada di toko buku, di bus maupun kereta tapi orang-orang tidak tahu bahwa ia adalah Tere Liye. Bahkan ia sempat melihat orang membaca bukunya, tanpa tahu bahwa penulisnya ada dihadapannya, hihi..

Ada yang pernah datang ke seminar Tere Liye juga? Bagi ilmunya dooong : )

Secret Santa 2013 : Riddle Post

Santa datang!

Sudah lama ditunggu-tunggu, iri melihat yang lain bikin postingan tentang buku yang dia dapat dari santa, sampai juga giliranku untuk dapat kado! Katanya kemarin santa masih sibuk, jadi ngirimnya rada telat. Aku sempat cemas kalau-kalau santa ngasih buku yang sudah aku punya, karena ada beberapa wishlist yang aku beli karena lagi diskon. Eh nggak tahunya santa ngasih aku tiga buku (iya, TIGA!) dan semuanya belum aku punya *kecup santa. Buku-buku tersebut adalah :


Autumn Once More – Ilana Tan, Alea Zalea, Ika Natassa, dkk
Remember When – Winna Efendi
Promises Promises – Dahlian

Siapakah santa yang baik hati ini? Saat aku membuka kado buku, tidak ada satupun petunjuk tentang sosoknya. Maka aku tanya melalui Oky (@okeyzz) apakah santa kelupaan untuk memberi riddle? Kata santa (melalui Oky) harusnya ada gambar yang bisa mengungkapkan identitas santa yang sebenarnya. Mungkin gambar tersebut hilang dalam perjalanan dari kutub utara, hiks. Jadi gambar tersebut dikirim ulang ke emailku :


Aku sama sekali tidak tahu foto siapa ini (ada yang mau ngasih bocoran? :p). Petunjuk dari foto tersebut nya adalah buku Supernova-Dee Lestari, rambut hitam panjang, dan berkacamata. Ini siapa yaa? Hadeuh, aku belum pernah liat fotonya. Ya udah, selama beberapa hari ini aku mau semedi dulu biar dapat ilham mengenai santa yang cantik ini.

Sabtu, 04 Januari 2014

Receh Untuk Buku 2014 + Postingan Rangkuman

Alhamdulillah, tahun 2013 lalu berhasil menyelesaikan tantangan Receh For Books. Mulai tahun 2014, namanya sudah di Indonesiakan jadi Receh Untuk Buku J Semoga tidak terdengar aneh yaa.. hehe.. Wrap Up Post pun aku ganti jadi Postingan Rangkuman.

Selama 2013, receh yang aku kumpulkan berjumlah 125.900 rupiah. Jumlah ini lebih banyak dari tahun lalu yang hanya 96.000 rupiah, artinya dari tahun ke tahun semakin ada peningkatan, yuhuu. Kalau tahun lalu beli satu buku, sekarang beli dua.

Buku yang aku beli dari hasil menabung receh ini adalah : Hafalan Sholat Delisa seharga 53.000 rupiah dan Eleanor dan Park seharga 69.000 rupiah. Totalnya adalah 122.000 rupiah, sisa uang yang ada aku masukkan lagi ke dalam celengan untuk tahun 2014.

Alasan aku membeli dua buku tersebut adalah :
1. Hafalan Sholat Delisa


Mengoleksi semua buku Tere Liye adalah salah satu keinginanku untuk tahun 2014 ini. Saat ini aku baru punya 8 buku termasuk Hafalan Sholat Delisa (total sudah 10 buku yang sudah aku baca termasuk pinjam). Sebenarnya buku ini diskon 30% kalau beli di Republika pas tanggal 26 Desember lalu, tapi karena cuma buku ini yang diskon, aku memilih untuk membeli di Gramedia aja.

2. Eleanor dan Park


Buku yang jadi pemenang YA Goodreads 2013 ini sudah aku baca bab I nya lewat ebook illegal. Berhubung hardcovernya muahal, jadi aku beli terjemahan. Semoga terjemahannya nggak jelek!

