Kamis, 27 Juni 2013

Paris : Aline

Judul : Paris
Penulis : Prisca Primasari
Tahun : 2012
Halaman : 212
Penerbit : Gagasmedia


Diantara seri novel Setiap Tempat Punya Cerita yang diterbitkan Gagasmedia dan Bukune, Paris lah yang membuatku paling penasaran. Paris merupakan salah satu kota-kota di dunia yang aku sukai (dan bermimpi kunjungi) disamping kota London, dan Tokyo. Sebagai salah satu kota paling romantis di dunia Paris memiliki semacam magnet kalau diangkat menjadi setting sebuah buku.

Ketika membuka buku ini aku langsung disuguhi pemandangan menara Eiffel. Menara Eiffel merupakan gambar dari postcard yang menjadi bonus dalam novel ini kesannya sangat cocok untuk memperkuat suasana Paris. Lucu banget deh postcard nya, sayangnya ini pinjaman jadinya nggak bisa aku copot deh dari bukunya hohoho.

Ada lima orang Indonesia yang menjadi tokoh utama dalam buku ini, Aline, Ubur-Ubur, Sena, Ezra, dan Marabel. Menurutku terlalu banyak orang Indonesianya, padahal aku inginnya lebih banyak bule Perancis terutama cowok Perancis hehe.

Aline Ofeli mengirimkan sebuah diary dan undangan pernikahan kepada sahabatnya Sevigne. Awalnya aku menyangka Sevigne ini cowok eh nggak tahunya Sevigne itu nama buat cewek. Baru halaman awal saja sudah dibuat penasaran, Aline ini menikah sama siapa sih.

Selama di Paris, Aline bekerja sambilan di Bistro yang menjual makanan khas Indonesia bernama Bistro Lombok. Di Bistro itu ada cowok yang ia taksir. Cinta Aline bertepuk sebelah tangan karena cowok yang diberi Aline gelar Ubur-Ubur ini sepertinya sangat membenci Aline. Si Ubur-ubur bekerja sebagai chef Bistro Lombok, ia punya baru saja jadian dengan cewek bernama Lucie yang juga bekerja disitu. Aline langsung syok dan patah hati saat tahu cowok yang ia taksir lebih memilih cewek Perancis ketimbang dirinya.

Beginikah cinta itu? Saat kita tahu kita tak kasat mata bagi orang yang dicintai, tapi tetap melakukan apapun demi orang itu?

Patah hati membuat Aline memutuskan untuk cuti selama seminggu. Pulang dari bistro Lombok setelah mendapatkan izin cuti, ia jalan-jalan di Jardin du Luxembourg. Di bangku taman ia melihat ada seonggok pecahan porselen yang katanya sangat mahal. Setelah menyatukan semua pecahan porselen itu muncul tulisan di sudut kanan bawah, sepertinya nama pemiliknya : Aeolus Sena.

Untuk mencari tahu identitas laki-laki ini Aline mencarinya di Google. Tidak banyak info yang ia dapat, hanya alamat email dan twitter. Ketika Aline mengirimkannya email, laki-laki itu menyambutnya dengan antusias dan mengajak untuk bertemu di Place de la Bastille jam 12 malam. Aline ini mau-mau aja diajak ketemuan jam segitu padahal ia orang yang penakut. Malam pertama, kedua, Aeolus Sena tidak muncul-muncul. Malam ketiga baru lah laki-laki itu datang menepati janjinya. Tidak seperti bayangannya, Aeolus Sena orang yang sangat ekspresif dan.. aneh.

Sebagai permintaan maaf Sena memperbolehkan Aline meminta tiga buah permintaan. Permintaan-permintaan inilah yang membuat mereka jadi sering bertemu. Kadang-kadang Sena dan Aline ketemuan disuatu tempat tapi Sena bisa tiba-tiba menghilang kemudian muncul lagi di hari yang lain. Siapa kah sebenarnya laki-laki ini?

Sebelum ini aku tak pernah benar-benar menemui hal yang mengundang tanda tanya. Terkadang memang aku bereaksi berlebihan terhadap sesuatu. Namun masih dalam koridor normal dan terjelaskan.

Sampai aku bertemu laki-laki ini

Sejak aku bertemu dengannya, yang terjadi hanyalah hal-hal aneh dan teka-teki.

Beberapa hari setelah Sena menghilang, akhirnya ia muncul lagi sambil membawa bungkusan porselen Lalu muncullah wanita galak seperti sosok ibu tiri yang sangat jahat menarik tangan Sena. Ia menyeret Sena untuk mengikutinya pulang. Aline mengikuti mereka berdua yang terus berjalan kaki selama satu jam walaupun hujan semakin deras. Sebelum Sena masuk ke dalam rumah dengan kesan angker itu, ia menyuruh Aline untuk mendatangi sebuah apartemen. Setelah itu Sena menghilang ke dalam rumah.

Sekarang tidak hanya Sena yang misterius, Kak Ezra juga. Laki-laki cool itu sepertinya diam-diam menaruh hati terhadap Aline tapi Aline tidak percaya bahwa laki-laki sempurna seperti Ezra mau dengannya.

Aku menemukan tiga buah typo dalam buku ini yaitu di halaman 69 : “Oh. Kalau malem?” Halaman 94 : “Kayaknya si Putra-Putra itu nggak terlalu terpengaruh waktu saya deketin ceweknya.” Mungkin mau nulis Ubur-ubur kali ya, jadinya malah Putra-Putra. Terakhir di halaman 207 : “… Gini nih kalau punya kakak terlalu romantis, semua-semuanya dianggap cuma bisa diselesaiin dengan cinta.”

Berhati-hatilah saat membaca buku ini karena kamu akan dibuat penasaran sama si Aelous Sena!


Dia tidak bilang berapa lama aku harus menunggunya. Tapi selalu.. ada beberapa hal yang layak untuk dinanti, ketika aku percaya sepenuh hati bahwa semua itu takkan berbuah sia-sia.

The Perks Of Being Wallflower

Judul : The Perks Of Being Wallflower
Penulis : Stephen Chbosky
Halaman : 230
Ebook

The Perks of Being a Wallflower

In social situations, a wallflower is a shy or unpopular individual who doesn't socialize or participate in activities at social events. He or she may have other talents but usually does not express them in the presence of other individuals (Wikipedia)

Wallflower itu seperti seorang introvert.  Introvert bukan antisosial biarpun kadang-kadang ada orang yang memandang kedua istilah ini hampir serupa. Introvert lebih nyaman sendirian, sedangkan orang yang antisosial senang merusak benda-benda dan melakukan pelanggaran hukum.

Buku ini sangat unik karena diceritakan dalam bentuk surat yang ditulis oleh Charlie si wallflower. Disetiap surat ia menuliskan kejadian yang ia alami. Surat ini ditulis dari tahun 1991 sampai 1992. Semua nama yang ada dalam surat tidak diberitahu nama belakangnya melainkan hanya nama panggilan.
Charlie adalah anak laki-laki yang baru masuk SMA. Tidak seperti remaja kebanyakan ia lebih suka mengamati sekelilingnya daripada ikut berpartisipasi dalam kegiatan teman-temannya. Charlie tidak punya teman di sekolahnya. Hal yang sangat sulit untuk dihadapi anak seumur itu.

Kakak laki-laki Charlie lumayan populer sebagai seorang atlet sepak bola. Sedangkan kakak perempuannya cantik. Entah kenapa Charlie ini tidak seperti kedua saudaranya. Ia terlihat lemah dan cengeng. Charlie mendatangi psikiater sejak Aunt Helennya meninggal. Ia sangat kehilangan perempuan itu. Hanya Aunt Helen satu-satunya orang yang memberinya dua buah hadiah saat natal.

Suatu hari Charlie datang ke stadion untuk menonton pertandingan sepak bola. Disana ia bertemu dua orang yang terlihat seperti sepasang kekasih. Mereka adalah Sam, cewek yang sangat keren dan “Nothing” alias Patrick. Charlie tidak menyangka bahwa ternyata Sam dan Patrick adalah saudara atau lebih tepatnya saudara tiri.

Sam dan Patrick lebih tua daripada Charlie tetapi mereka mau menjadi temannya. Tentu saja Charlie sangat senang karena akhirnya ia mempunyai teman setelah sekian lama. Charlie diam-diam naksir Sam yang pada akhirnya diketahui oleh Sam. Sam sepertinya juga menyukai Charlie karena ia meminta Charlie untuk menciumnya.

And I guess I realized at that moment that I really did love her. Because there was nothing to gain, and that didn't matter

Sulit untuk menjelaskan Charlie ini seperti apa. Dalam dunia nyata rasanya aku belum pernah bertemu dengan laki-laki seperti dia. Charlie sangat sensitif, begitu peduli dengan perasaan orang lain. Ia takut kata-kata atau perilakunya menyakiti orang lain sampai terkesan berlebihan. Bayangkan saja, ketika Patrick patah hati ia mau-mau aja dicium laki-laki itu agar Patrick merasa lebih baik. 

I think that if I ever have kids, and they are upset, I won't tell them that people are starving in China or anything like that because it wouldn't change the fact that they were upset. And even if somebody else has it much worse, that doesn't really change the fact that you have what you have.

Charlie juga mudah menangis bahkan di depan orang lain. Aku jadi pengen bilang hei hei, begitu aja kok nangis siih Charlieee!! Gemas deh jadinya -_-

Bagi Bill, guru Charlie yang senang meminjamkannya buku, Charlie adalah anak laki-laki yang spesial. Karena itulah ia sering menyuruh Charlie untuk menuliskan essay setelah selesai membaca buku-buku itu. Charlie sangat senang membaca buku. Ia bisa membaca buku yang sama berkali-kali. Ehm… ini poin plus buat Charlie, hahaha..

Buku ini belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Kalaupun ada penerbit yang mau sepertinya harus di sensor sana sini karena bukunya lumayan vulgar. Perilaku seksual remaja Amerika banyak dibahas oleh Charlie di dalam suratnya, bahkan ada yang sampai jorok banget.

The Perks of Being Wallflower sudah difilmkan, dan yang jadi Charlie adalah si cakep Logan Lerman!! Sedangkan yang jadi Sam adalah Emma Watson. Nggak nyangka banget yang jadi Charlie adalah Logan Lerman. Pengen nonton filmnya deh. 

Kyaaaa xD


Banyak yang bilang buku ini bagus dan wajib dibaca tetapi seperti kata Bill (gurunya Charlie), kamu harus punya filter saat membaca sebuah buku. Itu juga yang aku sarankan saat membaca buku ini. 
Isi pikiran Charlie sangat menarik, melalui surat-suratnya ia mengajarkan bahwa kita harus selalu bersikap baik dengan orang lain walaupun kita tidak suka dengan orang itu. Terimakasih Charlie!

He's a wallflower. You see things. You keep quiet about them. And you understand


Senin, 24 Juni 2013

Rantau 1 Muara

Judul : Rantau 1 Muara
Penulis : A. Fuadi
Penerbit : Gramedia
Tahun : 2013
Halaman : 407


Pertama kali aku membaca Negeri 5 Menara (N5M) adalah tiga tahun yang lalu saat belum punya blog buku. Waktu itu aku nggak tahu bahwa N5M akan menjadi trilogi dan sepopuler ini. N5M bercerita tentang Alif yang sekolah di Pesantren bernama Pondok Madani. Alif bersama sohibul menara yaitu sahabat-sahabatnya bermimpi untuk mengunjungi negara-negara lain. Mantra pertama dalam buku ini adalah Man Jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.

Buku kedua dalam trilogi ini adalah Ranah 3 Warna yang aku baca tahun 2011. Resensinya pernah aku buat di blog ini. Alif mengejar mimpinya untuk kuliah, belajar menulis bersama Bang Togar, dan mengikuti pertukaran pelajar ke Quebeq, Kanada. Mantra kedua dalam hidup Alif adalah Man Shabara Zhafira, siapa yang bersabar akan beruntung.

Lalu, apa mantra ketiga alias mantra pamungkas? Selama dua tahun aku menunggu terbitnya buku ketiga. Alhamdulillah akhirnya terbit juga Rantau 1 Muara sebagai penutup dari trilogi ini. Trilogi N5M sedikit banyak merupakan kisah nyata dari Bang Fuadi sendiri. Sebagai novel/fiksi, tentunya ada cerita yang ditambah, dikurangi atau beberapa institusi yang namanya diganti.

