Kamis, 01 Agustus 2013

The Write Stuff

Judul : The Write Stuff (Diam-Diam Jatuh Cinta)
Penulis : Jahnna N. Malcolm
Penerbit : Gramedia
Tahun : 2008
Halaman : 168

Diam-Diam Jatuh Cinta (The Write Stuff) - Love Letters Series Book 4

Coba bayangkan bagaimana perasaanmu kalau tiba-tiba muncul cowok kece yang kalau ngomong pakai aksen Inggris? Reaksi Hannah Briggs adalah… langsung naksir cowok itu!

Hannah pertama kali bertemu dengan Dylan di loker sekolahnya, saat itulah Dylan datang untuk meminta bantuan Hannah. Sebagai murid baru di Red Rocks High School, Dylan kesulitan untuk mencari ruang kelas karena berbeda dengan sistem kelas di Inggris.

Selama ini Hannah belum pernah benar-benar jatuh cinta dengan seorang cowok apalagi sampai pacaran. Tapi saat bertemu Dylan, Hannah merasakan sesuatu yang berbeda. Dylan tidak hanya tampan, ia juga mempunyai banyak sekali kemiripan dengan Hannah : suka berkuda dan pecinta alam.

Hannah mempunyai seorang sahabat sejak kecil yaitu Rachel. Semua cowok yang melihat Rachel pasti akan menyukai cewek ini, karena parasnya yang sangat cantik. Rachel juga pandai membuat cowok-cowok merasa bahwa mereka istimewa di mata Rachel. Tidak heran kalau ia suka gonta-ganti cowok.

Dylan pun ternyata sama saja seperti cowok kebanyakan, ia menyukai Rachel sejak pertama melihatnya. Jadilah Dylan dan Rachel saling berbalas email. Tetapi Dylan tidak tahu bahwa selama ini yang membalas email-emailnya adalah Hannah.

Salah satu serial Love Letters ini juga dikirimi oleh penpal ku, Jessica. Dari judulnya sudah sangat menarik perhatianku, Write Stuff. Sebenarnya teenlit ini tidak melulu membahas email antara Dylan-Rachel (Hannah) tetapi juga hobi berkuda Hannah. Makanya cover nya adalah gambar cewek dan kudanya yang kalau dilihat dari judulnya saja (tanpa membaca isinya) agak kurang nyambung, sih..

Hannah ini cewek yang unik. Dia lebih banyak punya teman cowok yang sama-sama mempunyai hobi pecinta alam. Ia senang memanjat, naik gunung, dan menunggang kuda. Dylan menjulukinya sebagai cewek koboy.

Bagian yang aku suka adalah saat Hannah berantem dengan Rachel. Akhirnya Hannah bisa mengeluarkan unek-uneknya selama ini, nggak terus menerus dipendam. Rachel juga bisa mengeluarkan kemarahannya pada Hannah. Meskipun bersahabat, biasanya kita memang suka jengkel dengan perilaku sahabat kita. Bisa saling jujur adalah hal yang hebat, menurutku.

Aku jarang membaca teenlit terjemahan seperti ini, tapi aku suka karena ceritanya tidak terlalu anak SMA banget. Settingnya juga berubah-ubah, bisa di stadion, di bukit, kandang kuda. Kalau teenlit lokal kan biasanya kerasa banget suasana sekolahannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar