Minggu, 25 Agustus 2013

Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Judul : Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Penulis : Tere Liye
Tahun : 2013 (cetakan kesembilan)
Halaman : 264
Penerbit : Gramedia


Daun yang jatuh tak akan membenci angin
Aku bukan daun! Dan aku tak pernah mau menjadi daun!
Aku mencintainya, itulah semua perasaanku.
Dan dia jelas-jelas bukan angin

Mencintai seseorang yang berbeda 14 tahun dengan kamu tentunya bukan sebuah dosa. Tidak ada yang salah dengan rasa cinta Tania terhadap orang itu. Dia laki-laki, baik hati, seorang malaikat bagi keluarga Tania yang hanya terdiri dari ia, ibu, dan adiknya Dede. Tania mencintainya sejak ia masih berkepang dua, ia dan Dede bertemu orang itu di sebuah bis kota saat kakinya terkena paku payung.

Sejak kejadian itu, si malaikat sering berkunjung kerumah Tania. Ia bisa dibilang menanggung seluruh biaya untuk Tania dan Dede kembali ke sekolah, memberikan modal untuk Ibu berjualan. Dia laki-laki yang baik, di rumah kontrakannya ia suka mendongeng untuk anak-anak. Tania sangat menyukainya.

Cerita dalam buku ini hanya terjadi dalam satu hari. Dari pukul 20.00 sampai pukul 09.00 keesokan paginya. Tania yang sekarang berambut hitam panjang tumbuh menjadi gadis yang sangat cerdas, cantik, tetapi sekaligus dingin. Setiap malam ia pergi ke toko buku terbesar di kotanya untuk memandangi pemandangan dari lantai dua. Sebagai ganti untuk menikmati malamnya di toko buku itu, ia selalu membeli sebuah buku yang entah kapan akan ia baca. Melalui pemandangan di jendela toko buku itu, ia mengenang tahun-tahun yang ia lalui bersama orang itu. Malam itu, Tania berniat ingin menyelesaikan suatu urusan karena sudah lama ia bersembunyi di Singapura, menyimpan perasaannya yang tidak pernah bersambut.

Tere Liye selalu berhasil membuat sebuah kisah yang menarik untuk dibaca. Judul buku ini yang sangat panjang sama sekali tidak memberi gambaran akan cerita yang ada didalamnya. Setting yang diambil di sebuah toko buku membuatku merasakan kedekatan dengan Tania yang suka membaca buku. Ini pertama kalinya aku membaca buku Tere Liye dengan sudut pandang perempuan. Biasanya selalu kisah dari sudut pandang laki-laki.  

Aku selalu suka dengan gaya bahasa yang digunakan oleh Tere Liye. Aku sering membaca buku dengan gaya bahasa yang puitis agar terlihat lebih romantis, tapi aku tidak cocok dengan buku seperti itu, membuatku mengantuk. Kalau tulisan Tere Liye, gaya bahasanya mempunyai ciri khas tersendiri, bahkan tanpa melihat siapa yang menulispun pasti tahu kalau itu tulisan Tere Liye.


Aku memberikan 5 bintang untuk hampir semua buku Tere Liye yang sudah aku baca. Aku memang keranjingan membaca tulisan-tulisannya. Penulis satu ini memang penulis favoritku dari setahun yang lalu sejak pertama kali aku membaca tulisannya. Pengen banget bisa melakukan wawancara dengan Tere Liye, semoga saja bisa terwujud!

1 komentar: