Rabu, 03 Juli 2013

Rindu

Judul : Rindu
Penulis : Sefryana Khairil
Tahun : 2010
Halaman : 243
Penerbit : Gagasmedia

Rindu

I was born to tell you ‘I Love You’

Pernikahan Zahra dan Krisna berada di ujung kehancuran selepas meninggalnya Daffa, anak mereka satu-satunya. Anak laki-laki berusia lima tahun itu meninggal tepat di hari ulang tahunnya, setelah dirawat selama dua hari di rumah sakit akibat kecelakaan.

Kuatkan hati ini, Tuhan, desis Zahra. Dia menarik napas dalam, menahan desakan jiwanya. Dia kuat. Sangat kuat menghadapi ini. Zahra berusaha meneguhkan itu. Tuhan yang memberikan nyawa, Tuhan yang memberikan napas, Tuhan yag memberikan hidup, dan kepada-Nya pulalah kita kembali.

Rasa bersalah terus menerus menghantui Zahra, berbagai macam kata seandainya berseliweran di dalam pikirannya. Seandainya ia tidak melepas pegangan tangan Daffa, seandainya hari itu mereka tidak pergi ke toko sepeda, seandainya ia tidak lalai mengawasi Daffa, mungkin Daffa tidak akan kecelakaan.

Lain lagi dengan Krisna. Ia berusaha mencari kambing hitam atas meninggalnya putra satu-satunya itu. Krisna ingin menimpakan kesalahan pada Zahra, pada dokter, pada supir mikrolet, pada orang-orang yang hidupnya lebih bahagia daripada dirinya. Krisna sebenarnya sudah berusaha untuk memahami Zahra, tetapi seberapa keras pun ia mencoba, ia selalu gagal.

Kehilangan, kegagalan, akan memberimu pelajaran menjadi manusia yang lebih baik. Kalau kamu nggak pernah salah, kamu selalu berbuat begitu, kan? Terus, terus, sampai lupa diri.

Kehidupan rumah tangga yang tadinya harmonis sekarang berubah menjadi dingin. Zahra dan Krisna bagaikan dua orang asing di dalam rumah mereka sendiri. Tidak ada lagi kehangatan suami istri, celotehan anak, semuanya menjadi gelap.

Trauma Krisna terhadap ayah dan ibunya yang hidup berpisah membuat ia ketakutan setengah hati, mendekati depresi akut. Ia takut rumah tangganya juga akan mengalami nasib yang sama. Sayangnya, bukannya mempertahankan, ia malah membuat pertengkaran dengan istrinya.

“Semua ada porsinya, Ra. Porsi bahagia, porsi sedih, porsi kecewa. Kalau kita makan kekenyangan, pasti nggak bisa jalan atau muntah. Dan, kalau kita terlalu bahagia, bisa-bisa kita jatuh saat kebahagiaan itu hilang.”

Dalam hatinya yang terdalam, Krisna masih sangat mencintai Zahra. Tetapi egonya sebagai laki-laki merasa Zahra tidak pernah mau memahaminya. Tidak hanya rumah tangga, Krisna juga mengalami berbagai masalah di kantornya.

Diantara semua kemungkinan, kali ini Krisna hanya ingin tidak ada yang terluka. Dia mencintai Zahra, itu kenyataan. Karena begitu cintanya, dia tidak bisa melihat Zahra sedih.

Berbulan-bulan setelah kematian Daffa, Zahra masih belum mampu bangkit. Ia selalu membersihkan kamar Daffa, menjahit selimut-selimuntnya, membaca dongeng, sedangkan bagian rumah yang lain ia telantarkan. Suami mana yang tidak kesal melihat istrinya tidak lagi hadir untuknya? Bahkan Zahra menolak kewajibannya sebagai istri dua kali. Sedikit demi sedikit masalah pun muncul. Bagaimanapun keduanya mencoba menutup-nutupi, tetapi masalah itu akhirnya meledak juga.

Kehadiran mertuanya di rumah membuat Zahra merasa tidak nyaman. Ibu mertuanya itu menasehati Krisna mengenai memilih istri yang baik. Zahra yang mendengar kata-kata ibu mertuanya itu sakit hati. Padahal ibu mertuanya sendiri tidak bisa menyelesaikan masalahnya dengan ayah Krisna sehingga mereka harus berpisah selama dua puluh tahun tanpa perceraian, ironis.

Konflik demi konflik yang dilalui oleh Krisna dan Zahra sangat mengaduk-aduk emosi. Kehidupan rumah tangga tidak selamanya indah, Krisna dan Zahra yang tadinya merasa hidup mereka sempurna harus dihadapkan dengan cobaan. Saat mereka merasa sudah memiliki semuanya, pasangan yang mencintai, anak, rumah, mobil, pekerjaan yang mapan, saat itulah Allah menyelipkan cobaan rumah tangga mereka semakin tangguh.

Aku sangat suka dengan gaya menulis Sefryana Khairil. Rindu adalah buku ketiganya yang aku baca setelah Sweet Nothing dan Coming Home. Ciri khasnya adalah cerita mengenai kehidupan rumah tangga. Buku ini sebenarnya ingin aku kasih 5 bintang, tetapi banyak sekali typo yang bertebaran dan beberapa kata yang terasa janggal untuk dibaca sehingga aku menurunkan bintangnya menjadi 4 saja

Kamu nggak mau punya anak lagi? Kamu dan Krisna masih mudah, masih ada waktu (lupa halaman berapa). Maksudnya muda?

Dari sekian hari, baru kalii ini dia merasa tenang berbicara dengan ibu (Hal 114).

Kalau ditanya yang paling menginginkan mati, itu adalah dirinya (Hal 118). Sebaiknya setelah kata ditanya ditambahkan kata siapa.

Daun-daun basah mereflessikan cahaya matahari (Hal 139)

“…Kamu mau bilang aku bukan istrinya yang baik?..” (Hal 165). Ini kata-kata Zahra ke Krisna, sebaiknya diganti menjadi istrimu

Dia merasa sikapnya ini sangat kekanak-kanakan, tapi tidak mungkin pulang (Hal 169). Loh, ini maksunya apa, tidak mungkin pulang? Pulang ke rumahnya? Atau ‘Tapi ia tidak mungkin pulang’?

Krisna menatap sepupu istrinya. Dia baik-baik aja, kan?” (Hal 198). Kurang tanda petik sebelum kata Dia.

Tidak ada yang tahu akhir hidup seseorang dan tidak ada yang bagaimana akhir sebuah kisah (Hal 209-210). Setelah kata bagaimana, harusnya ditambahkan kata tahu.


Keseluruhan buku ini sudah bagus, baik dari cover, tata letak, maupun desain didalamnya, sangat khas Gagasmedia. Sebaiknya yang juga tak kalah penting untuk diperhatikan adalah pengetikan tulisan, agar tidak ada typo sehingga lebih nyaman untuk dibaca. Berhubung buku ini adalah cetakan pertama, mungkin sekarang sudah cetak ulang? Semoga dicetakan selanjutnya kesalahan penulisan ini sudah diperbaiki. 

1 komentar: