Minggu, 03 Februari 2013

The Summoning (Darkest Power #1)

Judul : The Summoning (Darkest Power #1)
Penulis : Kelley Armstrong
Penerbit : Harper Collins
Tahun : 2009
Halaman : 390


Chloe Saunders mempunyai kemampuan untuk berbicara dan melihat hantu. Woaaa.. amit-amit deh kalau punya kemampuan seperti itu *pendapat pribadi. Kemampuan Chloe ini sudah ia miliki sejak kecil, saat ibunya masih hidup. Sepertinya bakat ini berasal turun temurun dari ibunya. Chloe kecil dulunya tinggal disebuah rumah yang memiliki basement, tempat ia sering diajak berkomunikasi oleh para hantu. Sejak saat itu ia mempunyai sedikit trauma jika harus berada di basement. Pada saat ia beranjak remaja Chloe sudah lupa bahwa ia pernah dihantui.

Chloe lebih suka untuk menjadi seorang remaja yang biasa, punya kehidupan normal. Tidak seperti kebanyakan remaja yang minta diperhatikan. Maka ketika ia tahu mempunyai suatu kekuatan, Chloe malah ketakutan.

I’d spent too much of my life being special. The rich girl who lost her mother. The new kid in class. The drama major who didn’t want to be an actor. For me, special meant different, and not in a good way. I’d wanted to be normal, and I guess the irony is that, the whole time I was dreaming of a normal life, I already had one… or a whole lot closer to it than I’d ever have again- page. 328

Ketika ibunya meninggal, ayah Chloe semakin sibuk dengan pekerjaannya sehingga lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri. Chloe hanya mempunyai Bibi Lauren, adik ibunya sebagai tempatnya untuk curhat. Bibi Lauren adalah seorang dokter, Chloe pernah suatu kali mengeluhkan kepada bibinya ketika ia tak kunjung mendapat haid padahal usianya sudah 15 tahun. Hal yang menurutnya lumayan memalukan.

Suatu pagi saat Chloe berangkat ke sekolah diantar supirnya, Chloe melihat seorang anak laki-laki yang menabrakkan diri ke mobil mereka. Chloe berteriak-teriak sehingga supirnya tersebut kaget. Saat mereka berhenti Chloe baru menyadari bahwa itu hanya halusinasinya. Atau anak laki-laki itu sebenarnya adalah hantu!

Saat Chloe pergi ke kamar mandi, ia merasakan mendapat haid pertamanya. Chloe berusaha untuk tetap tenang. Ia lega hari ini datang juga. Setelah kejadian itu, hantu-hantu seolah datang kepadanya-yang membuat Chloe histeris. Hantu itu adalah seorang penjaga sekolah dengan tubuh terbakar.

Chloe yang syok karena melihat hantu berteriak-teriak di sekolah. Ia mengamuk dihadapan para gurunya. Karena dianggap aneh, Chloe dimasukkan ke Lyle House oleh Bibi Lauren atas rekomendasi seorang temannya. Lyle House adalah sebuah asrama sekaligus sekolah untuk menangani anak-anak bermasalah. Disana ada Derek, Simon, Peter, Liz, Rae, dan Tori. Pelan-pelan Chloe mulai beradaptasi dengan lingkungan baru dan teman-temannya. Ketika mereka mulai dekat, Chloe tahu bahwa mereka sebenarnya bukanlah anak-anak bermasalah seperti yang dicap oleh konselor di Lyle House. Melainkan mereka mempunyai kemampuan spiritual yang berusaha secara paksa untuk dihilangkan atau disembuhkan oleh para konselor.

Predikat Schizofrenia yang didapat Chloe sangat mengganggunya. Bagaimana mungkin ia mendapat predikat itu padahal ia masih bisa berpikiran secara normal? Satu-satunya hal yang diinginkan Chloe adalah keluar dari Lyle House secepat mungkin. Oleh karena itu ia berpura-pura menerima label yang diberikan konselor dan berusaha untuk bersikap semanis mungkin.

Chloe dibantu dengan teman-temannya (kecuali Tori yang jahat) mencari tahu apa sebenarnya Lyle House. Mereka mencoba memanggil para hantu itu agar bisa menguak misteri asrama tersebut. Apa hubungan para hantu dengan Lyle, si pendiri asrama itu?

Kalau mengharapkan adegan-adegan romantis dibuku ini, sepertinya kalian bakal kecewa. Tidak seperti young adult lainnya. Adegan romantis disini bisa dibilang tidak ada :D Kalau naksir-naksiran sih masih ada antara Chloe dan Simon.

Biarpun buku ini adalah trilogi sebaiknya jangan terlalu menggantung gitu dong ceritanya >.< Pas selesai baca buku ini malah dibikin penasaran dengan endingnya. Berarti harus beli buku keduanya dong? Iya :p Semoga buku keduanya tidak berakhir dengan ending seperti ini. Soalnya terlalu banyak teka-teki yang belum terpecahkan. Seolah-olah buku pertama ini ‘cuma’ buat pengenalan tokohnya. Mungkin sebagian besar misteri dalam buku ini disimpan kedalam buku selanjutnya.

Yang aku suka dari buku ini adalah tokoh utama yang tidak bertindak sebagai jagoan atau super hero. Ditengah banyaknya novel luar yang mengambil genre fantasi-paranormal (apapun sebutannya) pastinya lumayan sulit untuk bersaing mendapat perhatian para pembaca untuk memilih buku ini. Tapi sepertinya The Summoning berhasil untuk mencuri perhatian pembaca buku karena ceritanya yang unik. The Summoning sedikit banyaknya memperkenalkan dengan istilah gangguan dalam Psikologi seperti Schizofrenia, Paramania, Antisosial. Juga berisi pesan kepada orangtua/pengajar/konselor agar jangan cepat-cepat memberi label kepada seorang siswa.

Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ufuk sampai seri ketiganya. Siapa yang mau belikan seri ke 2 dan ke 3 nya? Hihi ^^

Happy Reading!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar