Jumat, 19 Juli 2013

[UnforgotTen] Refrain

Judul : Refrain
Penulis : Winna Efendi
Penerbit : Gagasmedia
Tahun : 2013
Halaman : vi + 318


Agak menyesal baru sekarang baca Refrain. Dulu pengen beli tapi nggak jadi-jadi. Sekarang Refrain sudah masuk cetakan ke-17! Wow.. covernya juga sudah ganti, tidak lagi amplop bersampul biru tapi jadi fotonya si ganteng Afgan dan si cantik Maudy Ayunda. Mereka berdua tuh perfect couple aku pikir. Surat biru tetap ada dalam cover film ini, tapi dijadikan bonus (ada di halaman setelah cover).

Lagi-lagi aku menyesal kenapa baru baca sekarang setelah filmnya keluar. Bayanganku tentang Niki dan Nata jadi tidak murni lagi berdasarkan novelnya semata tapi sudah “keganggu” sama penilaianku terhadap sosok Afgan dan Maudy. Kalau boleh aku bilang, aku jadi membayangkan Niki itu mirip sama Kugi di Perahu Kertasnya Dee Lestari. Sosok Niki yang lincah, mungil, dan mengajar anak-anak jalanan mirip sama Kugi.

Pas selesai membaca novel ini aku nonton trailer filmnya, kok banyak banget yang beda? Austria sama sekali nggak disinggung dalam bukunya, Nata juga nggak pakai kacamata kayak Afgan. Annalise yang digambarkan setinggi 180 cm kok lebih pendek dari Afgan? Oke, cukup sampai disini mengomentari trailer filmnya.

Sudah jadi rahasia umum kalau cewek-cowok yang sahabatan apalagi dari kecil hampir selalu menyimpan perasaan cinta. Entah cinta yang bertepuk sebelah tangan, ataupun yang bersambut. Yang paling khas dari cinta dua sahabat, biasanya keduanya memilih diam dengan alasan agar tidak merusak persahabatan.

Begitu juga dengan alasan Nata. Sejak merasa Niki berubah menjadi cewek yang menarik, Nata perlahan-lahan mulai menyadari bahwa ia mencintai Niki. Nata yang dingin, cuek, jaim, sarkastik memilih untuk mencintai Niki secara diam-diam.

Sediam-diamnya Nata, ia nggak sanggup juga buat mengungkapkan isi hatinya walaupun dengan cara sembunyi-sembunyi. Ia mengirimkan surat beramplop biru (yang jadi bonus novel ini) untuk Niki. Disana Nata menuliskan :
Bulan emas tinggal separuh
Bintang-bintang sangat pemalu
Kau terduduk disampingku
Aku lantas mencintai bayangmu
Kau menoleh untuk tersenyum
Hatiku berserakan.. lebur dan rapuh

Dalam bayangan Niki, cinta pertamanya bukanlah Nata. Ia mengidamkan laki-laki berkuda putih, seorang prince charming yang akan membahagiakannya selama-lamanya. Saat pertandingan di sekolah, harapan Niki terkabul. Ada seorang cowok cakep yang mengajaknya kenalan. Terang aja Nata marah dan ngambek habis-habisan sama Niki.

“…Gak semua cowok di dunia ini baik, Nik. Lo harus hati-hati, apalagi sama model cowok yang sembarangan ngajak cewek kenalan.”

Persahabatan Niki-Nata yang dijalani lebih dari 11 tahun itu sekarang kehadiran orang baru. Cewek pindahan New York itu bernama Annalise, anak model terkenal blasteran Rusia-Amerika-Indonesia, Vidia Rossa. Niki yang mengidolakan Vidia Rossa sangat bersemangat untuk berteman dengan Annalise. Annalise ini kasihan, karena sejak orangtuanya bercerai, ia seringkali berpindah-pindah tempat tinggal. Sekarang ia pindah ke Jakarta dan tinggal dengan tante Nadja. Seringkali Annalise menangis karena ia kangen sama mamanya.


“Sometimes, I really wish, I can see more of my mother in person than in those magazine covers.”

Annalise ini anaknya manis banget, anggun, cantik, hobinya baca novel klasik dan fotografi. Keren deh pokoknya! Dia juga agak pendiam dan cenderung kalem. Helena, ketua cheerleaders aja sempat dibuat manyun gara-gara Annalise menolak untuk gabung di klub itu. Annalise adalah tokoh favoritku dalam novel ini, yeay!

Dengan kehadiran Annalise, cinta segitiga pun dimulai, hmm.. tepatnya cinta segi empat. Nata menyukai Niki, Niki menyukai (berpacaran dengan Oliver) dan Annalise menyukai Nata. Semuanya mengalami patah hati pada akhirnya dengan cara yang berbeda-beda *spoiler.

Disamping kisah cinta dan persahabatan, novel ini juga mengisahkan tentang pencarian mimpi. Niki sempat dibingungkan karena ia tidak mempunyai mimpi, cita-cita sedangkan Nata jelas, ingin menjadi pemusik. Annalise juga jelas, mimpinya adalah menjadi fotografer. Niki dibuat galau karena ia sudah kelas 3 SMA, tetapi masih belum tahu tujuan hidupnya.

“Mimpi itu bukan deadline, Nik. Bukan sesuatu yang nggak bisa berubah. Bukan sesuatu yang datang dan pergi begitu aja. Nggak usah terlalu stres mikirinnya.”

Satu hal yang membuatku kecewa adalah banyaknya typo yang bertebaran. Cetakan ke-17 harusnya kan lebih banyak editan untuk tulisan, kok dibiarkan begitu saja sih L Cetakan selanjutnya lebih diperhatikan ya. Ada 5 typo dalam novel ini, yaitu :

Tanpa mengenakan kaus untuk menutupi dadanya yang telanjang, dDia menelusuri tangga dengan langkah lebar-lebar (hal 39)

Helena pernah ngajak dia buat gabung tim cheers dan responssnya nyebelin banget. (Hal 50)

Mendegra omongan Niki… (hal 77)

Lalu, beliau meninggalkan gelas wine kosong di atas meja, meninggalkan balkoni itu (hal 206)
…Annalise tanyakan pada orang uanya (hal 211)

4 bintang aku kasih ke novel sweet ini. Mbak Winna, aku suka sama penggambaran tokoh-tokohnya!! :D


Tidak ada komentar:

Posting Komentar