Selasa, 13 Agustus 2013

Lupus Reborn (5 in 1) : Tangkaplah Daku Kau Kujitak


Judul : Lupus Reborn : Tangkaplah Daku Kau Kujitak
Penulis : Hilman Hariwijaya
Penerbit : Gramedia
Halaman : 400
Tahun : 2013

Jumpa lagi sama si permen karet maniak : Lupus. Masih dengan jambul dan rambut yang agak gondrong, sekarang Lupus adalah anak SMA kelas II. Teman-temannya juga masih yang itu-itu juga, ada Boim, Gusur, Anto, Aji, Gito, Fifi Alone, Ita, Meta, Utari, Nyit-Nyit dan masih putus nyambung sama Poppi.

Lupus Reborn ini ditulis dalam rangka mngobati kangen para penggemar Lupus. Aku termasuk pembaca setia Lupus dan membaca semua serial Lupus, dari Lupus Kecil, Lupus ABG, sampai Lupus ‘aja’.  Aku mulai membaca Lupus saat aku SMP, ditahun 2006, telat banget memang dibandingkan kemunculan Lupus di akhir tahun 1980an.

Dalam buku ini akan kamu temukan lima buah cerita Lupus yang dulu pernah dibukukan, yaitu Tangkaplah Daku Kau Kujitak, Cinta Olimpiade, Mahkluk Manis Dalam Bis, Tragedi Sinemata, Topi-Topi Centil. Kalau kamu pernah membaca Lupus, pasti akan merasakan beberapa perbedaan yang dibuat oleh penulisnya, ya iyalah, kalau sama namanya bukan reborn.

Hilman, penulisnya melakukan beberapa perombakan cerita. Ada yang jalan ceritaya diubah tapi intinya tetap sama. Tetapi yang paling menonjol adalah perubahan tren. Wajar kalau trennya harus dirubah habis-habisan, secara anak zaman sekarang mungkin nggak ngeh sama candaan zaman 80an. Sewaktu aku membaca Lupus, aku suka bingung karena nggak bisa membayangkan personelnya Duran-Duran itu kayak apa sih, untungnya di Lupus Reborn ini Duran-Duran sudah diganti sama personel Suju, hahaha…

Selain tren yang diubah, selebihnya sama aja. Olok-olokan Lupus yang khas ditujukan buat Boim si Playboy cap duren tiga bersama Gusur si seniman sableng, Fifi Alone yang ngebet jadi artis, Lulu yang suka usil. Dibandingkan dengan Lupus yang dulu, aku lebih suka yang dulu sih, atau mungkin karena yang ini udah tahu ceritanya sehingga nggak terlalu lucu lagi. Lumayanlah buat ngobatin rasa kangen sama si Lupus.


Sebenarnya aku malas ngomentarin typo karena berasa akhir-akhir ini tiap baca buku pasti jadi polisi typo, haha. Berhubung sudah aku tandai pakai sticky notes jadi nggak ada salahnya juga aku tulis disini. Typo yang aku sorot cuma dua *sorry bahasanya rada aneh :p, sisanya nggak aku tandain lagi karena malas. Di halaman 74 paragraf ketiga dan 79 paragraf ketiga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar