Minggu, 25 Agustus 2013

Barcelona Te Amo

Judul : Barcelona Te Amo
Penulis : Kireina Enna
Penerbit : Gagasmedia
Tahun : 2013
Halaman : vi +266


Berjalan-jalan di kota seindah Barcelona mungkin merupakan impian banyak orang. Arsitektur bangunan kuno yang cantik membuat kota ini menjadi salah satu kota tujuan wisata paling terkenal di dunia. Sayangnya pesona Barcelona tidak bisa menghilangkan sifat pemurung yang dimiliki oleh Katya.

Gadis berusia 20 tahun itu kini memutuskan untuk kuliah di Universitat de Barcelona untuk memperdalam bakat melukisnya. Sebagai seorang yatim piatu, Katya merasa sangat beruntung bahwa pamannya mengurusnya dengan baik. Selama di Jakarta, Katya tinggal dangan Om Prana dan sepupunya yang manja luar biasa bernama Sandra.

La Rambla

Pertunjukkan Air Mancur di Montjuic

Kisah cinta segitiga antara Sandra, Katya dan Evan bermula sejak mereka masih kecil. Evan yang plin plan tidak bisa memilih siapa yang lebih ia cintai, apakah Sandra atau Katya. Tidak tahan dengan sikap Sandra dan Evan, Katya menerima tawaran pamannya untuk kuliah di Spanyol, sendirian tanpa Sandra. Sandra tetap di Indonesia, ia kuliah di jurusan arsitektur, mengikuti jejak Evan.

Bakat Katya dalam bidang melukis diketahui oleh seorang kurator yang sudah terkenal di Eropa. Lukisan Dandellion miliki Katya membuatnya yakin bahwa Katya adalah pelukis yang sangat berbakat. Kurator yang angkuh dan sombong itu memaksa Katya untuk ikut pameran yang akan dilaksanakan dua bulan lagi. Untuk itu ia memaksa Katya untuk membuat sebuah lukisan.

Buku ini adalah STPC keempat yang aku baca. Aku memang tidak membacanya secara berurutan. STPC yang sudah aku baca adalah Paris, Roma, dan Bangkok. Ini adalah pertama kalinya aku membaca STPC terbitan Bukune. Setelah selesai membaca buku ini aku merasa puas karena tidak menemukan satupun typo, berbeda dengan tiga STPC yang aku baca sebelumnya tetapi dihalaman 189 dan 193, kata aku digantikan oleh saya, apakah ini sengaja atau kesalahan pengetikan?

Aku kurang menikmati emosi yang dirasakan oleh tokoh-tokohnya, menurutku penulisnya tidak terlalu mendalam ketika menggambarkan bagaimana perasaan tokohnya. Selain itu, konflik yang ada didalamnya juga terlalu cepat selesai. Tidak sampai menimbulkan rasa penasaran. Tetapi penulis berhasil membuat aku kesal setengah mati dengan sifat Sandra yang suka seenaknya dan juga sifat Katya yang pasrah banget.

Ada satu bagian yang membuat aku heran. Ketika lukisan hilang, kenapa harus pergi kemana-mana untuk mencarinya? Memangnya tidak ada CCTV? Seharusnya diruang yang menyimpan lukisan apalagi lukisan terkenal pasti dilengkapi oleh CCTV. Sebuah kantor galeri juga harusnya ada CCTV, apalagi mengingat Spanyol adalah negara yang maju. Tidak mungkin tempat seperti museum tidak ada kamera pengawasnya.

Profesi tokoh dalam buku ini tidak jauh berbeda dengan Roma dan Bangkok. Jika Roma membahas tentang lukisan, dan Bangkok membahas arsitektur, maka Barcelona Te Amo adalah gabungan keduanya. Sebenarnya aku mengharapkan profesi yang berbeda, yang lebih unik, tetapi mungkin penulis lebih nyaman untuk menghubungkan “profesi seni” dengan kota seantik Barcelona.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar