Kamis, 13 Maret 2014

Lomba Review Miss Bento

Judul : Miss Bento
Penulis Erlita P.
Penerbit : Grasindo
Tahun : 2013
Halaman : 185
Rating : 4/5 bintang


Sakura Ayu Maharani, biasa dipanggil Saku. Anak Kuliahan. Nggak bisa masak. Bercita-cita pergi ke Jepang.

Biodata singkat Saku diatas pasti sering kita temui, entah itu teman kita atau bahkan diri kita sendiri. Banyak orang Indonesia yang tergila-gila Jepang dan ingin mengunjungi negara tersebut. Tidak hanya Saku, aku juga punya keinginan yang sama. Jadi ketika aku membaca tweet dari @lucktygs tentang Takoyaki Soulmate, aku langsung memasukkannya kedalam wishlist to-buy. Takoyaki Soulmate adalah buku yang juga bercerita tentang seorang gadis dan makanan Jepang. Setelah aku dengar kalau akan ada buku selanjutnya dari Erlita P. tentang makanan Jepang yaitu Miss Bento, aku langsung beli.

Ciri khas novel Miss Bento adalah dilengkapi dengan foto-foto masakan beserta sumber foto tersebut, sehingga nggak bingung untuk membayangkan makanan seperti apa yang dibuat oleh Saku. Sayangnya foto ini tidak berwarna, kalau berwarna pasti jadi makin cantik. Tidak ketinggalan resep masakan yang mudah untuk diikuti oleh pembaca, misalnya resep Okonomiyaki.

Bento (source)

Perbedaan Takoyaki Soulmate dan Miss Bento sulit untuk ditemukan, ya namanya juga penulis dan penerbitnya sama. Paling-paling bedanya selain di jalan cerita, ada di judul tiap bab. Kalau di Takoyaki Soulmate judul bab nya pakai nama masakan Jepang (Takoyaki Soulmate, Okonomiyaki For Two, It's Just Dorayaki), kalau di Miss Bento judulnya pakai bahasa Inggris tanpa embel-embel makanan (The Dreams Begins, Small Step, Another Step).

Miss Bento bercerita tentang Saku yang mau menabung biar bisa jalan-jalan ke Jepang. Secara dia masih mahasiswi, dia putar otak gimana caranya biar dapat uang tambahan. Nah, pas dia ketemu bapak-bapak di commuterline, dia dapat inspirasi untuk berjualan bento. Perjuangan Saku pun dimulai. Ia ikut kursus membuat bento, belajar bikin bento sendiri di rumah, sampai pesanan mulai berdatangan. Tidak lupa ada sedikit bumbu-bumbu percintaan, biar nggak bosan. Konflik yang dibangun di novel ini sangat sederhana, bahkan cenderung datar-datar saja. Kalau suka novel yang konfliknya heboh, menguras emosi bahkan air mata, kayaknya nggak terlalu cocok dengan buku ini.

Novel ini menggunakan POV orang pertama, sehingga adegan didominasi oleh percakapan. Percakapan antar tokoh tidak dibuat-buat, persis seperti percakapan sehari-hari, penuh bahasa gaul khas ABG. Karakter Saku yang ceria menambah semangat pembaca untuk membaca Miss Bento sampai akhir.

Sebagai penggemar budaya Jepang khususnya makanannya, aku sudah lama menantikan ada novel seperti ini. Jujur saja, Takoyaki Soulmate dan Miss Bento adalah novel favoritku bahkan sebelum aku membacanya (yaa aku punya feeling kuat bakal suka dua novel ini). Biasanya cerita tentang makanan yang digabung dengan kecintaan pada Jepang hanya ada di komik-komik Jepang, tapi sekarang ada novel Indonesia dengan tema makanan Jepang sebagai tema utama, aku sangat bersyukur. Bahkan aku mulai menulis novel tentang Jepang juga (sebut saja aku suka ikut-ikutan, hehehe).

Takoyaki Soulmate atau Miss Bento? Aku suka keduanya!

***
Review ini disertakan dalam Lomba Review Miss Bento 

2 komentar:

  1. Konon, katanya ada beberapa lagi novel Mbak Erlita yang berhubungan dengan makanan Jepang loh, kita tunggu aja... ;)

    BalasHapus
  2. hai maya... salam kenal yah ^^

    BalasHapus