Selasa, 13 Agustus 2013

Bangkok : The Journal


Judul : Bangkok : The Journal
Penulis : Moemoe Rizal
Penerbit : Gagasmedia
Halaman : viii + 436
Tahun : 2013

Arsitek. 

Khun Edvan adalah seorang arsitek yang sudah sepuluh tahun tidak mau berhubungan lagi dengan keluarganya. Kariernya di perusahaan asal Singapura mengantarkannya menjadi laki-laki yang tidak hanya muda, tampan, tapi juga sukses.

Pencarian akan warisan ibunya mengantarkan Edvan ke Bangkok untuk mencari jurnal. Warisan aneh itu memang berupa tujuh buah jurnal yang ditulis pada tahun 1980. Jurnal-jurnal itu disebarkan oleh mendiang ibunya ketika beliau berada di Bangkok kepada enam orang yang berbeda. Misi mustahil itu dipenuhi oleh Edvan demi menebus rasa bersalahnya kepada ibunya.

Kejutan yang didapat Edvan bukan hanya seputar jurnal yang harus ia cari, tetapi penampilan adik laki-lakinya, Edvin. Nama adikya itu bukan lagi Edvin tapi sudah berubah menjadi Edvina, yang akan mengikuti Miss Queen International di Bangkok. Kontes yang diselenggarakan untuk para waria.

Thailand adalah negara yang terkenal akan warianya atau biasa disebut lady boy, hal ini bukan rahasia lagi. Sampai-sampai perempuan di Thailand sering ditanya apakah mereka “perempuan asli” atau waria. Ngeri juga ya Thailand..

Miss Queen International

Nama-nama orang Thailand menurutku sangat sulit untuk diingat dan disebutkan dibandingkan nama orang asing lainnya. Biasanya mereka menggunakan nama panggilan singkat yang lebih mudah diingat terutama oleh orang asing. Sebut saja nama cewek yang menjadi guide Khun Edvan selama di Bangkok : Chananporn Watcharatrakul atau nama bekennya Charm.

Dialek orang Thailand juga lucu kalau sedang ngomong, melengking dan agak sengau, sekali dengar langsung tahu itu bahasa Thailand (bukan SARA loh yaa..). Aku sering nonton film Thailand jadi saat membaca novel ini otomatis sambil membayangkan bahasa dan wajah-wajah orang Thailand.

Cara Moemoe Rizal menggambarkan lokasi di Thailand lumayan bagus walaupun penulis satu ini mengaku belum pernah ke Thailand. Sayangnya, dia lupa dengan tempat wisata di negara sendiri. Sebagai orang Banjar, aku langsung shock *oke ini agak lebay* sewaktu dikatakan Pasar Terapung berada di Kalimantan Timur (halaman 281). Walaupun kalau dibandingkan secara kasat mata Pasar Terapung di Thailand yang lebih baik, tapi Pasar Terapung di Kalsel lah yang terbentuk secara alami sejak zaman kerajaan Banjar dulu karena kontur daerah Banjarmasin yang dikelilingi sungai sehingga masyarakatnya secara turun temurun menciptakan budaya berjualan di sungai.

Bangkok, Thailand

Banjarmasin, Indonesia

Selama membaca buku ini aku suka senyum-senyum sendiri, karena ehm, khun Edvan adalah seorang ehm.. arsitek. Edvan mirip sama seseorang yang aku kenal, orangnya sombong, narsis, dan merasa dirinya orang paling ganteng sedunia.

Berani mengambil hati seorang arsitek?Jangan protes kalau rumahmu mendadak lebih bagus dari sebelum bertemu aku. Halaman 262.

Yang membuat novel ini seru dan bikin aku nggak berhenti membacanya adalah mengenai jurnal yang dicari oleh Edvan. Kalau kisah cintanya sih cuma sebagai selingan aja dan gampang sekali ditebak.

4 dari 5 bintang aku kasih buat pencarian jurnalnya. Minus satu bintang adalah karena apa yang terjadi sama Charm gampang banget diketahui. Aku tadinya berharap semoga apa yang terjadi sama Charm nggak seklise itu, karena sudah banyak sekali novel yang mengangkat kejadian yang sama. Tapi, ya apa boleh buat… Salam buat khun Edvan deh! ^^

1 komentar:

  1. Penasaran dengan buku ini, apa bisa di kategorikan sebagai buku trevelling juga?

    BalasHapus