Rabu, 24 Juli 2013

[UnforgotTen] Coba Tunjuk Satu Bintang

Judul : Coba Tunjuk Satu Bintang
Penulis : Sefryana Khairil
Penerbit : Gagasmedia
Tahun : 2013
Halaman : 208


Adakah Tuhan sedang memberi jeda untuk kita atau memang tak ada nama kau dan aku dalam takdir-Nya?

Rencana Dio dan Marsya untuk menikah terpaksa dibatalkan karena Dio lebih memilih untuk mengejar mimpinya di Hamburg. Impian untuk menikah terpaksa Marsya kubur dalam-dalam. Toh Dio lebih memilih mimpinya daripada dia.

“Semua ini percuma, Yo..Mimpi kamu jauh lebih berarti daripada apa yang udah kamu miliki.”

Selama tiga tahun Dio pergi, dalam novel ini tidak diberitahukan dengan jelas apa mimpi Dio, apa pekerjaan dia di Hamburg. Lagian, kalau mau kerja di luar negeri kan, bisa nikah dulu sama Marsya, terus Marsyanya diboyong ke Jerman. Kalau benar-benar cinta, Marsya pasti mau lah diajak kesana *sotoy.

Di bab ketiga, Marsya pamitan sama mamanya pengen ke suatu tempat. Kesannya pengen pergi yang jauuuh banget, atau lagi mau ngelakuin sesuatu yang besar.

“Kamu sudah siap berangkat, Sya?”
“Sudah, Bu”
“Memangnya kamu harus pergi, Sya?”
“Ini yang terbaik, Bu.”
Kirain mau kemana, ternyata dia cuma mau pergi ke pantai sebentar, krik..krik..

Nama Sefryana Khairil membuatku memberikan ekspektasi yang besar terhadap buku terbarunya ini. Kemudian saat aku melihat resensi dari teman-teman blogger maupun GR, kok banyak yang bilang buku ini mengecewakan.

Aku semakin penasaran, jadi aku buktikan sendiri dengan membaca bukunya tentunya. Reaksi pertamaku saat membolak-balik halamannya adalah kaget karena ada gambar bulan dengan berbagai fase di setiap babnya. Aku dulu sempat fobia gambar benda langit, termasuk bulan. Tapi kalau kamu suka benda-benda langit, bintang, dan sebangsanya, desain novel ini cantik banget.

Pada novel-novelnya sebelumnya, aku selalu memberikan 4 bintang. Selain karena ceritanya yang menarik, aku suka dengan cara Sefryana Khairil menggambarkan emosi tokoh-tokohnya. Hal ini tidak aku dapatkan dalam novel terbarunya, Coba Tunjuk Satu Bintang.

Novel ini bisa selesai dibaca dengan cepat. Halamannya tipis dengan huruf yang besar. Jalan ceritanya juga sangat cepat. Aku merasa novel ini terlalu datar, padahal biasanya Sefryana Khairil tulisannya nggak seperti ini L Setelah selesai membaca aku jadi mikir kok gini aja? Apa jangan-jangan novel ini belum selesai ditulis?

Tokoh utama dalam novel ini tidak memberi ikatan emosi dalam hatiku, karena setting yang sering melompat-lompat jadi banyak yang kesannya belum tuntas. Seandainya halamannya bisa lebih panjang lagi…

Kalimat yang janggal ada di halaman 81, saat Rama memesan secangkir espresso. Beberapa detik kemudian espresso itu sudah ada di hadapannya. Secepat itu kah memesan minuman di sebuah kafe? Kenapa nggak beberapa menit, misalnya?

Kemudian di halaman 95 ada kalimat medan wall salah satu membuat mereka takjub berhadapan dengan sebuah dinding raksasa bawah laut. Salah satu apa maksudnya?

Terakhir ada satu typo di halaman 110 Marsya menatap Dio denga tajam.

Maaf ya, aku cuma bisa kasih 1,5 bintang, karena ceritanya kurang sesuai dengan harapanku. Tapi covernya manis, juga ide untuk memasukkan kisah tentang rasi bintang untuk menjadikan ciri khas dalam novel ini oke banget. Saranku, ceritanya kalau bisa lebih panjang dan diperdalam lagi, soalnya banyak yang belum tuntas, biar nggak ada kesan maksa.. hehe.

Minggu, 21 Juli 2013

Titik Nol

Judul : Titik Nol
Penulis : Agustinus Wibowo
Tahun : 2013
Penerbit : Gramedia
Halaman :  xii + 556


Aku tak tahu istilah yang tepat untuk perjalanan seperti ini. Turis? Jangan pernah panggil kami turis. Traveler? Hari gini semua orang juga ngaku traveler. Pengeliling dunia? Ah rasanya tidak sebegitunya. Perambah jagat? Ah itu apalagi. Eksplorer? Tak usahlah misi-misi ekspedisi itu. Intrepid traveler? Kedengarannya sok tahu banget. Pengembara? Musafir? Globetrotter? Modern Hippie? Modern nomad? Hardcore traveler? Ah, lupakan semua label itu.

Cukup lama aku menyelesaikan membaca buku ini, dua bulan lebih beberapa hari. Halamannya yang cukup tebal membuat aku kadang malas untuk meneruskan. Pada bab-bab awal aku sempat kecewa membeli buku ini. Tidak seperti buku traveling kebanyakan yang membahas uang yang dikeluarkan selama jalan-jalan, tempat yang wajib dikunjungi, harus menginap di hotel mana, sampai buku yang mengupas jalan-jalan ala backpacker dengan harga termurah. Buku ini sama sekali tidak membahas hal-hal seperti itu.

Perjalanan yang ditempuh Ming alias Agustinus berawal di Beijing. Ia dilepas kedua orangtuanya dari kampung halamannya di Lumajang untuk kuliah di Beijing. Besar harapan kedua orangtuanya agar Ming menjadi “orang”. Tetapi setelah lulus S1 ia malah memilih untuk menjadi musafir, berkeliling dunia lewat jalan darat. Papanya kecewa karena Ming menolak beasiswa S2 dan karier dengan gaji tinggi.

Mereka tampaknya membiarkanku mencicip kehidupan jalanan, dan tentu mereka berharap suatu hari nanti aku kembali “ke jalan yang benar”, seperti layaknya “orang normal”.

Dari titik nol  di Beijing inilah aku menepuk dada. Aku memang bukan siapa-siapa, dan tak akan pernah menjadi siapa-siapa. Dari titik nol ini aku memandang tujuan akhir di awang-awang.

Sampai di bagian Beijing, Tibet, Himalaya, aku bosan. Aku kurang bisa menghayati perjalanan spiritual yang ditempuh dengan mengelilingi gunung-gunung di Tibet. Jujur sih, aku kaget karena buku ini membahas negara-negara Asia, terutama negara-negara yang “jarang” di ekspos dalam sebuah buku traveling. Jadi dibagian sini aku selow banget bacanya, bahkan sampai satu bulanan nggak maju-maju.

Baru setelah Ming melanjutkan perjalanan ke India aku mulai bisa masuk ke dalam buku dan cara Ming bercerita perjalanannya. Wow.. India memang dikenal kumuh tapi aku tidak tahu bahwa India sekejam itu. Ming begitu mendetail mengupas tentang India membuatku ngeri sendiri membayangkan kalau aku harus kesana. Di India juga Ming mengalami pelecehan yang dilakukan oleh sesama laki-laki. Saat membaca buku ini aku langsung teringat film Slumdog Millionaire (film India) dan langsung menonton film ini besoknya.

Apa yang diceritakan oleh Ming tidak jauh berbeda dengan film yang aku tonton. Malah menurutku, penggambaran Ming jauh lebih kompleks. Wajar saja, film berdurasi dua jam tidak sama dengan buku setebal 500 halaman J

Di India, Ming mengalami hepatitis. Mata dan sekujur tubuhnya kuning. Untungnya rumah sakit di India gratis (kalah nih Indonesia), tapi pelayanannya memang sesuai dengan gratisnya itu -_-

Setelah India, negara yang dikunjunginya adalah Pakistan. Dusun terpencil di pedalaman Hunza yang sanga dingin dipilihnya menjadi tempat untuk beristirahat. Hunza sudah terkenal akan minimnya sinar matahari, bahkan tidak ada. Tapi daerah itu sangat cocok untuk memulihkan kesehatan.

Berbeda dengan India, penduduk Pakistan mayoritas beragama Islam. Ia diperlakukan dengan sangat ramah oleh penduduk sana. Rupanya mereka memang selalu memperlakukan tamu-tamu dengan sangat baik, padahal saat itu di desa mereka sedang gempa bumi

Ming sempat risih karena penduduk Pakistan suka bertanya sesuatu yang sangat personal :

Di Pakistan mereka menanyakan pertanyaan yang selalu sama : What is your good name? (Semua namaku baik), What is your qualification? (Aku kan bukan mau melamar kerja), Are you muslim? (Pertanyaan yang membuat risih), Why coming to Pakistan? (Pertanyaan yang menohok esensi perjalanan, karena perjalanan ini semakin lama memang semakin tanpa arah dan tak punya alasan). Ribuan pertanyaan itu adalah manifestasi dari realita perjalanan.

Nah, saat membaca buku ini aku jadi ingat sama buku-buku tentang Saudi Arabia undercover seperti Kedai 1001 Mimpi, Girls of Riyadh, dan Princess. Isinya kurang lebih sama, tentang masyarakat Arab yang begitu dikungkung oleh agamanya. Jadi masyakarat ini dipisahkan hampir secara total antara laki-laki dan perempuan. Akibatnya laki-laki mencari sarana untuk pemenuhan nafsu mereka. Prostitusi secara diam-diam merajalela. Bahkan mereka juga melakukannya dengan sesama laki-laki. Ih serem waktu Ming diajak “begitu” sama laki-laki Pakistan di sebuah prostitusi, untung bisa kabur…

Kau sudah diperingatkan, begitu menginjakkan kaki di Pakistan, kau akan berada disebuah dunia lain. Kau diperingatkan, Pakistan bukanlah dunia normal kita. Ingat, jangan lupa Pakistan adalah negeri tanpa wanita.

Banyak sekali kutipan di buku ini yang aku sukai. Jadi maaf kalau postingan ini jadi penuh kutipan. Hahaha..

Orang bilang, kenikmatan perjalanan berbanding terbalik dengan kecepatan berjalan. Pemandangan terindah justru trelihat ketika melambatkan langkah, berhenti sejenak. Menetap berbulan-bulan di satu desa jauh lebih bermakna daripada mengunjungi lima negara dalam lima hari.

Bisa dibilang ini adalah buku tentang perjalanan yang paling filosofis. Bukan hanya mengajak bersenang-senang tapi juga berpikir bahwa perjalanan bisa lebih dari sekadar jalan-jalan saja. Negara-negara yang dikunjungi pun bukan negara yang berada dalam "zona nyaman"Melalui perjalanan yang dilakukannya, Ming memang bertemu banyak orang, banyak cerita dan foto-foto bagus (foto-foto tersebut juga ada didalam buku ini) tetapi hatinya sebenarnya selalu memikirkan rumah, terlebih lagi, ia memikirkan kesehatan ibunya.

Hwie, mama Ming adalah perempuan Tionghoa yang cantik. Ia pekerja keras, khas seorang mama yang rela anaknya pergi jauh agar mimpi anak itu tercapai. Bertahun-tahun Ming percaya bahwa ibunya baik-baik saja, sampai berita itu datang. Ibunya terkena kanker ovarium. Ia terpaksa pulang. Perjuangan ibunya melawan kanker, serta pencarian agama juga dituliskan disini. Setelah beberapa halaman tentang perjalanan, maka akan ada beberapa paragraf pendek tentang mama. Begitu seterusnya sampai buku ini selesai.



Selesai dengan urusannya di Pakistan, perjalanan berlanjut ke Afganistan. Hanya orang yang berani yang mau datang ke negara penuh konflik itu. Bom yang meledakkan belasan nyawa sudah jadi pemandangan biasa. Orang-orang bisa melanjutkan makan dengan tenang walau tidak jauh dari rumahnya ada bom meledak. Cerita tentang Afganistan ditulis Ming dengan lebih detail pada bukunya yang lain yaitu Selimut Debu.

Tak ada perang yang cuma tentang perang. Ketika dunia sibuk membicarakan keamanan dan pengerahan tentara NATO, serangan terorisme dan radikalisasi, demokratisasi dan kesetaraan gender, sesungguhnya hal yang diperhatikan orang-orang disini sangat sederhana : makan 

Sejauh-jauhnya Ming pergi, menjadi musafir dimana-mana, pada akhirnya ia harus pulang. Bertemu dengan keluarganya, orang-orang yang selama ini ia tinggalkan.

Pulang memang adalah jalan yang harus dijalani semua pejalan. Dari titik nol kita berangkat, kepada titik nol kita kembali.

Buku ini kesannya kok serius sekali, tapi sebenarnya lumayan kocak juga. Aku sempat senyum-senyum sendiri kalau membaca nasib Ming (kok malah diketawain -_-) karena dia memang sangat polos. Hihi.. Kata Lam Li, teman Ming dari Malaysia, dikepala laki-laki itu seolah tertulis Rob Me, Rape Me, Rescue Me.

Ada satu kesalahan penulisan nih : di halaman 211 paragraf pertama, kata ‘yang’ ditulis dobel.

Sulit untuk membuat resensi buku ini, beneran deh.. kamu harus membaca bukunya sendiri untuk tahu kalau buku ini memang berbeda dengan buku traveling kebanyakan.

Jumat, 19 Juli 2013

Hidup Love Is Blind

Judul : Hidup Love Is Blind
Penulis : Nora Umres
Penerbit : Gramedia
Tahun : 2006
Halaman : 222


Teenlit yang tokohnya cowok? Jujur awalnya aku nggak terlalu bersemangat membaca buku ini. Ditambah lagi ceritanya adalah tentang anak SMA. Eh ternyata aku suka sama si Nugi, cowok yang jadi tokoh utamanya. Aku memang suka sih sama buku yang kocak jadinya ngerasa klop deh sama teenlit satu ini.

Penulis novel ini sendiri belum pernah aku dengar sebelumnya. Bingung juga, dia cewek apa cowok sih? :p Menurutku Nora Umres rada narsis soalnya dia mengiklankan novelnya yang lain dalam buku ini, hihi. Btw makasih buat sahabat penaku, Jessica Xu yang udah ngasih buku ini dan buku-buku lainnya!

Bagi siapapun yang percaya, cinta juga milik orang-orang biasa…

Ternyata orang-orang biasapun berhak mempunyai kisah cinta. Walaupun kisah cintanya biasa-biasa aja, yang penting kan ada tempat untuk berbagi *halah. Kalau kamu merasa biasa dan merasa tidak dicintai siapapun, coba deh lihat Nugi.

Dari segi fisik, Nugi bukan cowok istimewa. Dia cowok biasa. Tinggi badan yang cuma 155 cm dan bentuk tubuh yang jauh dari atletis bikin dia terlempar dari lingkaran perhitungan cewek-cewek disekolahnya.

Jelas Nugi bukan cowok yang dikejar-kejar cewek karena ketampanannya. Buang jauh-jauh bayangan akan tokoh utama anak SMA yang ganteng, jago basket, atau ketua OSIS. Nugi jauh dari itu semua, tapi Nugi punya beberapa kelebihan. Ia jago nyanyi dan bikin puisi, teman-temannya juga banyak yang care sama dia.

Cowok biasa ini pertama kali jatuh cinta saat SMP. Nama cewek itu adalah May. DIlihat dari gelagatnya sih May juga suka sama Nugi, eh pas ditembak, May malah menolak Nugi mentah-mentah. Bayang-bayang May terus masuk ke otak Nugi sampai ia masuk SMA dan bertemu Ega yang mirip dengan May. Tanpa ragu Nugi jatuh cinta sama Ega.

Sayangnya, seperti yang bisa ditebak, Ega nggak suka sama Nugi. Ega sudah punya pacar super tajir bernama Andra. Biarpun begitu, diam-diam Ega ada sedikit rasa juga sih sama Nugi, cuma dia malu untuk mengakuinya. Jadi pas Nugi ditaksir sama Ina, Ega nggak terima. Selain Ega, ada lagi cewek lain yang cemburu sama kedekatan Nugi dan Ina, yaitu Cita. Asik nih Nugi ditaksir banyak cewek.

Kira-kira Nugi pilih Ega, Cita, atau Ina?? Ega udah punya pacar, Cita bukan tipe Nugi, Ina ditaksir sama Renal yang anak pejabat (lokal). Nugi jadi bingung menentukan pilihan hatinya. Nah loh, cowok kayak Nugi aja bisa nggak setia sama satu cewek! *maksud looh.

“Tanpa hati dan jiwa yang bersih, kecantikan atau ketampanan nggak akan bertahan lama atau malah nggak ada gunanya. Mendingan tampak biasa-biasa aja tapi nggak pernah nyakitin orang ketimbang kelihatan luar biasa tapi selalu jadi biang persoalan.”

Kesalahan penulisan yang aku temukan di teenlit ini ada pada halaman 180-181. Disitu diceritakan kalau Renal menulis surat cinta dibantu dua temannya yaitu Bagas dan Zaki. Berarti mereka bertiga dong, Renal, Bagas, dan Zaki. Eh di halaman selanjutnya tiba-tiba ada kalimat langsung yang dikatakan oleh Irza. Kok tiba-tiba ada Irza?

 Seperti teenlit pada umumnya, bahasa yang digunakan ringan dan kocak, khas remaja. Kalau kamu penggemar buku yang ngocol sekaligus teenlit, kamu cocok untuk berkenalan dengan Nugi!


[UnforgotTen] Refrain

Judul : Refrain
Penulis : Winna Efendi
Penerbit : Gagasmedia
Tahun : 2013
Halaman : vi + 318


Agak menyesal baru sekarang baca Refrain. Dulu pengen beli tapi nggak jadi-jadi. Sekarang Refrain sudah masuk cetakan ke-17! Wow.. covernya juga sudah ganti, tidak lagi amplop bersampul biru tapi jadi fotonya si ganteng Afgan dan si cantik Maudy Ayunda. Mereka berdua tuh perfect couple aku pikir. Surat biru tetap ada dalam cover film ini, tapi dijadikan bonus (ada di halaman setelah cover).

Lagi-lagi aku menyesal kenapa baru baca sekarang setelah filmnya keluar. Bayanganku tentang Niki dan Nata jadi tidak murni lagi berdasarkan novelnya semata tapi sudah “keganggu” sama penilaianku terhadap sosok Afgan dan Maudy. Kalau boleh aku bilang, aku jadi membayangkan Niki itu mirip sama Kugi di Perahu Kertasnya Dee Lestari. Sosok Niki yang lincah, mungil, dan mengajar anak-anak jalanan mirip sama Kugi.

Pas selesai membaca novel ini aku nonton trailer filmnya, kok banyak banget yang beda? Austria sama sekali nggak disinggung dalam bukunya, Nata juga nggak pakai kacamata kayak Afgan. Annalise yang digambarkan setinggi 180 cm kok lebih pendek dari Afgan? Oke, cukup sampai disini mengomentari trailer filmnya.

Sudah jadi rahasia umum kalau cewek-cowok yang sahabatan apalagi dari kecil hampir selalu menyimpan perasaan cinta. Entah cinta yang bertepuk sebelah tangan, ataupun yang bersambut. Yang paling khas dari cinta dua sahabat, biasanya keduanya memilih diam dengan alasan agar tidak merusak persahabatan.

Begitu juga dengan alasan Nata. Sejak merasa Niki berubah menjadi cewek yang menarik, Nata perlahan-lahan mulai menyadari bahwa ia mencintai Niki. Nata yang dingin, cuek, jaim, sarkastik memilih untuk mencintai Niki secara diam-diam.

Sediam-diamnya Nata, ia nggak sanggup juga buat mengungkapkan isi hatinya walaupun dengan cara sembunyi-sembunyi. Ia mengirimkan surat beramplop biru (yang jadi bonus novel ini) untuk Niki. Disana Nata menuliskan :
Bulan emas tinggal separuh
Bintang-bintang sangat pemalu
Kau terduduk disampingku
Aku lantas mencintai bayangmu
Kau menoleh untuk tersenyum
Hatiku berserakan.. lebur dan rapuh

Dalam bayangan Niki, cinta pertamanya bukanlah Nata. Ia mengidamkan laki-laki berkuda putih, seorang prince charming yang akan membahagiakannya selama-lamanya. Saat pertandingan di sekolah, harapan Niki terkabul. Ada seorang cowok cakep yang mengajaknya kenalan. Terang aja Nata marah dan ngambek habis-habisan sama Niki.

“…Gak semua cowok di dunia ini baik, Nik. Lo harus hati-hati, apalagi sama model cowok yang sembarangan ngajak cewek kenalan.”

Persahabatan Niki-Nata yang dijalani lebih dari 11 tahun itu sekarang kehadiran orang baru. Cewek pindahan New York itu bernama Annalise, anak model terkenal blasteran Rusia-Amerika-Indonesia, Vidia Rossa. Niki yang mengidolakan Vidia Rossa sangat bersemangat untuk berteman dengan Annalise. Annalise ini kasihan, karena sejak orangtuanya bercerai, ia seringkali berpindah-pindah tempat tinggal. Sekarang ia pindah ke Jakarta dan tinggal dengan tante Nadja. Seringkali Annalise menangis karena ia kangen sama mamanya.


“Sometimes, I really wish, I can see more of my mother in person than in those magazine covers.”