Untuk yang mau ikut tantangan ini, peraturannya masih sama dengan tahun lalu :
Kumpulkan uang receh dari Januari-Desember
Jangan dihitung sampai akhir tahun 2014
Setelah semua uang terkumpul, belikan buku yang kamu inginkan/bukunya dihadiahkan ke orang lain
Kalau mau ikut, bikin posting mengenai challenge ini di blog masing-masing (tidak harus blog buku) kemudian masukkan link dari postingan kamu di mr.linky
Pasang banner Receh Untuk Buku


Kalau ada pertanyaan, silahkan isi di kolom komentar juga ya…
Buat yang tahun lalu ikutan challenge ini, ditunggu postingannya ya! Kalau sudah diposting, tinggalkan tautan di kolom komentar!
Selamat Membaca dan Menabung!

Rabu, 01 Januari 2014

Virtual Book Tour Horror : Danur

Judul               : Danur
Penulis             : Risa Saraswati
Penerbit           : Bukune
Tahun              : 2011




Tulisan teh Risa yang pertama aku baca adalah Maddah (bukan terbitan Bukune), buku kedua dari Danur. Waktu itu aku dapat Maddah hadiah dari giveaway yang diadakan Fca. Dari Maddah, aku berkenalan dengan Peter dan kawan-kawan yang membuatku suka dengan para hantu Belanda ini. Setelah membaca Maddah, aku penasaran dan langsung memasukkan Danur sebagai wishlistku. Beberapa kali aku cek di toko buku baik offline maupun online, stok buku ini sudah kosong. Tahun terbitnya memang sudah lama, tahun 2011 sehingga bisa dikatakan buku ini sudah susah dicari di pasaran.

Seharusnya resensi ini aku tulis kemarin dalam rangkaian Virtual Book Tour Horror, tapi kemarin aku baru selesai baca dan setelah itu lupa untuk bikin resensinya -_- Malam tahun baru aku tidurnya cepat, itupun kebangun gara-gara mati lampu pas jam 12, pas bangun baru sadar sudah tanggal 1 dan belum bikin resensi Danur!

Dalam buku ini kita akan berkenalan dengan tokoh Risa yang bisa melihat mahluk halus atau bisa kita sebut hantu. Banyak hantu yang berkenalan dengan Risa, seperti kuntilanak dan pocong serta hantu dengan wujud mengerikan lainnya tapi Risa hanya berteman dengan lima hantu cilik yang seumur dengannya. Perbedaan Maddah dan Danur, kalau di Danur ini cerita tentang bagaimana Risa kecil berkenalan dengan Peter, Hans, Janshen, Hendrik dan William. Mereka berlima adalah anak-anak Belanda yang menjadi penunggu di rumah nenek Risa.
Risa sudah biasa dianggap sebagai anak yang aneh karena kemampuannya itu. Malahan Risa lebih nyaman untuk bersahabat dengan Peter dan kawan-kawannya dibandingkan dengan manusia. Aku menanggap cerita ini adalah cerita nyata karena penulisnya mempunyai nama yang sama dengan si tokoh Risa. Kegiatan Risa Saraswati sebagai penyanyi juga sama dengan Risa, ia juga menciptakan lagu berjudul Story of Peter. Mungkin ada yang akan menganggap cerita ini berlebihan jika harus dianggap sebagai kisah nyata, tapi sebenarnya Risa bukan sekadar ‘pamer’ karena ia bisa melihat hantu tapi ia ingin menyampaikan sesuatu lewat cerita para hantu yang mati dengan cara mengenaskan.

Buku ini bisa dibaca sama yang penakut maupun pemberani, hehe, karena memang ceritanya tidak menakut-nakuti. Ada beberapa yang lucu dan bahkan sedih sekali. Bagian yang lucu ketika Risa bercakap-cakap dengan Peter dan teman-temannya. Mereka saling mengolok-olok ‘Risa Jelek, Risa gendut’, atau ‘Janshen si ompong’, hihihi…Kalau yang sedih itu ketika para hantu mendatangi Risa untuk menceritakan kisah mereka, kenapa mereka sampai mati, dan kenapa mereka masih bertahan di dua dunia.


Aku kasih 4 bintang buat Danur, jarang ada buku dengan tema horor tapi tidak menakut-nakuti. Suka banget!