Sabtu, 13 Juli 2013

Berjalan di Atas Cahaya

Judul : Berjalan di Atas Cahaya
Penulis : Hanum Salsabiela Rais, dkk
Tahun : 2013
Penerbit : Gramedia
Halaman : 210


Kalau kamu pernah membaca 99 Cahaya di Langit Eropa, pasti tidak asing lagi dengan perjalanan yang dilakukan oleh Hanum Rais. Buku ini masih berbicara tentang Islam di Eropa. Rasanya pas sekali membacanya di bulan Ramadhan seperti ini. Aku beli di Gramedia diskon 25% karena ada promo Back To School, asyik.. kesampaian juga beli buku ini.

Kali ini Hanum Rais tidak menulis sendirian, ia bersama dengan Tutie Amaliah dan Wardatul Ula. Hanum Rais menulis 12 buah cerita, Tutie Amaliah menulis 6 cerita, dan Wardatul Ula menulis 2 buah. Ditambah 1 buah epilog yang ditulis Hanum Rais, jadi total ada 21 cerita nyata yang mereka alami selama berada di Eropa.

Negara yang disorot dalam buku ini adalah Austria, Italia, Rusia, Turki, dan Swiss. Nah, covernya mungkin harus direvisi karena tidak ada Perancis, artinya tidak ada menara Eiffel juga dong, wkwkwk…

Beberapa cerita sudah pernah aku tonton di Trans TV saat Ramadhan tahun lalu tepatnya pada cerita Bunda Ikoy, Si Perempuan Jam dan Neerach yang Mengesankan. Memang saat berada di negara tersebut, Hanum Rais sedang melakukan liputan untuk Trans TV. Kapan ya punya pengalaman kayak gini, jalan-jalan diluar negeri terus ketemu orang-orang hebat o:)

Di Austria yang notabene masyarakatnya berbahasa Jerman, Hanum Rais memiliki tandem partner untuk berbahasa Jerman, yaitu Xiao Wei, mahasiswi Austria yang punya cara berpikir unik.

“Aku harus jujur padamu. Saat pertama kali bertemu denganmu, aku kaget. Aku tak menyangka selama ini aku bertelepon dengan perempuan berjilbab. Muslim dibilang teroris. Muslim itu suka kekerasan. Perermpuan Muslim itu terbelakang dengan hijabnya. Perempuan Musim itu rigid dan sebagainya. Itu yang dikatakan orang-orang di koran, di TV, bahkan di kampusku. Aku benar-benr malas melihatmu, awalnya.”

“Tapi aku tak mau menjadi orang-orang yang mengatakan bahwa di langit ada gajah terbang padahal aku sama sekali tak melihatnya, Hanum.

“Aku ingin menjadi orang yang pertama kali mengatakan tak ada gajah terbang di langit. Aku akan katakan, hanya orang-orang tak berpendirian, tak mau berpikir, dan takut menyatakan kebenaranlah yang melihat gajah terbang.” tandas Xiao Wei

Ada satu typo yang aku lihat di buku ini yaitu pada halaman 117 paragraf kedua : tempat untuk makan dan minum, yang banyak menawarkar wine spesial.

Sulit untuk memilih cerita mana yang menjadi favoritku, dari judul-judul saja rasanya semuanya menarik, isinya apalagi. Salah satu yang bikin hati gerimis adalah cerita Karena Saya Tidak Gaul, tulisan Tutie Amaliah, disitu beliau menceritakan mengenai pengalamannya dikata-katai dibelakang oleh para bule. Sakit banget nggak sih dikata-katai teman sendiri, terus ditertawakan padahal orang yang mengata-ngatai itu tidak tahu apa niat dibalik perilaku kita, hiks-hiks.

Dibandingkan dengan 99 Cahaya, buku satu ini lebih banyak fotonya. Jadi lebih mudah untuk membayangkan orang-orang dan situasi yang jadi latar belakang cerita. Tahun depan semoga mbak Hanum menelurkan buku lagi, amiin, pokoknya buku ini cocok banget buat yang mau ngabuburit.

“Dan Allah menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan, dan Dia mengampuni kamu, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Q.S Al Hadid : 28)

1 komentar:

  1. waaahh jadi nyesel kemarin ditawari ama Mbak2 Gramedia, gak ku ambil, padahal masih ada poin yg bisa dituker jadinya bisa gratis.

    well, klo ke Gramedia lagi mau beli buku ini juga aahh.. jadi penasaraaan.. sukaaaa tulisannya Mbak Hanum Rais ini :D

    BalasHapus