Rabu, 24 Juli 2013

[UnforgotTen] Coba Tunjuk Satu Bintang

Judul : Coba Tunjuk Satu Bintang
Penulis : Sefryana Khairil
Penerbit : Gagasmedia
Tahun : 2013
Halaman : 208


Adakah Tuhan sedang memberi jeda untuk kita atau memang tak ada nama kau dan aku dalam takdir-Nya?

Rencana Dio dan Marsya untuk menikah terpaksa dibatalkan karena Dio lebih memilih untuk mengejar mimpinya di Hamburg. Impian untuk menikah terpaksa Marsya kubur dalam-dalam. Toh Dio lebih memilih mimpinya daripada dia.

“Semua ini percuma, Yo..Mimpi kamu jauh lebih berarti daripada apa yang udah kamu miliki.”

Selama tiga tahun Dio pergi, dalam novel ini tidak diberitahukan dengan jelas apa mimpi Dio, apa pekerjaan dia di Hamburg. Lagian, kalau mau kerja di luar negeri kan, bisa nikah dulu sama Marsya, terus Marsyanya diboyong ke Jerman. Kalau benar-benar cinta, Marsya pasti mau lah diajak kesana *sotoy.

Di bab ketiga, Marsya pamitan sama mamanya pengen ke suatu tempat. Kesannya pengen pergi yang jauuuh banget, atau lagi mau ngelakuin sesuatu yang besar.

“Kamu sudah siap berangkat, Sya?”
“Sudah, Bu”
“Memangnya kamu harus pergi, Sya?”
“Ini yang terbaik, Bu.”
Kirain mau kemana, ternyata dia cuma mau pergi ke pantai sebentar, krik..krik..

Nama Sefryana Khairil membuatku memberikan ekspektasi yang besar terhadap buku terbarunya ini. Kemudian saat aku melihat resensi dari teman-teman blogger maupun GR, kok banyak yang bilang buku ini mengecewakan.

Aku semakin penasaran, jadi aku buktikan sendiri dengan membaca bukunya tentunya. Reaksi pertamaku saat membolak-balik halamannya adalah kaget karena ada gambar bulan dengan berbagai fase di setiap babnya. Aku dulu sempat fobia gambar benda langit, termasuk bulan. Tapi kalau kamu suka benda-benda langit, bintang, dan sebangsanya, desain novel ini cantik banget.

Pada novel-novelnya sebelumnya, aku selalu memberikan 4 bintang. Selain karena ceritanya yang menarik, aku suka dengan cara Sefryana Khairil menggambarkan emosi tokoh-tokohnya. Hal ini tidak aku dapatkan dalam novel terbarunya, Coba Tunjuk Satu Bintang.

Novel ini bisa selesai dibaca dengan cepat. Halamannya tipis dengan huruf yang besar. Jalan ceritanya juga sangat cepat. Aku merasa novel ini terlalu datar, padahal biasanya Sefryana Khairil tulisannya nggak seperti ini L Setelah selesai membaca aku jadi mikir kok gini aja? Apa jangan-jangan novel ini belum selesai ditulis?

Tokoh utama dalam novel ini tidak memberi ikatan emosi dalam hatiku, karena setting yang sering melompat-lompat jadi banyak yang kesannya belum tuntas. Seandainya halamannya bisa lebih panjang lagi…

Kalimat yang janggal ada di halaman 81, saat Rama memesan secangkir espresso. Beberapa detik kemudian espresso itu sudah ada di hadapannya. Secepat itu kah memesan minuman di sebuah kafe? Kenapa nggak beberapa menit, misalnya?

Kemudian di halaman 95 ada kalimat medan wall salah satu membuat mereka takjub berhadapan dengan sebuah dinding raksasa bawah laut. Salah satu apa maksudnya?

Terakhir ada satu typo di halaman 110 Marsya menatap Dio denga tajam.

Maaf ya, aku cuma bisa kasih 1,5 bintang, karena ceritanya kurang sesuai dengan harapanku. Tapi covernya manis, juga ide untuk memasukkan kisah tentang rasi bintang untuk menjadikan ciri khas dalam novel ini oke banget. Saranku, ceritanya kalau bisa lebih panjang dan diperdalam lagi, soalnya banyak yang belum tuntas, biar nggak ada kesan maksa.. hehe.

2 komentar:

  1. Haha.. yang pergi ke pantai itu kocak ya, Mbak. Banyak banget yang nggak puas sama buku ini. Menurut saya sampulnya juga nggak nyambung mbak, judulnya bintang, tapi yang nongol bulan sabit :P

    BalasHapus
  2. saya belum baca tapi setelah baca sinopsinya seperti sudah baca, hehheheh

    BalasHapus