Kamis, 27 Juni 2013

The Perks Of Being Wallflower

Judul : The Perks Of Being Wallflower
Penulis : Stephen Chbosky
Halaman : 230
Ebook

The Perks of Being a Wallflower

In social situations, a wallflower is a shy or unpopular individual who doesn't socialize or participate in activities at social events. He or she may have other talents but usually does not express them in the presence of other individuals (Wikipedia)

Wallflower itu seperti seorang introvert.  Introvert bukan antisosial biarpun kadang-kadang ada orang yang memandang kedua istilah ini hampir serupa. Introvert lebih nyaman sendirian, sedangkan orang yang antisosial senang merusak benda-benda dan melakukan pelanggaran hukum.

Buku ini sangat unik karena diceritakan dalam bentuk surat yang ditulis oleh Charlie si wallflower. Disetiap surat ia menuliskan kejadian yang ia alami. Surat ini ditulis dari tahun 1991 sampai 1992. Semua nama yang ada dalam surat tidak diberitahu nama belakangnya melainkan hanya nama panggilan.
Charlie adalah anak laki-laki yang baru masuk SMA. Tidak seperti remaja kebanyakan ia lebih suka mengamati sekelilingnya daripada ikut berpartisipasi dalam kegiatan teman-temannya. Charlie tidak punya teman di sekolahnya. Hal yang sangat sulit untuk dihadapi anak seumur itu.

Kakak laki-laki Charlie lumayan populer sebagai seorang atlet sepak bola. Sedangkan kakak perempuannya cantik. Entah kenapa Charlie ini tidak seperti kedua saudaranya. Ia terlihat lemah dan cengeng. Charlie mendatangi psikiater sejak Aunt Helennya meninggal. Ia sangat kehilangan perempuan itu. Hanya Aunt Helen satu-satunya orang yang memberinya dua buah hadiah saat natal.

Suatu hari Charlie datang ke stadion untuk menonton pertandingan sepak bola. Disana ia bertemu dua orang yang terlihat seperti sepasang kekasih. Mereka adalah Sam, cewek yang sangat keren dan “Nothing” alias Patrick. Charlie tidak menyangka bahwa ternyata Sam dan Patrick adalah saudara atau lebih tepatnya saudara tiri.

Sam dan Patrick lebih tua daripada Charlie tetapi mereka mau menjadi temannya. Tentu saja Charlie sangat senang karena akhirnya ia mempunyai teman setelah sekian lama. Charlie diam-diam naksir Sam yang pada akhirnya diketahui oleh Sam. Sam sepertinya juga menyukai Charlie karena ia meminta Charlie untuk menciumnya.

And I guess I realized at that moment that I really did love her. Because there was nothing to gain, and that didn't matter

Sulit untuk menjelaskan Charlie ini seperti apa. Dalam dunia nyata rasanya aku belum pernah bertemu dengan laki-laki seperti dia. Charlie sangat sensitif, begitu peduli dengan perasaan orang lain. Ia takut kata-kata atau perilakunya menyakiti orang lain sampai terkesan berlebihan. Bayangkan saja, ketika Patrick patah hati ia mau-mau aja dicium laki-laki itu agar Patrick merasa lebih baik. 

I think that if I ever have kids, and they are upset, I won't tell them that people are starving in China or anything like that because it wouldn't change the fact that they were upset. And even if somebody else has it much worse, that doesn't really change the fact that you have what you have.

Charlie juga mudah menangis bahkan di depan orang lain. Aku jadi pengen bilang hei hei, begitu aja kok nangis siih Charlieee!! Gemas deh jadinya -_-

Bagi Bill, guru Charlie yang senang meminjamkannya buku, Charlie adalah anak laki-laki yang spesial. Karena itulah ia sering menyuruh Charlie untuk menuliskan essay setelah selesai membaca buku-buku itu. Charlie sangat senang membaca buku. Ia bisa membaca buku yang sama berkali-kali. Ehm… ini poin plus buat Charlie, hahaha..

Buku ini belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Kalaupun ada penerbit yang mau sepertinya harus di sensor sana sini karena bukunya lumayan vulgar. Perilaku seksual remaja Amerika banyak dibahas oleh Charlie di dalam suratnya, bahkan ada yang sampai jorok banget.

The Perks of Being Wallflower sudah difilmkan, dan yang jadi Charlie adalah si cakep Logan Lerman!! Sedangkan yang jadi Sam adalah Emma Watson. Nggak nyangka banget yang jadi Charlie adalah Logan Lerman. Pengen nonton filmnya deh. 

Kyaaaa xD


Banyak yang bilang buku ini bagus dan wajib dibaca tetapi seperti kata Bill (gurunya Charlie), kamu harus punya filter saat membaca sebuah buku. Itu juga yang aku sarankan saat membaca buku ini. 
Isi pikiran Charlie sangat menarik, melalui surat-suratnya ia mengajarkan bahwa kita harus selalu bersikap baik dengan orang lain walaupun kita tidak suka dengan orang itu. Terimakasih Charlie!

He's a wallflower. You see things. You keep quiet about them. And you understand


3 komentar:

  1. belum baca bukunya. tapi kebetulan sudah nonton filmnya. Keren banget filmnya!

    BalasHapus
  2. Belum baca bukunya, tapi udah nonton filmnya, dan yang jadi pertanyaan besar adalah...
    apa yang dilakukan bibinya ke si charlie pas kecil?? *penasaaarraannn
    anybody please tell me :(

    BalasHapus