Kamis, 24 April 2014

Serial Anak-Anak Mamak (Burlian, Pukat, Eliana)

Sebelumnya, aku mau ngucapin Selamat Hari Buku Sedunia tanggal 23 April lalu.



Minggu ketiga April ini aku habiskan dengan membaca serial anak-anak Mamak #2 Burlian, #3 Pukat dan #4 Eliana. Masih kurang satu buku lagi yang belum aku baca (dan beli) yaitu Amelia, si bungsu yang akan menutup semua cerita. Keempat buku ini bukan sebuah tetralogi sehingga bisa dibaca secara terpisah tapi sebagai serial tentunya ada cerita yang saling berhubungan antara satu buku dengan buku lainnya. Buat yang belum membaca serial ini atau hanya membaca salah satunya, tenang saja aku tidak akan memberikan spoiler.

Aku tidak akan membandingkan buku mana yang lebih bagus karena semuanya aku kasih 4 bintang. Buku yang aku beli second di @Bukusecond_Bdg ini adalah cetakan pertama dari Republika sehingga sampulnya berbeda dengan yang bisa kita temukan saat ini di toko buku, kekurangan lainnya juga adalah masih banyak kesalahan penulisan yang bisa ditemukan.

Burlian adalah anak ketiga Mamak, ia kebagian menjadi buku #2. Si anak spesial ini awalnya aku sangka adalah anak perempuan sampai dihalaman 250-an baru aku sadar kalau dia adalah anak laki-laki. Salah sendiri juga sih sok tahu mengartikan kalau Burlian adalah berlian (dan aku pikir itu nama anak perempuan).

Selanjutnya, di buku #3 ada Pukat, kakaknya Burlian. Dia dan Burlian sangat dekat karena mereka berdua sama anak laki-laki. Kemana Pukat pergi (bermain, melakukan kenakalan, dsb) pasti ada Burlian. Berbeda dengan Burlian yang spesial, Pukat adalah si anak pintar yang sok tahu.

Di buku #4 yaitu Eliana si anak sulung yang pemberani. Tingkahnya seperti kak Rose (Upin-Ipin). Galak, cerewet, tukang cubit, tapi tidak takut pada apapun. Mamak dan Bapak memang tidak mengajarkan rasa takut kepada anak-anak ini kecuali takut berbohong dan menghilangkan kehormatan diri.

“Adik kau benar, Eli. Bapak tahu kau marah karena dituduh mencuri. Tetapi jangan sampai kebencian kau pada seseorang membuat kau berlaku tidak adil padanya.”

Kehidupan yang sederhana dari ketiga anak ini sangat seru. Burlian, Pukat dan Eliana masing-masing memiliki petualangannya sendiri bersama kameradnya. Saat membaca serial anak Mamak kita diajak untuk mencintai hutan dan alam seperti tahap membuka hutan sampai panen beras berhasil dan bertemu dengan rusa bertanduk.

Mengenai pendidikan, sekolah di kampung terpencil itu hanya mempunyai seorang guru honorer, Pak Bin yang sudah mengajar selama 25 tahun. Hampir semua penduduk kampung pernah diajarnya. Cara mengajar Pak Bin sangat menarik sehingga anak-anak nakal di kampung itu bisa berubah menjadi rajin. Pak Bin bahkan rela setiap malam berkunjung ke rumah seorang anak yang mau putus sekolah agar kembali meneruskan pendidikannya. Duh, guru kayak Pak Bin ini yang seharusnya segera diangkat jadi PNS.

Semua kebaikan hati yang dimiliki oleh Burlian, Pukat, dan Eliana tentu saja berkat didikan penuh disiplin dari Mamak dan nasehat lembut dari Bapak. Dua orangtua hebat yang menghasilkan anak-anak hebat. Nah, pengaruh lingkungan ternyata luar biasa terhadap perkembangan seorang anak.


Jangan pernah membenci Mamak kau. Karena kalau kau tahu sedikit saja apa yang telah Mamak kau lakukan untuk kau, Burlian, Pukat dan Amelia, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta kasih sayangnya pada kalian.”

1 komentar:

  1. permisi mau tanya?
    kalo mau beli buku itu lagi dimana yaa :)
    soalnya pengin punya koleksinya, mohon infonya

    BalasHapus