Senin, 24 Juni 2013

Rantau 1 Muara

Judul : Rantau 1 Muara
Penulis : A. Fuadi
Penerbit : Gramedia
Tahun : 2013
Halaman : 407


Pertama kali aku membaca Negeri 5 Menara (N5M) adalah tiga tahun yang lalu saat belum punya blog buku. Waktu itu aku nggak tahu bahwa N5M akan menjadi trilogi dan sepopuler ini. N5M bercerita tentang Alif yang sekolah di Pesantren bernama Pondok Madani. Alif bersama sohibul menara yaitu sahabat-sahabatnya bermimpi untuk mengunjungi negara-negara lain. Mantra pertama dalam buku ini adalah Man Jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.

Buku kedua dalam trilogi ini adalah Ranah 3 Warna yang aku baca tahun 2011. Resensinya pernah aku buat di blog ini. Alif mengejar mimpinya untuk kuliah, belajar menulis bersama Bang Togar, dan mengikuti pertukaran pelajar ke Quebeq, Kanada. Mantra kedua dalam hidup Alif adalah Man Shabara Zhafira, siapa yang bersabar akan beruntung.

Lalu, apa mantra ketiga alias mantra pamungkas? Selama dua tahun aku menunggu terbitnya buku ketiga. Alhamdulillah akhirnya terbit juga Rantau 1 Muara sebagai penutup dari trilogi ini. Trilogi N5M sedikit banyak merupakan kisah nyata dari Bang Fuadi sendiri. Sebagai novel/fiksi, tentunya ada cerita yang ditambah, dikurangi atau beberapa institusi yang namanya diganti.

Selepas Alif lulus kuliah, ia tidak memutuskan untuk langsung mencari pekerjaan. Santai dulu, begitu pikirnya karena ia bisa mendapat penghasilan dengan mengirimkan tulisan ke berbagai koran. Tapi Alif lulus disaat yang kurang tepat, yaitu saat krisis moneter melanda Indonesia tahun 1998. Koran tempat Alif biasa mengirimkan tulisannya terpaksa membatalkan kontrak. Mereka tidak bisa lagi menggaji penulis luar. Alif pun terpaksa harus mencari pekerjaan, kalau tidak hutangnya akan terus menumpuk sekarang saja ia sudah ditagih ke kos oleh dua orang debt collector berbadan kekar.

Persaingan Alif dengan Randai tetap terjadi. Setelah kalah telak dalam mendapatkan Raisa, sekarang mereka bertarung untuk membuktikan siapa yang akan S2 lebih dulu di luar negeri. Kompetisi yang positif, tetapi aku kadang suka sebal sendiri dengan gaya Randai yang sok.

Jika aku lihat Randai, maka dia sudah melakukan konsistensi paling tidak enam tahun sampai sekarang. Kuliah teknik penerbangan selama lima tahun dan dia langsung bekerja di industri penerbangan. Dia fokus, dia tekun, dia konsisten di bidangnya. Tidak heran kalau dia punya terobosan dalam hidupnya.

Aku menghitung-hitung apa bidang keilmuan yang aku tekuni dengan intensitas tinggi selama lima tahun terakhir? Aku harus jujur : tidak ada. Semua serba tanggung.

Saat membaca kutipan itu aku sendiri ikut berpikir tentang hidupku selama ini. Rasanya hidupku kok begini-begini saja, nggak ada bakat atau prestasi yang membanggakan.. hmm..mulai galau

Setelah sempat beberapa kali di tolak oleh berbagai perusahaan dengan alasan klise, Ailf diterima juga untuk bekerja di majalah berita nasional yang prestisius, Derap. Lagi-lagi Alif harus merantau untuk memenuhi mimpinya sebagai wartawan. Kali ini tujuannya adalah Jakarta. Derap bukan majalah sembarangan. Banyak orang yang ingin bekerja disana. Karyawannya pun merupakan wartawan yang dikenal mengutamakan kejujuran.

Jurnalisme majalah ini bukanlah jurnalisme untuk memaki atau mencibirkan bibir, juga tidak dimaksudkan untuk menjilat atau menghamba. Yang menjadi komando bukan kekuasaan atau uang, tapi niat baik, sikap adil, dan akal sehat.

Gelar doktor di dapatkan Alif saat bekerja di Derap. Bersama dengan Pasus Warta, ia menjalani kehidupan sebagai doktor alias mondok di kantor karena tidak memiliki tempat tinggal. Untuk tidur, Alif dan Pasus hanya beralaskan sajadah. Desas desus mereka berdua tidur di ruang kliping kantor tercium juga oleh Mas Aji dan Mas Malaka, atasan mereka. Untungnya Pasus tidak kehilangan akal. Ia dan Alif sekarang tidur di mushala kantor.

Pengalaman Alif di Derap sangat seru, dan yang membuat ngakak sekaligus merinding itu saat Alif harus mewawancarai pocong. Yap, Pocong!! Awalnya itu karena Alif datang terlambat pas rapat gara-gara memikirkan cewek. Alif jatuh cinta, sodara-sodara. Love at first sight sama cewek yang ia temui di dekat meja resepsionis. Ternyata cewek itu adalah temannya Raisa, pantas Alif merasa pernah melihatnya disuatu tempat.

Nama cewek itu Dinara, ia wartawan baru di Derap. Kehadiran Dinara kontan membuat suasana di Derap menjadi lebih meriah. Biasalah, anak baru, cantik, pintar lagi, pasti banyak yang mendekati, tidak terkecuali Alif. Pendekatan Alif ke Dinara lumayan gencar. Ia mencari-cari info mengenai Dinara melalui Raisa. Dinara yang awalnya cuek terhadap Alif lama-lama mulai perhatian kepada Alif. Masalahnya, Alif tidak berani menanyakan langsung kepada Dinara mengenai perasaannya.

Aku menertawakan diri sendiri yang akhir-akhir ini kadang merasa kehilangan dia. Atas dasar apa aku merasa kehilangan? Tidak memiliki, kok kehilangan. Aku menggeleng-gelengkan kepala sendiri.

Keinginan Alif untuk melanjutkan sekolah di luar negeri membawanya untuk mendaftar beasiswa Fullbright. Persiapan Alif untuk ikut seleksi beasiswa dibantu oleh Dinara dan Pasus. Dengan mantra man saara ala darbi washala, siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan, Alif berhasil mendapat beasiswa itu. Ia melanjutkan kuliah S2 di George Washington University. Saat Alif mengatakan bahwa ia akan kuliah di Amerika, hubungannya dengan Dinara justru merenggang.

Kisah Alif di Amerika Serikat sangat seru. Disana juga ia memantapkan hatinya untuk menikahi seorang gadis. Dari Amerika Alif berjuang untuk merebut hati calon mertua, Sutan Rangkayo Basa. Tidak mudah untuk meluluhkan hati Sutan Rangkayo Basa. Perlu pendekatan ekstra, sampai harus mengirimkan crossword alias buku teka-teki silang dari Amerika.

Aku telepon Amak dan bercerita dengan malu-malu kalau aku merasa sudah menemukan calon yang ingin aku persunting. Amak tidak bicara, hanya berpesan, “Perempuan hatinya seperti kaca, jika pecah berderai tidak bisa kembali utuh sempurna. Hargai hati dan perasaannya. Jangan main-main, kalau suka bilang, kalau tidak jangan. Jangan permainkan perasaannya kalau masih ragu-ragu.”

Ada bab dalam buku ini yang membuatku terpekik iri yaitu pada bab Sakura dan Segerobak Buku. Istrinya Alif bekerja di salah satu toko buku terbesar di dunia yaitu Borders. Nah suatu hari istrinya Alif mengatakan kalau semua karyawan boleh memilih buku sisa display yang segunung banyaknya, gratis. Huaa.. aku pengen deh kerja disitu!!!

Alif dan istrinya akhirnya bekerja bersama di ABN, American Boardcasting Network. Istrinya lah yang lebih dulu diterima bekerja full time karena Alif harus menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu Mereka berdua diberi gelar dynamic duo karena sangat kompak. Bahkan saat kejadian 11 September mereka berdua ikut meliput dari New York sekaligus mencari dua orang korban ledakan yang sudah seperti saudara mereka sendiri.

Orang Sumatra Barat memang terkenal sebagai anak perantauan ya. Mungkin merantau merupakan budaya mereka? Kalau membaca buku yang ditulis oleh orang Sumatra Barat aku jadi ingat zaman sekolah dulu sering meminjam buku perpustakaan sekolah terbitan Balai Pustaka, ceritanya kebanyakan tentang budaya Minang.

Buku Rantau 1 Muara ini memberikan semangat untuk terus berani bermimpi. Setinggi apapun mimpi itu pasti akan didengar oleh-Nya kalau kita mau berusaha. Melebihkan usaha diatas rata-rata orang.

Buku ini aku rasa kurang tebal dibandingkan buku sebelumnya, R3W padahal ini adalah buku terakhir dari trilogi N5M. Buku terakhir harusnya jadi yang paling tebal *menurutku*. Aku masih pengen tahu bagaimana nasib Mas Garuda pasca ledakan WTC, apakah memang tidak pernah bertemu lagi? Kemudian, bagaimana rencana Alif dan istrinya untuk keliling Eropa, apakah jadi? Aku tidak keberatan kalau ada lagi buku keempatnya *ngarep.

Selesai membaca buku ini aku harus move on sejenak sebelum membaca buku lain. Masih nggak rela kalau trilogi ini tamat, hiks.

Merantaulah. Gapailah setinggi-tingginya impianmu. Bepergianlah. Maka ada lima keutamaan untukmu : Melipur duka, memulai penghidupan baru, memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, serta meluaskan ilmu.

4 komentar:

  1. aduh, nyasar deh di sini. Jadi pingin beli terus baca. T.T
    semakin ngiler setelah membaca reviewnya mbak :)

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. aih, ada penulis AKD disini! *penggemar AKD series*

      Hapus