Annalise ini anaknya manis banget, anggun, cantik, hobinya baca novel klasik dan fotografi. Keren deh pokoknya! Dia juga agak pendiam dan cenderung kalem. Helena, ketua cheerleaders aja sempat dibuat manyun gara-gara Annalise menolak untuk gabung di klub itu. Annalise adalah tokoh favoritku dalam novel ini, yeay!

Dengan kehadiran Annalise, cinta segitiga pun dimulai, hmm.. tepatnya cinta segi empat. Nata menyukai Niki, Niki menyukai (berpacaran dengan Oliver) dan Annalise menyukai Nata. Semuanya mengalami patah hati pada akhirnya dengan cara yang berbeda-beda *spoiler.

Disamping kisah cinta dan persahabatan, novel ini juga mengisahkan tentang pencarian mimpi. Niki sempat dibingungkan karena ia tidak mempunyai mimpi, cita-cita sedangkan Nata jelas, ingin menjadi pemusik. Annalise juga jelas, mimpinya adalah menjadi fotografer. Niki dibuat galau karena ia sudah kelas 3 SMA, tetapi masih belum tahu tujuan hidupnya.

“Mimpi itu bukan deadline, Nik. Bukan sesuatu yang nggak bisa berubah. Bukan sesuatu yang datang dan pergi begitu aja. Nggak usah terlalu stres mikirinnya.”

Satu hal yang membuatku kecewa adalah banyaknya typo yang bertebaran. Cetakan ke-17 harusnya kan lebih banyak editan untuk tulisan, kok dibiarkan begitu saja sih L Cetakan selanjutnya lebih diperhatikan ya. Ada 5 typo dalam novel ini, yaitu :

Tanpa mengenakan kaus untuk menutupi dadanya yang telanjang, dDia menelusuri tangga dengan langkah lebar-lebar (hal 39)

Helena pernah ngajak dia buat gabung tim cheers dan responssnya nyebelin banget. (Hal 50)

Mendegra omongan Niki… (hal 77)

Lalu, beliau meninggalkan gelas wine kosong di atas meja, meninggalkan balkoni itu (hal 206)
…Annalise tanyakan pada orang uanya (hal 211)

4 bintang aku kasih ke novel sweet ini. Mbak Winna, aku suka sama penggambaran tokoh-tokohnya!! :D


Sabtu, 13 Juli 2013

Berjalan di Atas Cahaya

Judul : Berjalan di Atas Cahaya
Penulis : Hanum Salsabiela Rais, dkk
Tahun : 2013
Penerbit : Gramedia
Halaman : 210


Kalau kamu pernah membaca 99 Cahaya di Langit Eropa, pasti tidak asing lagi dengan perjalanan yang dilakukan oleh Hanum Rais. Buku ini masih berbicara tentang Islam di Eropa. Rasanya pas sekali membacanya di bulan Ramadhan seperti ini. Aku beli di Gramedia diskon 25% karena ada promo Back To School, asyik.. kesampaian juga beli buku ini.

Kali ini Hanum Rais tidak menulis sendirian, ia bersama dengan Tutie Amaliah dan Wardatul Ula. Hanum Rais menulis 12 buah cerita, Tutie Amaliah menulis 6 cerita, dan Wardatul Ula menulis 2 buah. Ditambah 1 buah epilog yang ditulis Hanum Rais, jadi total ada 21 cerita nyata yang mereka alami selama berada di Eropa.

Negara yang disorot dalam buku ini adalah Austria, Italia, Rusia, Turki, dan Swiss. Nah, covernya mungkin harus direvisi karena tidak ada Perancis, artinya tidak ada menara Eiffel juga dong, wkwkwk…

Beberapa cerita sudah pernah aku tonton di Trans TV saat Ramadhan tahun lalu tepatnya pada cerita Bunda Ikoy, Si Perempuan Jam dan Neerach yang Mengesankan. Memang saat berada di negara tersebut, Hanum Rais sedang melakukan liputan untuk Trans TV. Kapan ya punya pengalaman kayak gini, jalan-jalan diluar negeri terus ketemu orang-orang hebat o:)

Di Austria yang notabene masyarakatnya berbahasa Jerman, Hanum Rais memiliki tandem partner untuk berbahasa Jerman, yaitu Xiao Wei, mahasiswi Austria yang punya cara berpikir unik.

“Aku harus jujur padamu. Saat pertama kali bertemu denganmu, aku kaget. Aku tak menyangka selama ini aku bertelepon dengan perempuan berjilbab. Muslim dibilang teroris. Muslim itu suka kekerasan. Perermpuan Muslim itu terbelakang dengan hijabnya. Perempuan Musim itu rigid dan sebagainya. Itu yang dikatakan orang-orang di koran, di TV, bahkan di kampusku. Aku benar-benr malas melihatmu, awalnya.”

“Tapi aku tak mau menjadi orang-orang yang mengatakan bahwa di langit ada gajah terbang padahal aku sama sekali tak melihatnya, Hanum.

“Aku ingin menjadi orang yang pertama kali mengatakan tak ada gajah terbang di langit. Aku akan katakan, hanya orang-orang tak berpendirian, tak mau berpikir, dan takut menyatakan kebenaranlah yang melihat gajah terbang.” tandas Xiao Wei

Ada satu typo yang aku lihat di buku ini yaitu pada halaman 117 paragraf kedua : tempat untuk makan dan minum, yang banyak menawarkar wine spesial.

Sulit untuk memilih cerita mana yang menjadi favoritku, dari judul-judul saja rasanya semuanya menarik, isinya apalagi. Salah satu yang bikin hati gerimis adalah cerita Karena Saya Tidak Gaul, tulisan Tutie Amaliah, disitu beliau menceritakan mengenai pengalamannya dikata-katai dibelakang oleh para bule. Sakit banget nggak sih dikata-katai teman sendiri, terus ditertawakan padahal orang yang mengata-ngatai itu tidak tahu apa niat dibalik perilaku kita, hiks-hiks.

Dibandingkan dengan 99 Cahaya, buku satu ini lebih banyak fotonya. Jadi lebih mudah untuk membayangkan orang-orang dan situasi yang jadi latar belakang cerita. Tahun depan semoga mbak Hanum menelurkan buku lagi, amiin, pokoknya buku ini cocok banget buat yang mau ngabuburit.

“Dan Allah menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan, dan Dia mengampuni kamu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Q.S Al Hadid : 28)

[UnforgotTen] All You Can Eat

Judul : All You Can Eat
Penulis : Christian Simamora
Tahun : 2013
Halaman : xii + 460
Penerbit : Gagasmedia


Sarah, seorang scripwriter lagi patah hati karena Rifat, pacar yang baru saja ia putusin mengaku berselingkuh dengan isntruktur yoga mereka. Sarah nggak terima dong, apalagi setelah dikompori habis-habisan oleh Anye, sahabatnya. Anye ini anak orang kaya, kalau kata Sarah sih Anye ini berak duit saking kayanya. Setelah menyarankan Sarah agar mendepak Rifat dari apartemen Sarah, Anye menyarankan agar Sarah cabut keluar kota.

“He cheats, that’s red card. He’s out-that’s the rule.”

Kota yang menjadi tempat untuk kabur buat Sarah adalah… Bali! Di Ubud, keluarga Anye punya villa yang jarang digunakan sehingga Sarah boleh menginap disana selama dua minggu. Cuma dua minggu, karena Sarah hanya itulah waktu yang dimiliki Sarah untuk menyelesaikan naskah film terbarunya : Aku Perawan 3 -_-

Pas Sarah sampai di vila megah itu… Ooo.. ada cowok nggak pakai baju yang membuat Sarah mematung. Itu kan.. Jandro! Adiknya Anye yang sempat naksir Sarah. Bisa dibayangkan dong bagaimana kelanjutan novel ini. Cinta Jandro kepada teman kakaknya itu sepertinya bersemi lagi deh. Momennya pas banget, Jandro lagi patah hati, Sarah juga lagi patah hati.

Maka mereka pun memutuskan untuk.. pacaran? No! Tidak semudah itu. Nuna, mantan selingkuhan Jandro datang lagi ke Bali buat ngajak balikan. Di kehidupan Sarah juga muncul Irvan yang cakep banget. Ditambah lagi kenyataan bahwa Jandro lebih muda tujuh tahun dibanding Sarah. Sarah pun berusaha melupakan Jandro, mereka berpisah secara fisik tapi tidak dengan hati mereka…

“Kalaupun dipaksakan, toh kita berdua nggak akan bertahan lama, kan? I mean, there’s no way a man’s heart could equally love two women at the same time”.

Beberapa typo dan kejanggalan yang aku temukan dalam novel ini yaitu :
Owh, le damn hot, Gurl! (hal 22)
Dia dekat dengan Irvan sekarang arah belum menemukan alasan untuk menganggap yang mereka lakukan ini masuk kategori ‘relationship’) (hal 295). Tanda kurung setelah relationship tidak diperlukan, kan?
“Mas, bisa tolong dikabari kalau saya sudah datang? (hal 410) Harusnya kan seperti ini ya : Mas, bisa tolong kabari saya kalau dia sudah datang?

Ada satu istilah Psikologi yang aku baru tahu berkat novel ini, yaitu schadenfreude (perasaan senang yang diikuti oleh perasaan bersalah karena puas melihat penderitaan orang lain).

Hot Hot Hot! Itu yang ada di dalam pikiranku saat membaca 20 halaman pertama. Buku ini memang bukan buku Christian Simamora pertama yang aku baca, sebelumnya pernah baca With You, duet sama Orizuka. Kadar ke-hot-an buku ini dan With You agak berbeda, mungkin karena All You Can Eat berbentuk novel utuh yang ditulis Christian sendirian sedangkan di With You, dia hanya menulis 50% dari keseluruhan.

Saat tahu bahwa ada novel baru terbitan Gagas, aku langsung melirik covernya. Biasalah, Gagas kan covernya unyu-unyu. Apalagi judulnya All You Can Eat, aku pikir ini novel yang tokohnya punya toko kue, hobi makan, atau seorang koki (iya sih, Jandro pinter masak). Eh ternyata kok ada gambar cowok berjas hitam yang dipeluk dari belakang sama cewek ya? Hmm.. mencurigakan nih!

Aku jadi ingat temanku pernah ngasih tahu kalau Christian Simamora itu suka memasukkan adegan sensor dibukunya, ya mirip-mirip sama chicklit yang suka ada adegan “itu” tuh.. Berhubung aku penasaran karena buku ini populer banget di jagad twitter, jadi aku masukkan dalam list #UnforgetTen yang dikirimkan Gagasmedia.

Tadaaa.. saat 10 buku itu datang, aku bingung mana yang harus dibaca duluan. Awalnya pengen baca Coba Tunjuk Satu Bintang – Sefryana Khairil tapi aku tergoda sama All You Can Eat yang ada bonus bepian (ini istilah di Banjarmasin, kayaknya tiap kota beda-beda istilahnya). Pas liat bepian aku baru ngeh bahwa ini novel yang ada unsur dewasanya. Buat yang ngerasa belum cukup umur, mending jangan dibaca yaa adik-adik *pukpuk.

Aku suka sama gaya Christian menulis, cablak, dan gahoel banget. Dia suka menyelipkan bahasa Inggris slank dalam percakapan tokoh-tokohnya.

Setelah membaca All You Can Eat, aku ketagihan pengen baca tulisan Christian Simamora yang lain!

Senin, 08 Juli 2013

Buku-Buku Masa Kecil

Postingan kali ini isinya adalah curhatan mengenai buku-buku yang menemani masa kecilku *cielah. Waktu kecil yang aku maksud adalah rentang dari TK sampai SD. Saat itu buku-buku yang aku punya hanya sedikit. Orangtuaku jarang membelikan buku, jadi kebanyakan adalah buku-buku warisan dari kakakku. Dulu aku sempat menyewakan buku-bukuku loh.. dan dapat uang lumayan.. hihi. Jadi kalau sekarang aku membuka-buka lagi buku-buku itu akan ada tulisan “500”, “300”, atau “400”, harga sewa untuk buku itu.

Majalah yang aku baca dari kecil adalah Majalah Bobo, nggak berlangganan sih tapi koleksi majalah Boboku lumayan banyak. Cerpen dan dongeng dari Bobo juga aku kliping, sayangnya sudah dibuang sama Babe *syok*. Majalah Boboku sekarang sudah nggak ada lagi karena aku kasih sama sepupu. Kamarku sempit sih, jadinya agak susah kalau menimbun majalah ^^

Buku-buku yang masih aku simpan adalah buku kumpulan cerpen Bobo berjudul Dia belum terlambat, kan? Dan Khayalan Sebelum Tidur. Dua-duanya dikasih oleh kakakku (atau dia jual ke aku ya? -_-). Khayalan Sebelum Tidur sudah nggak ada covernya lagi. Dulu aku punya kebiasaan membaca sambil makan. Setiap makan harus ada yang aku baca, jadi bukunya suka robek dan kena makanan. Buku-bukuku yang nggak terlalu banyak ini sudah aku baca puluhan kali, sampai hapal sama isinya. Berbeda dengan sekarang, buku-buku yang aku punya paling hanya dibaca satu kali.


Kemudian ada juga buku yang aku pilih sendiri di toko buku yaitu Piglet Terbang, Bebek Yang Beruntung, Heidi (lupa naruh), Pocahontas : Kisah Si Rakun dan satu buah buku tentang Domba yang ada bonusnya (benda yang kalau dipencet akan bersuara mbeeek)




Ada lagi buku yang dikasih kakak sepupuku. Ini bukunya dia sewaktu kecil. Aku ingat, waktu itu aku pulang dari TK Alquran sama sepupuku. Kami masing-masing dikasih satu buku. Aku senang sekali sambil berharap kalau aku dikasih dua-duanya! Haha..


Kalau komik, lagi-lagi milik kakakku yaitu Ninja Hattori dan Aladdin. Selain itu ada juga komik yang kayaknya wajib dibaca oleh semua anak yaitu Doraemon. Terakhir, ada Kumpulan Dongeng Bobo berjudul Topeng Ajaib dan Pesan Sandi Si Bulbul.




Itulah buku-buku yang isinya masih aku ingat sampai sekarang saking seringnya dibaca. Bukunya pun sudah kumal dan covernya nggak karuan lagi. Suka iri sama teman-teman yang bacaan waktu kecilnya keren-keren macam Lima Sekawan, Tintin, Mallory Towers, Roald Dahl, dan lain-lain ^^ Selain buku-buku diatas, aku juga sering meminjam buku di perpustakaan SD.


Buku yang kita baca sewaktu kecil pasti mempunyai kesan tersendiri. Kalau bisa, simpan buku itu baik-baik buat kenang-kenangan saat dewasa nanti!

Rabu, 03 Juli 2013

Rindu

Judul : Rindu
Penulis : Sefryana Khairil
Tahun : 2010
Halaman : 243
Penerbit : Gagasmedia

Rindu

I was born to tell you ‘I Love You’

Pernikahan Zahra dan Krisna berada di ujung kehancuran selepas meninggalnya Daffa, anak mereka satu-satunya. Anak laki-laki berusia lima tahun itu meninggal tepat di hari ulang tahunnya, setelah dirawat selama dua hari di rumah sakit akibat kecelakaan.

Kuatkan hati ini, Tuhan, desis Zahra. Dia menarik napas dalam, menahan desakan jiwanya. Dia kuat. Sangat kuat menghadapi ini. Zahra berusaha meneguhkan itu. Tuhan yang memberikan nyawa, Tuhan yang memberikan napas, Tuhan yag memberikan hidup, dan kepada-Nya pulalah kita kembali.

Rasa bersalah terus menerus menghantui Zahra, berbagai macam kata seandainya berseliweran di dalam pikirannya. Seandainya ia tidak melepas pegangan tangan Daffa, seandainya hari itu mereka tidak pergi ke toko sepeda, seandainya ia tidak lalai mengawasi Daffa, mungkin Daffa tidak akan kecelakaan.

Lain lagi dengan Krisna. Ia berusaha mencari kambing hitam atas meninggalnya putra satu-satunya itu. Krisna ingin menimpakan kesalahan pada Zahra, pada dokter, pada supir mikrolet, pada orang-orang yang hidupnya lebih bahagia daripada dirinya. Krisna sebenarnya sudah berusaha untuk memahami Zahra, tetapi seberapa keras pun ia mencoba, ia selalu gagal.

Kehilangan, kegagalan, akan memberimu pelajaran menjadi manusia yang lebih baik. Kalau kamu nggak pernah salah, kamu selalu berbuat begitu, kan? Terus, terus, sampai lupa diri.

Kehidupan rumah tangga yang tadinya harmonis sekarang berubah menjadi dingin. Zahra dan Krisna bagaikan dua orang asing di dalam rumah mereka sendiri. Tidak ada lagi kehangatan suami istri, celotehan anak, semuanya menjadi gelap.

Trauma Krisna terhadap ayah dan ibunya yang hidup berpisah membuat ia ketakutan setengah hati, mendekati depresi akut. Ia takut rumah tangganya juga akan mengalami nasib yang sama. Sayangnya, bukannya mempertahankan, ia malah membuat pertengkaran dengan istrinya.

“Semua ada porsinya, Ra. Porsi bahagia, porsi sedih, porsi kecewa. Kalau kita makan kekenyangan, pasti nggak bisa jalan atau muntah. Dan, kalau kita terlalu bahagia, bisa-bisa kita jatuh saat kebahagiaan itu hilang.”

Dalam hatinya yang terdalam, Krisna masih sangat mencintai Zahra. Tetapi egonya sebagai laki-laki merasa Zahra tidak pernah mau memahaminya. Tidak hanya rumah tangga, Krisna juga mengalami berbagai masalah di kantornya.

Diantara semua kemungkinan, kali ini Krisna hanya ingin tidak ada yang terluka. Dia mencintai Zahra, itu kenyataan. Karena begitu cintanya, dia tidak bisa melihat Zahra sedih.

Berbulan-bulan setelah kematian Daffa, Zahra masih belum mampu bangkit. Ia selalu membersihkan kamar Daffa, menjahit selimut-selimuntnya, membaca dongeng, sedangkan bagian rumah yang lain ia telantarkan. Suami mana yang tidak kesal melihat istrinya tidak lagi hadir untuknya? Bahkan Zahra menolak kewajibannya sebagai istri dua kali. Sedikit demi sedikit masalah pun muncul. Bagaimanapun keduanya mencoba menutup-nutupi, tetapi masalah itu akhirnya meledak juga.

Kehadiran mertuanya di rumah membuat Zahra merasa tidak nyaman. Ibu mertuanya itu menasehati Krisna mengenai memilih istri yang baik. Zahra yang mendengar kata-kata ibu mertuanya itu sakit hati. Padahal ibu mertuanya sendiri tidak bisa menyelesaikan masalahnya dengan ayah Krisna sehingga mereka harus berpisah selama dua puluh tahun tanpa perceraian, ironis.

Konflik demi konflik yang dilalui oleh Krisna dan Zahra sangat mengaduk-aduk emosi. Kehidupan rumah tangga tidak selamanya indah, Krisna dan Zahra yang tadinya merasa hidup mereka sempurna harus dihadapkan dengan cobaan. Saat mereka merasa sudah memiliki semuanya, pasangan yang mencintai, anak, rumah, mobil, pekerjaan yang mapan, saat itulah Allah menyelipkan cobaan rumah tangga mereka semakin tangguh.

Aku sangat suka dengan gaya menulis Sefryana Khairil. Rindu adalah buku ketiganya yang aku baca setelah Sweet Nothing dan Coming Home. Ciri khasnya adalah cerita mengenai kehidupan rumah tangga. Buku ini sebenarnya ingin aku kasih 5 bintang, tetapi banyak sekali typo yang bertebaran dan beberapa kata yang terasa janggal untuk dibaca sehingga aku menurunkan bintangnya menjadi 4 saja

Kamu nggak mau punya anak lagi? Kamu dan Krisna masih mudah, masih ada waktu (lupa halaman berapa). Maksudnya muda?

Dari sekian hari, baru kalii ini dia merasa tenang berbicara dengan ibu (Hal 114).

Kalau ditanya yang paling menginginkan mati, itu adalah dirinya (Hal 118). Sebaiknya setelah kata ditanya ditambahkan kata siapa.

Daun-daun basah mereflessikan cahaya matahari (Hal 139)

“…Kamu mau bilang aku bukan istrinya yang baik?..” (Hal 165). Ini kata-kata Zahra ke Krisna, sebaiknya diganti menjadi istrimu

Dia merasa sikapnya ini sangat kekanak-kanakan, tapi tidak mungkin pulang (Hal 169). Loh, ini maksunya apa, tidak mungkin pulang? Pulang ke rumahnya? Atau ‘Tapi ia tidak mungkin pulang’?

Krisna menatap sepupu istrinya. Dia baik-baik aja, kan?” (Hal 198). Kurang tanda petik sebelum kata Dia.

Tidak ada yang tahu akhir hidup seseorang dan tidak ada yang bagaimana akhir sebuah kisah (Hal 209-210). Setelah kata bagaimana, harusnya ditambahkan kata tahu.


Keseluruhan buku ini sudah bagus, baik dari cover, tata letak, maupun desain didalamnya, sangat khas Gagasmedia. Sebaiknya yang juga tak kalah penting untuk diperhatikan adalah pengetikan tulisan, agar tidak ada typo sehingga lebih nyaman untuk dibaca. Berhubung buku ini adalah cetakan pertama, mungkin sekarang sudah cetak ulang? Semoga dicetakan selanjutnya kesalahan penulisan ini sudah diperbaiki.