Selepas Alif lulus kuliah, ia tidak memutuskan untuk langsung mencari pekerjaan. Santai dulu, begitu pikirnya karena ia bisa mendapat penghasilan dengan mengirimkan tulisan ke berbagai koran. Tapi Alif lulus disaat yang kurang tepat, yaitu saat krisis moneter melanda Indonesia tahun 1998. Koran tempat Alif biasa mengirimkan tulisannya terpaksa membatalkan kontrak. Mereka tidak bisa lagi menggaji penulis luar. Alif pun terpaksa harus mencari pekerjaan, kalau tidak hutangnya akan terus menumpuk sekarang saja ia sudah ditagih ke kos oleh dua orang debt collector berbadan kekar.

Persaingan Alif dengan Randai tetap terjadi. Setelah kalah telak dalam mendapatkan Raisa, sekarang mereka bertarung untuk membuktikan siapa yang akan S2 lebih dulu di luar negeri. Kompetisi yang positif, tetapi aku kadang suka sebal sendiri dengan gaya Randai yang sok.

Jika aku lihat Randai, maka dia sudah melakukan konsistensi paling tidak enam tahun sampai sekarang. Kuliah teknik penerbangan selama lima tahun dan dia langsung bekerja di industri penerbangan. Dia fokus, dia tekun, dia konsisten di bidangnya. Tidak heran kalau dia punya terobosan dalam hidupnya.

Aku menghitung-hitung apa bidang keilmuan yang aku tekuni dengan intensitas tinggi selama lima tahun terakhir? Aku harus jujur : tidak ada. Semua serba tanggung.

Saat membaca kutipan itu aku sendiri ikut berpikir tentang hidupku selama ini. Rasanya hidupku kok begini-begini saja, nggak ada bakat atau prestasi yang membanggakan.. hmm..mulai galau

Setelah sempat beberapa kali di tolak oleh berbagai perusahaan dengan alasan klise, Ailf diterima juga untuk bekerja di majalah berita nasional yang prestisius, Derap. Lagi-lagi Alif harus merantau untuk memenuhi mimpinya sebagai wartawan. Kali ini tujuannya adalah Jakarta. Derap bukan majalah sembarangan. Banyak orang yang ingin bekerja disana. Karyawannya pun merupakan wartawan yang dikenal mengutamakan kejujuran.

Jurnalisme majalah ini bukanlah jurnalisme untuk memaki atau mencibirkan bibir, juga tidak dimaksudkan untuk menjilat atau menghamba. Yang menjadi komando bukan kekuasaan atau uang, tapi niat baik, sikap adil, dan akal sehat.

Gelar doktor di dapatkan Alif saat bekerja di Derap. Bersama dengan Pasus Warta, ia menjalani kehidupan sebagai doktor alias mondok di kantor karena tidak memiliki tempat tinggal. Untuk tidur, Alif dan Pasus hanya beralaskan sajadah. Desas desus mereka berdua tidur di ruang kliping kantor tercium juga oleh Mas Aji dan Mas Malaka, atasan mereka. Untungnya Pasus tidak kehilangan akal. Ia dan Alif sekarang tidur di mushala kantor.

Pengalaman Alif di Derap sangat seru, dan yang membuat ngakak sekaligus merinding itu saat Alif harus mewawancarai pocong. Yap, Pocong!! Awalnya itu karena Alif datang terlambat pas rapat gara-gara memikirkan cewek. Alif jatuh cinta, sodara-sodara. Love at first sight sama cewek yang ia temui di dekat meja resepsionis. Ternyata cewek itu adalah temannya Raisa, pantas Alif merasa pernah melihatnya disuatu tempat.

Nama cewek itu Dinara, ia wartawan baru di Derap. Kehadiran Dinara kontan membuat suasana di Derap menjadi lebih meriah. Biasalah, anak baru, cantik, pintar lagi, pasti banyak yang mendekati, tidak terkecuali Alif. Pendekatan Alif ke Dinara lumayan gencar. Ia mencari-cari info mengenai Dinara melalui Raisa. Dinara yang awalnya cuek terhadap Alif lama-lama mulai perhatian kepada Alif. Masalahnya, Alif tidak berani menanyakan langsung kepada Dinara mengenai perasaannya.

Aku menertawakan diri sendiri yang akhir-akhir ini kadang merasa kehilangan dia. Atas dasar apa aku merasa kehilangan? Tidak memiliki, kok kehilangan. Aku menggeleng-gelengkan kepala sendiri.

Keinginan Alif untuk melanjutkan sekolah di luar negeri membawanya untuk mendaftar beasiswa Fullbright. Persiapan Alif untuk ikut seleksi beasiswa dibantu oleh Dinara dan Pasus. Dengan mantra man saara ala darbi washala, siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan, Alif berhasil mendapat beasiswa itu. Ia melanjutkan kuliah S2 di George Washington University. Saat Alif mengatakan bahwa ia akan kuliah di Amerika, hubungannya dengan Dinara justru merenggang.

Kisah Alif di Amerika Serikat sangat seru. Disana juga ia memantapkan hatinya untuk menikahi seorang gadis. Dari Amerika Alif berjuang untuk merebut hati calon mertua, Sutan Rangkayo Basa. Tidak mudah untuk meluluhkan hati Sutan Rangkayo Basa. Perlu pendekatan ekstra, sampai harus mengirimkan crossword alias buku teka-teki silang dari Amerika.

Aku telepon Amak dan bercerita dengan malu-malu kalau aku merasa sudah menemukan calon yang ingin aku persunting. Amak tidak bicara, hanya berpesan, “Perempuan hatinya seperti kaca, jika pecah berderai tidak bisa kembali utuh sempurna. Hargai hati dan perasaannya. Jangan main-main, kalau suka bilang, kalau tidak jangan. Jangan permainkan perasaannya kalau masih ragu-ragu.”

Ada bab dalam buku ini yang membuatku terpekik iri yaitu pada bab Sakura dan Segerobak Buku. Istrinya Alif bekerja di salah satu toko buku terbesar di dunia yaitu Borders. Nah suatu hari istrinya Alif mengatakan kalau semua karyawan boleh memilih buku sisa display yang segunung banyaknya, gratis. Huaa.. aku pengen deh kerja disitu!!!

Alif dan istrinya akhirnya bekerja bersama di ABN, American Boardcasting Network. Istrinya lah yang lebih dulu diterima bekerja full time karena Alif harus menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu Mereka berdua diberi gelar dynamic duo karena sangat kompak. Bahkan saat kejadian 11 September mereka berdua ikut meliput dari New York sekaligus mencari dua orang korban ledakan yang sudah seperti saudara mereka sendiri.

Orang Sumatra Barat memang terkenal sebagai anak perantauan ya. Mungkin merantau merupakan budaya mereka? Kalau membaca buku yang ditulis oleh orang Sumatra Barat aku jadi ingat zaman sekolah dulu sering meminjam buku perpustakaan sekolah terbitan Balai Pustaka, ceritanya kebanyakan tentang budaya Minang.

Buku Rantau 1 Muara ini memberikan semangat untuk terus berani bermimpi. Setinggi apapun mimpi itu pasti akan didengar oleh-Nya kalau kita mau berusaha. Melebihkan usaha diatas rata-rata orang.

Buku ini aku rasa kurang tebal dibandingkan buku sebelumnya, R3W padahal ini adalah buku terakhir dari trilogi N5M. Buku terakhir harusnya jadi yang paling tebal *menurutku*. Aku masih pengen tahu bagaimana nasib Mas Garuda pasca ledakan WTC, apakah memang tidak pernah bertemu lagi? Kemudian, bagaimana rencana Alif dan istrinya untuk keliling Eropa, apakah jadi? Aku tidak keberatan kalau ada lagi buku keempatnya *ngarep.

Selesai membaca buku ini aku harus move on sejenak sebelum membaca buku lain. Masih nggak rela kalau trilogi ini tamat, hiks.

Merantaulah. Gapailah setinggi-tingginya impianmu. Bepergianlah. Maka ada lima keutamaan untukmu : Melipur duka, memulai penghidupan baru, memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, serta meluaskan ilmu.

Sabtu, 22 Juni 2013

Detektif Conan 73

Judul : Detektif Conan Volume 73
Penulis (Komikus) : Aoyama Gosho
Penerbit : Elex Media
Halaman : 184
Tahun : 2013


Kasus pertama dalam komik ini merupakan kelanjutan dari kasus di volume 72 tentang Penjaga Waktu. Ketika membaca kasus ini aku agak lupa mengenai detail kasusnya sehingga harus mengintip lagi ke volume 72. Syukurlah jarak terbit Conan sekarang tidak selama dulu lagi. Kalau dulu bisa setahunan untuk menunggu Conan terbit.

Pembunuhan yang terjadi dalam kasus ini terjadi pada Bu Rukako, nyonya kaya yang sedang berulang tahun. Ia dibunuh saat sedang meniup lilin ulang tahunnya. Bu Rukako ini sangat cerewet mengenai jam. Terlambat satu detik saja ia pasti menyadarinya. Orang yang memecahkan kasus ini, seperti biasa, detektif Mouri yang dibantu oleh Conan.

Kasus kedua adalah kasus favoritku berjudul Ramen Yang Lezat Setengah Mati. Hmm.. aku selalu suka kasus yang ada kaitannya dengan restoran atau makanan. Detekti Mouri dan Conan ditinggal Ran yang harus menginap di sekolahnya untuk mempersiapkan diri mengikuti kejuaraan karate. Untuk makan malam, detekti Mouri dan Conan mengunjungi kedia Ramen Yang Lezat Setengah Mati. Kedai yang sudah tua dan tidak pernah sekali pun direnovasi itu ternyata menjual ramen yang sangat lezat, sampai-sampai ada orang yang mati saat makan ramen disitu.

Kasus ketiga sangat mudah ditebak siapa pelakunya. Entah sengaja atau tidak tapi dari awal kasus ini seolah-olah Gosho Sensei menggiring pembaca untuk menebak bahwa si X ini lah pelakunya. Kurang seru sih sebenarnya kalau pelakunya ketahuan dari awal, tetapi jangan khawatir trik yang dilakukan oleh si pelaku tetap menarik untuk diikuti. Apalagi yang melakukan analisis bukan hanya Conan tetapi tokoh baru bernama Sera!! Sera ini mengaku detektif SMA sama seperti Shinichi Kudo. Ia juga ahli Jeet Kune Do, ilmu bela diri yang diperkenalkan oleh Bruce Lee. Sepertinya Sera curiga pada hubungan Conan dan Shinichi.

Kasus keempat yang paling membuat penasaran karena bersambung ke volume 74, ah tidaaakk.. sedikit lagi padahal pelakunya ketahuan. Sera lagi-lagi terlibat dalam kasus ini. Ada seorang laki-laki yang datang ke kantor detektif Mouri dan menyandera Ran, Sera, detektif Mouri beserta tiga novelis misteri yang berkunjung ke situ. Laki-laki ini meminta detektif Mouri untuk mencari tahu siapa diantara ketiga novelis itu yang membunuh adiknya.


Menurut kalian, Sera mirip sama Eusuki Hondo nggak sih? Kayaknya Sera punya hubungan sama Organisasi Berjubah Hitam atau kalau nggak sama FBI. Kalau ada tokoh baru lagi, sepertinya Gosho Sensei belum berniat menamatkan detektif Conan. Nggak apa-apa juga sih kalau masih lama tamatnya, nggak rela pisah sama Conan.

Sabtu, 15 Juni 2013

Dear Gagas : #KadoUntukBlogger #unforgotTen

Gagasmedia, siapa sih yang nggak tahu sama penerbit satu ini? Setiap kali aku ke toko buku pasti buku-buku dari Gagasmedia mejeng di rak new books, sampai top seller. Beberapa tahun yang lalu mungkin Gagasmedia belum terlalu dikenal, namun sekarang buku-buku terbitan Gagas selalu menjadi rekomendasi dan pilihan semua toko buku. Ya, saat membuka homepage online bookshop buku terbitan Gagas pasti terpampang manis.

Sebelum aku memberikan alasan kenapa aku layak mendapat 10 buku dari Gagas, aku mau sharing pendapat dulu mengenai pandanganku terhadap Gagasmedia :

Apa yang membuat pembaca tertarik membaca buku-buku Gagas? Well, berdasarkan observasiku selama ini penulis yang bekerja sama dengan Gagas adalah penulis-penulis yang produktif menelurkan karyanya. Penulis ini kebanyakan merintis dari bawah dan ‘dibesarkan’ oleh Gagas. Orang-orang yang menyukai buku penulis ini pasti akan terus membaca dan membeli buku selanjutnya dari penulis itu. Penulis dari Gagasmedia misalnya Winna Efendi, Christian Simamora, Orizuka, Prisca Primasari, Sefryana Khairil.
Covernya manis-manis banget

Kedua, promosi yang gencar. Admin twitter @Gagasmedia misalnya, dia rajin menanggapi dan meretweet komentar dari pembaca setia Gagas. Keramahan pelayanan ini merupakan salah satu kunci penerbit cepat dikenal.

Ketiga, kesatuan desain yang diterapkan dalam setiap buku. Saat melihat buku terbitan Gagas untuk pertama kalinya aku langsung menarik kesimpulan bahwa ‘setiap’  buku mempunyai ‘sentuhan’ personalnya sendiri. Gagas tidak main-main dalam menyuguhkan sebuah buku; desain cover dan isi, sinopsis, bahkan pembatas buku begitu ‘manis’ untuk pembaca. Ini merupakan poin plus yang tidak dimiliki semua penerbit.

Keempat, genre. Genre romance yang diusung Gagas disukai semua kalangan. Dari anak SMP sampai ibu-ibu bisa masuk kedalam buku-buku yang diterbitkan Gagas. Aku sendiri merasakan bahwa Gagas memang betul-betul berkomitmen untuk masuk kedalam genre romance. Lihat saja ide #STPC (Setiap Tempat Punya Cerita) untuk buku dengan tema “kota”, semuanya berkesan romantis. Sebagai orang yang mengaku-ngaku romantis aku juga suka sama buku-bukunya Gagas karena ceritanya itu suka membuat melting. Gagas ini penerbit yang cinta Indonesia loh, soalnya hampir semua buku-bukunya tulisan dari penulis Indonesia *yeaay tepuk tangan!

Udah lama banget belinya tapi masih sering dibaca-baca


Kelima, yang membuat banyak orang mulai melirik Gagas sebagai penerbit favorit adalah loyalitas pembaca dan resensi dari para blogger. Kekuatan media dalam memberikan pengaruh dan opini sangat besar. Blogger buku Indonesia semakin bertambah dari hari ke hari. Tidak sedikit dari mereka yang suka membaca buku terbitan Gagas kemudian memberikan review yang positif. Para pengunjung dari blog itu sedikit banyak menjadi tahu buku-buku apa yang baru diterbitkan Gagas, apa yang menarik dari buku itu sehingga layak untuk dibaca, sehingga keberadaan Gagas semakin dikenal dan buku-bukunya banyak disukai. Secara tidak langsung peranan para blogger ini membantu pemasaran buku dari Gagas juga, kan? ;)

Koleksi buku dari GagasMedia punyaku memang tidak terlalu banyak, belum sampai 20. Jumlah ini tidak menghalangiku untuk meyakini bahwa buku terbitan Gagas banyak yang berkualitas. Wishlistku untuk buku Gagas lumayan banyak dan pasti akan terus bertambah mengingat buku-buku Gagas banyak yang eye catching dan ngiler pas membaca resensi dari teman-teman blogger (ngiler pengen beli, pengen baca tapi apa daya uang sakuku terbatas hiks).

To-Read

Terus, kenapa aku HARUS mendapat 10 buku dari Gagasmedia? Pastinya alasan dasarnya adalah karena aku suka membaca dan menulis. Alasan itu juga yang membuatku terus menulis di blog ini. Kemudian, aku ingin menyebarkan virus romantis dari buku terbitan Gagas. Libur panjang kuliah selama 3 bulan ini akan aku manfaatkan untuk membaca banyak buku, beberapa buku Gagas juga sudah masuk dalam rak to-read, dan aku sama sekali nggak keberatan untuk menambah 10 lagi buku Gagas.

