Kamis, 27 Juni 2013

Paris : Aline

Judul : Paris
Penulis : Prisca Primasari
Tahun : 2012
Halaman : 212
Penerbit : Gagasmedia


Diantara seri novel Setiap Tempat Punya Cerita yang diterbitkan Gagasmedia dan Bukune, Paris lah yang membuatku paling penasaran. Paris merupakan salah satu kota-kota di dunia yang aku sukai (dan bermimpi kunjungi) disamping kota London, dan Tokyo. Sebagai salah satu kota paling romantis di dunia Paris memiliki semacam magnet kalau diangkat menjadi setting sebuah buku.

Ketika membuka buku ini aku langsung disuguhi pemandangan menara Eiffel. Menara Eiffel merupakan gambar dari postcard yang menjadi bonus dalam novel ini kesannya sangat cocok untuk memperkuat suasana Paris. Lucu banget deh postcard nya, sayangnya ini pinjaman jadinya nggak bisa aku copot deh dari bukunya hohoho.

Ada lima orang Indonesia yang menjadi tokoh utama dalam buku ini, Aline, Ubur-Ubur, Sena, Ezra, dan Marabel. Menurutku terlalu banyak orang Indonesianya, padahal aku inginnya lebih banyak bule Perancis terutama cowok Perancis hehe.

Aline Ofeli mengirimkan sebuah diary dan undangan pernikahan kepada sahabatnya Sevigne. Awalnya aku menyangka Sevigne ini cowok eh nggak tahunya Sevigne itu nama buat cewek. Baru halaman awal saja sudah dibuat penasaran, Aline ini menikah sama siapa sih.

Selama di Paris, Aline bekerja sambilan di Bistro yang menjual makanan khas Indonesia bernama Bistro Lombok. Di Bistro itu ada cowok yang ia taksir. Cinta Aline bertepuk sebelah tangan karena cowok yang diberi Aline gelar Ubur-Ubur ini sepertinya sangat membenci Aline. Si Ubur-ubur bekerja sebagai chef Bistro Lombok, ia punya baru saja jadian dengan cewek bernama Lucie yang juga bekerja disitu. Aline langsung syok dan patah hati saat tahu cowok yang ia taksir lebih memilih cewek Perancis ketimbang dirinya.

Beginikah cinta itu? Saat kita tahu kita tak kasat mata bagi orang yang dicintai, tapi tetap melakukan apapun demi orang itu?

Patah hati membuat Aline memutuskan untuk cuti selama seminggu. Pulang dari bistro Lombok setelah mendapatkan izin cuti, ia jalan-jalan di Jardin du Luxembourg. Di bangku taman ia melihat ada seonggok pecahan porselen yang katanya sangat mahal. Setelah menyatukan semua pecahan porselen itu muncul tulisan di sudut kanan bawah, sepertinya nama pemiliknya : Aeolus Sena.

Untuk mencari tahu identitas laki-laki ini Aline mencarinya di Google. Tidak banyak info yang ia dapat, hanya alamat email dan twitter. Ketika Aline mengirimkannya email, laki-laki itu menyambutnya dengan antusias dan mengajak untuk bertemu di Place de la Bastille jam 12 malam. Aline ini mau-mau aja diajak ketemuan jam segitu padahal ia orang yang penakut. Malam pertama, kedua, Aeolus Sena tidak muncul-muncul. Malam ketiga baru lah laki-laki itu datang menepati janjinya. Tidak seperti bayangannya, Aeolus Sena orang yang sangat ekspresif dan.. aneh.

Sebagai permintaan maaf Sena memperbolehkan Aline meminta tiga buah permintaan. Permintaan-permintaan inilah yang membuat mereka jadi sering bertemu. Kadang-kadang Sena dan Aline ketemuan disuatu tempat tapi Sena bisa tiba-tiba menghilang kemudian muncul lagi di hari yang lain. Siapa kah sebenarnya laki-laki ini?

Sebelum ini aku tak pernah benar-benar menemui hal yang mengundang tanda tanya. Terkadang memang aku bereaksi berlebihan terhadap sesuatu. Namun masih dalam koridor normal dan terjelaskan.

Sampai aku bertemu laki-laki ini

Sejak aku bertemu dengannya, yang terjadi hanyalah hal-hal aneh dan teka-teki.

Beberapa hari setelah Sena menghilang, akhirnya ia muncul lagi sambil membawa bungkusan porselen Lalu muncullah wanita galak seperti sosok ibu tiri yang sangat jahat menarik tangan Sena. Ia menyeret Sena untuk mengikutinya pulang. Aline mengikuti mereka berdua yang terus berjalan kaki selama satu jam walaupun hujan semakin deras. Sebelum Sena masuk ke dalam rumah dengan kesan angker itu, ia menyuruh Aline untuk mendatangi sebuah apartemen. Setelah itu Sena menghilang ke dalam rumah.

Sekarang tidak hanya Sena yang misterius, Kak Ezra juga. Laki-laki cool itu sepertinya diam-diam menaruh hati terhadap Aline tapi Aline tidak percaya bahwa laki-laki sempurna seperti Ezra mau dengannya.

Aku menemukan tiga buah typo dalam buku ini yaitu di halaman 69 : “Oh. Kalau malem?” Halaman 94 : “Kayaknya si Putra-Putra itu nggak terlalu terpengaruh waktu saya deketin ceweknya.” Mungkin mau nulis Ubur-ubur kali ya, jadinya malah Putra-Putra. Terakhir di halaman 207 : “… Gini nih kalau punya kakak terlalu romantis, semua-semuanya dianggap cuma bisa diselesaiin dengan cinta.”

Berhati-hatilah saat membaca buku ini karena kamu akan dibuat penasaran sama si Aelous Sena!


Dia tidak bilang berapa lama aku harus menunggunya. Tapi selalu.. ada beberapa hal yang layak untuk dinanti, ketika aku percaya sepenuh hati bahwa semua itu takkan berbuah sia-sia.

1 komentar: