Minggu, 21 Juli 2013

Titik Nol

Judul : Titik Nol
Penulis : Agustinus Wibowo
Tahun : 2013
Penerbit : Gramedia
Halaman :  xii + 556


Aku tak tahu istilah yang tepat untuk perjalanan seperti ini. Turis? Jangan pernah panggil kami turis. Traveler? Hari gini semua orang juga ngaku traveler. Pengeliling dunia? Ah rasanya tidak sebegitunya. Perambah jagat? Ah itu apalagi. Eksplorer? Tak usahlah misi-misi ekspedisi itu. Intrepid traveler? Kedengarannya sok tahu banget. Pengembara? Musafir? Globetrotter? Modern Hippie? Modern nomad? Hardcore traveler? Ah, lupakan semua label itu.

Cukup lama aku menyelesaikan membaca buku ini, dua bulan lebih beberapa hari. Halamannya yang cukup tebal membuat aku kadang malas untuk meneruskan. Pada bab-bab awal aku sempat kecewa membeli buku ini. Tidak seperti buku traveling kebanyakan yang membahas uang yang dikeluarkan selama jalan-jalan, tempat yang wajib dikunjungi, harus menginap di hotel mana, sampai buku yang mengupas jalan-jalan ala backpacker dengan harga termurah. Buku ini sama sekali tidak membahas hal-hal seperti itu.

Perjalanan yang ditempuh Ming alias Agustinus berawal di Beijing. Ia dilepas kedua orangtuanya dari kampung halamannya di Lumajang untuk kuliah di Beijing. Besar harapan kedua orangtuanya agar Ming menjadi “orang”. Tetapi setelah lulus S1 ia malah memilih untuk menjadi musafir, berkeliling dunia lewat jalan darat. Papanya kecewa karena Ming menolak beasiswa S2 dan karier dengan gaji tinggi.

Mereka tampaknya membiarkanku mencicip kehidupan jalanan, dan tentu mereka berharap suatu hari nanti aku kembali “ke jalan yang benar”, seperti layaknya “orang normal”.

Dari titik nol  di Beijing inilah aku menepuk dada. Aku memang bukan siapa-siapa, dan tak akan pernah menjadi siapa-siapa. Dari titik nol ini aku memandang tujuan akhir di awang-awang.

Sampai di bagian Beijing, Tibet, Himalaya, aku bosan. Aku kurang bisa menghayati perjalanan spiritual yang ditempuh dengan mengelilingi gunung-gunung di Tibet. Jujur sih, aku kaget karena buku ini membahas negara-negara Asia, terutama negara-negara yang “jarang” di ekspos dalam sebuah buku traveling. Jadi dibagian sini aku selow banget bacanya, bahkan sampai satu bulanan nggak maju-maju.

Baru setelah Ming melanjutkan perjalanan ke India aku mulai bisa masuk ke dalam buku dan cara Ming bercerita perjalanannya. Wow.. India memang dikenal kumuh tapi aku tidak tahu bahwa India sekejam itu. Ming begitu mendetail mengupas tentang India membuatku ngeri sendiri membayangkan kalau aku harus kesana. Di India juga Ming mengalami pelecehan yang dilakukan oleh sesama laki-laki. Saat membaca buku ini aku langsung teringat film Slumdog Millionaire (film India) dan langsung menonton film ini besoknya.

Apa yang diceritakan oleh Ming tidak jauh berbeda dengan film yang aku tonton. Malah menurutku, penggambaran Ming jauh lebih kompleks. Wajar saja, film berdurasi dua jam tidak sama dengan buku setebal 500 halaman J

Di India, Ming mengalami hepatitis. Mata dan sekujur tubuhnya kuning. Untungnya rumah sakit di India gratis (kalah nih Indonesia), tapi pelayanannya memang sesuai dengan gratisnya itu -_-

Setelah India, negara yang dikunjunginya adalah Pakistan. Dusun terpencil di pedalaman Hunza yang sanga dingin dipilihnya menjadi tempat untuk beristirahat. Hunza sudah terkenal akan minimnya sinar matahari, bahkan tidak ada. Tapi daerah itu sangat cocok untuk memulihkan kesehatan.

Berbeda dengan India, penduduk Pakistan mayoritas beragama Islam. Ia diperlakukan dengan sangat ramah oleh penduduk sana. Rupanya mereka memang selalu memperlakukan tamu-tamu dengan sangat baik, padahal saat itu di desa mereka sedang gempa bumi

Ming sempat risih karena penduduk Pakistan suka bertanya sesuatu yang sangat personal :

Di Pakistan mereka menanyakan pertanyaan yang selalu sama : What is your good name? (Semua namaku baik), What is your qualification? (Aku kan bukan mau melamar kerja), Are you muslim? (Pertanyaan yang membuat risih), Why coming to Pakistan? (Pertanyaan yang menohok esensi perjalanan, karena perjalanan ini semakin lama memang semakin tanpa arah dan tak punya alasan). Ribuan pertanyaan itu adalah manifestasi dari realita perjalanan.

Nah, saat membaca buku ini aku jadi ingat sama buku-buku tentang Saudi Arabia undercover seperti Kedai 1001 Mimpi, Girls of Riyadh, dan Princess. Isinya kurang lebih sama, tentang masyarakat Arab yang begitu dikungkung oleh agamanya. Jadi masyakarat ini dipisahkan hampir secara total antara laki-laki dan perempuan. Akibatnya laki-laki mencari sarana untuk pemenuhan nafsu mereka. Prostitusi secara diam-diam merajalela. Bahkan mereka juga melakukannya dengan sesama laki-laki. Ih serem waktu Ming diajak “begitu” sama laki-laki Pakistan di sebuah prostitusi, untung bisa kabur…

Kau sudah diperingatkan, begitu menginjakkan kaki di Pakistan, kau akan berada disebuah dunia lain. Kau diperingatkan, Pakistan bukanlah dunia normal kita. Ingat, jangan lupa Pakistan adalah negeri tanpa wanita.

Banyak sekali kutipan di buku ini yang aku sukai. Jadi maaf kalau postingan ini jadi penuh kutipan. Hahaha..

Orang bilang, kenikmatan perjalanan berbanding terbalik dengan kecepatan berjalan. Pemandangan terindah justru trelihat ketika melambatkan langkah, berhenti sejenak. Menetap berbulan-bulan di satu desa jauh lebih bermakna daripada mengunjungi lima negara dalam lima hari.

Bisa dibilang ini adalah buku tentang perjalanan yang paling filosofis. Bukan hanya mengajak bersenang-senang tapi juga berpikir bahwa perjalanan bisa lebih dari sekadar jalan-jalan saja. Negara-negara yang dikunjungi pun bukan negara yang berada dalam "zona nyaman"Melalui perjalanan yang dilakukannya, Ming memang bertemu banyak orang, banyak cerita dan foto-foto bagus (foto-foto tersebut juga ada didalam buku ini) tetapi hatinya sebenarnya selalu memikirkan rumah, terlebih lagi, ia memikirkan kesehatan ibunya.

Hwie, mama Ming adalah perempuan Tionghoa yang cantik. Ia pekerja keras, khas seorang mama yang rela anaknya pergi jauh agar mimpi anak itu tercapai. Bertahun-tahun Ming percaya bahwa ibunya baik-baik saja, sampai berita itu datang. Ibunya terkena kanker ovarium. Ia terpaksa pulang. Perjuangan ibunya melawan kanker, serta pencarian agama juga dituliskan disini. Setelah beberapa halaman tentang perjalanan, maka akan ada beberapa paragraf pendek tentang mama. Begitu seterusnya sampai buku ini selesai.



Selesai dengan urusannya di Pakistan, perjalanan berlanjut ke Afganistan. Hanya orang yang berani yang mau datang ke negara penuh konflik itu. Bom yang meledakkan belasan nyawa sudah jadi pemandangan biasa. Orang-orang bisa melanjutkan makan dengan tenang walau tidak jauh dari rumahnya ada bom meledak. Cerita tentang Afganistan ditulis Ming dengan lebih detail pada bukunya yang lain yaitu Selimut Debu.

Tak ada perang yang cuma tentang perang. Ketika dunia sibuk membicarakan keamanan dan pengerahan tentara NATO, serangan terorisme dan radikalisasi, demokratisasi dan kesetaraan gender, sesungguhnya hal yang diperhatikan orang-orang disini sangat sederhana : makan 

Sejauh-jauhnya Ming pergi, menjadi musafir dimana-mana, pada akhirnya ia harus pulang. Bertemu dengan keluarganya, orang-orang yang selama ini ia tinggalkan.

Pulang memang adalah jalan yang harus dijalani semua pejalan. Dari titik nol kita berangkat, kepada titik nol kita kembali.

Buku ini kesannya kok serius sekali, tapi sebenarnya lumayan kocak juga. Aku sempat senyum-senyum sendiri kalau membaca nasib Ming (kok malah diketawain -_-) karena dia memang sangat polos. Hihi.. Kata Lam Li, teman Ming dari Malaysia, dikepala laki-laki itu seolah tertulis Rob Me, Rape Me, Rescue Me.

Ada satu kesalahan penulisan nih : di halaman 211 paragraf pertama, kata ‘yang’ ditulis dobel.

Sulit untuk membuat resensi buku ini, beneran deh.. kamu harus membaca bukunya sendiri untuk tahu kalau buku ini memang berbeda dengan buku traveling kebanyakan.

1 komentar:

Riski Fitriasari mengatakan...

waaaaa... jadi pengen baca bukunyaa.. tp cost buat beli buku ulan ini sdh habis.. hiks gmn donk..

Poskan Komentar

 
Cute Polka Dotted Pink Bow Tie Ribbon