Buku dari Gagas yang aku suka bukan hanya yang genre romance. Ada juga nonfiksi seperti Letters To Sam dan Hairless yang aku suka banget dan nangis-nangis pas membacanya. Buku-buku travelling juga diterbitkan, seperti Life Traveler dan The Journeys. Nah, ada juga buku traveling Gagas yang kocak banget, pokoknya bisa bikin ketawa ngakak, yaitu Kedai 1001 Mimpi. Buku satu ini merupakan buku traveling sekaligus komedi . Jadi Gagas juga cocok kok untuk yang nggak suka sama genre romance.

Buku-buku travelling Gagas



Itu doang nih yang bikin aku harus mendapat 10 buku dari Gagas? Huaa.. aku tuh paling nggak tahan sama buku-bukunya Gagas, beneran deh! Apalagi cover bukunya itu, ditambah jaminan nama penulisnya. Setelah membaca tweet dari Gagas kalau Gagas mau bagi-bagi 10 buku buat 10 blogger (Iya, 10 Buku buat 10 Blogger!!!) aku yang lagi membaca-baca bahan ujian di Ms. Word langsung mencet CTRL + N buat bikin postingan “kenapa aku layak mendapat 10 buku dari Gagas” nah kurang cinta apalagi sih aku sama Gagas? Sampai-sampai bahan ujian ‘ditelantarkan’ dulu, hihi. ;) (tenaaang, tetap belajar habis menulis postingan ini)

Buat Gagas, sukses terus yaa semoga tetap menjadi salah satu penerbit besar di Indonesia dan melahirkan penulis-penulis baru yang produktif. Selalu ramah yaa sama pembaca ^^ terakhir, aku mau nyanyi nih buat Gagas

Pilihlah aku jadi pacarmu pemenangnya
Yang pasti setia menemanimu membaca bukumu
Jangan kau salah pilih yang lain
Yang lain belum tentu setia
Jadi pilihlah aku

Kamis, 13 Juni 2013

Sekilas Info : Bazaar Buku di Banjarbaru [Kal-Sel]

Haloo.. ada info terbaru nih! Di halaman perpustakaan kota Banjarbaru ada bazar buku loh. Sebenarnya nggak baru-baru juga sih, soalnya bazaar ini sudah ada sejak 23 Mei yang lalu dan akan berlangsung sampai 23 Juni 2013. Awalnya aku dikasih tahu teman mengenai bazaar ini tapi baru kesana pas tanggal 11 Juni, itu pun nggak sengaja ingin berkunjung karena saat itu ingin mengembalikan buku yang aku pinjam diperpustakaan. Saat aku berkeliling disitu aku melihat ada sebuah komik yaitu Chibi Maruko Chan tapi karena label harganya 12.000 dan menurutku untuk ukuran komik terbitan dulu itu masih mahal maka aku tidak jadi beli. Setelah pulang ke rumah aku baru sadar kalau harga komiknya cuma 5000 dan terus kepikiran komik itu!!

Hari ini tadi sepulang kuliah aku kembali mampir kesana untuk membeli komik itu. Eh ternyata komiknya sudah nggak ada!! Aku sudah lihat satu persatu komik disitu tapi tetap nggak ada, hiks padahal itu termasuk komik langka (eh masih dicetak nggak sih?). Makasih banget buat Ifah yang sudah mau menemani ngubek-ngubek komik disitu ;)

Buku-buku yang dijual di bazaar ini ada bermacam-macam, kebanyakan sih non-fiksi. Ada juga buku Islami, komik, Harlequin, dan novel-novel. Kalau ingin berkunjung ke bazaar ini bisa datang antara jam 9 pagi sampai jam 9 malam. Buku yang dijual memang buku terbitan lama dan kurang terkenal tapi kalau jeli bisa kok dapat buku-buku bagus dengan harga miring. Harga buku berkisar dari 5.000 sampai 70.000an, novel import juga ada.

Aku nggak beli buku apa-apa sih disini, cuma cuci mata aja. Sampai sekarang aku masih kepikiran sama komik itu, sudah dibeli atau masih terselip ya? Kalau ada yang berkunjung ke bazaar ini dan menemukan komik Chibi Maruko Chan, kasih tau aku yaa.. hehe ^^