Senin, 01 Juli 2013

The Truth About Forever

Judul : The Truth About Forever
Penulis : Orizuka
Tahun : 2013
Penerbit : Gagasmedia
Halaman : 301


Yogas berangkat dari Jakarta menuju Yogyakarta dengan kereta api demi sebuah misi. Misi itu adalah menemukan seseorang yang telah membuat hidupnya hancur, seseorang dari masa lalunya. Kemudian Yogas ngekos di sebuah kos yang sudah reyot demi menghemat uangnya. Disana ia bertemu dengan cewek bernama Kana. Sampai disini ceritanya masih datar.

Kamar kos yang bisa disewa Yogas hanya tersisa satu, yaitu kamar disebelah kamar Kana. Cewek-cowok ngekos sebelahan kamar? Apalagi pemilik kos ini tantenya Kana, tapi kesulitan ekonomi membuat tantenya terpaksa menyewakan kamar itu untuk Yogas. Seringnya interaksi antara mereka berdua otomatis menimbulkan benih-benih cinta dong *ecieee :>

Hal yang membuat aku tidak bisa berhenti membaca buku ini adalah untuk mencari tahu siapa orang yang dicari oleh Yogas dan alasan Yogas mencarinya. Yogas yang suka berubah mood seperti bunglon ini sepertinya menyimpan dendam kepada seseorang itu selama enam tahun.

“Gue harus cari dia sampe dapet. Setelah itu gue nggak peduli apa yang bakal terjadi sama gue. Toh gue juga udah nggak punya alasan buat hidup.”

Perasaan Kana kepada Yogas sebenarnya tidak bertepuk sebelah tangan. Yogas juga jatuh cinta kepada Kana, tetapi Yogas tahu kalau mereka berdua tidak mempunyai masa depan. Sama sekali tidak punya. Yogas melarang dirinya untuk berhubungan dengan siapa pun termasuk Kana. Ia merasa sangat bersalah sudah melibatkan Kana dalam hidupnya. Kadang Yogas bersikap baik ke Kana, tetapi setelah menyadari satu hal sikapnya berubah menjadi judes, galak, aih bikin penasaran aja.

Seharusnya, dari awal Yogas tidak meminta bantuan pada siapapun. Seharusnya, memang dari awal Yogas hidup sendiri.

Setelah mengetahui apa yang terjadi pada Yogas, Kana sangat terpukul. Kalau aku jadi Kana, aku nggak bakal sanggup untuk bertahan bersama Yogas. Salut banget sama cewek kaya Kana.

Sosok Kana sendiri adalah cewek yang ceria dan cerewet. Ia bercita-cita menjadi penulis best seller. Kehadiran Yogas di kosnya membuat Kana sering kehilangan konsentrasi untuk menulis. Kana sering naik ke lantai tiga kosannya bersama Yogas untuk memandang bintang. Seolah-olah kos milik berdua gitu deh, penghuni kos lainnya yaitu Ono dan Agus ngekos di kamar bawah sih.

Pas Yogas dan Kana tidur berdua (nggak ngapa-ngapain, tidur doang) masa tantenya Kana nggak curiga sih? Nggak keliatan ya kalau dari rumah tantenya kalau Kana sering keluar masuk kamar Yogas? -_-

Adegan menangis sangat banyak dalam buku ini. Nanti Yogas yang nangis, nanti Kana, untung aku yang membaca nggak ikut-ikutan nangis, ehehe.

Saat membeli buku ini aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang ceritanya. Aku juga baru tahu kalau buku ini dicetak ulang dengan cover yang berbeda. Mengenai cover aku lebih suka cover yang sebelumnya. Warna hijaunya lebih meneduhkan dengan pohon yang berkesan angker. Cover yang sekarang rasanya terlalu polos.

 Walaupun seperti yang aku bilang diatas, novel ini banyak adegan menangisnya, tetapi bukan berarti ini novel menye-menye. Ada pesan yang sangat kuat yang ingin disampaikan oleh si penulis, jadi wajib dibaca oleh remaja, maupun untuk orangtua.

3 komentar:

  1. wah, novelnya cetak lagi ya? kebetulan aku baca yang cetakan pertama/ sewaktu sampulnya masih warna hijau

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, lebih fresh.. tapi tetap lebih suka cover lama :(

      Hapus
    2. aku baca cetakan terbaru, tp ceritanya agak beda. Atau dari dulu emang kayak gitu?
      mohon bantuannya (sedih baca yang baru tp beda cerita) ;(

      Hapus