Minggu, 23 September 2012

My Favorite Authors (So Far)

Penulis favoritku ada yang berasal dari Indonesia maupun dari luar. Beberapa penulis ini berasal dari genre yang berbeda. Siapa saja penulis favoritku? Apa yang aku suka dari penulis tersebut? Taraaa.....

1. Jostein Gaarder
Pertama kali berkenalan dengan Jostein Gaarder adalah melalui Dunia Sophie yang diterbitkan oleh Mizan. Waktu itu aku semester 2, pas ada mata kuliah filsafat. Aku lihat di sinopsisnya, Dunia Sophie adalah novel mengenai filsafat. Maka aku membeli novel itu sekalian buat belajar. Aku pun langsung suka sama Dunia Sophie! Cara Gaarder menyampaikan filsafat sangat menarik, jauh dari kata membosankan! Sejak itu aku mulai membaca buku-buku Gaarder yang lain. Semuanya berbicara mengenai filsafat, diantaranya Gadis Jeruk, Maya, Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken, dan yang terakhir aku baca adalah Misteri Soliter (belum ada reviewnya)

2. Tere Liye
Tere Liye adalah penulis Indonesia yang produktif. Buku-bukunya banyak kita jumpai di toko-toko buku. Menurutku, judul buku yang ditulis Tere Liye unik-unik, susah ditebak bagaimana isi buku tersebut kalau hanya dilihat dari judulnya. Aku pernah membaca Kau, Aku, dan Sepucuk Angpao Merah, Ayahku Bukan Pembohong, Moga Bunda di Sayang Allah, dan sekarang aku sedang membaca Negeri Para Bedebah. 

3. Lauren Oliver
Before I Fall dan Delirium adalah dua tulisan Lauren Oliver yang pernah aku baca. Terlepas dari genre bukunya yang memang aku sukai, aku suka gaya penulisannya. Aku belum pernah membaca bukunya versi Indonesia, mungkin nanti setelah Pandemonium selesai diterjemahkan.

4. Stephanie Zen
Penulis teenlit-metropop ini merupakan salah satu favoritku. Stephanie Zen yang sekarang tinggal di Singapura ini sering mengangkat masalah sehari-hari yang dialami oleh anak muda dalam tulisannya. Bukunya yang pernah aku baca adalah Perhaps You, One last Chance, dan Thalita.

5. John Green
Satu-satunya buku John Green yang pernah aku baca adalah The Fault In Our Stars. Aku sangat suka buku tersebut. Setelah membacanya, aku mulai memasukkan buku-buku John Green ke dalam wishlist Goodreads ku. Semoga penerbit Indonesia ada yang mau menerjemahkan bukunya. Soalnya harga bukunya mahal, diatas 100K semua.

Itu dia 5 penulis favoritku sejauh ini, siapakah penulis favorit kamu?

Sabtu, 22 September 2012

Rock 'n Roll Onthel

Judul : Rock 'n Roll Onthel
Penulis : Dyan Nuranindya
Tahun : 2012
Penerbit : Gramedia
Halaman : 248


Life is like riding a bicycle, to keep your balance, you must keep moving 

Dulu Saka adalah pemain band yang handal. Orang-orang memberinya julukan The Slash karena permainan gitarnya susah untuk ditandingi. Saka bersama band nya, The Venders merupakan band dengan spesialisasi musik rock 'n roll. Namun kejadian tiga tahun lalu membuat Saka keluar dari band itu. Indah, kekasihnya harus meninggal dunia ketika menonton pertunjukkan Saka di Gudang Sembilan. Sejak saat itu Saka dianggap pengkhianat oleh teman-temannya. Terutama oleh Sisko yang menyimpan dendam pribadi terhadap Saka.

Gudang Sembilan adalah tempat bagi musisi-musisi Jogja yang ingin menunjukkan kebolehannya. Di tempat itu, semua musisi akan dinilai secara fair oleh penonton. Jika permainan kamu bagus, penonton tidak segan-segan untuk naik keatas panggung dan memberi selamat. Tapi, jika buruk, siap-siaplah dilempari dengan botol minuman kaleng. Di Gudang Sembilan inilah Saka mendapat julukan The Slash.

Penampilan Saka sebagai pemuda Jogja tidak terpengaruh walaupun statusnya adalah pemain band rock 'n roll. Sehari-hari, Saka suka memakai kain lurik yang dipadukannya dengan celana jeans. Tidak ketinggalan sepeda Onthel kesayangannya. Saka sering dipandang sebelah mata gara-gara penampilannya ini. 

Keinginan Saka untuk melanjutkan kuliah di sekolah musik ditentang oleh kedua orangtuanya. Mereka menganggap, musik tidak akan menjamin masa depan Saka. Karena itulah Saka pindah ke Jogja dan tinggal bersama Eyang Santoso di kosan Soda. Rupanya, adik Saka, Putri juga menyukai musik seperti kakaknya. Jadi lah Putri ngotot untuk ikut Saka ke Jogja, sekalian menghabiskan liburan disana.

Putri bersama teman-temannya berencana menonton konser di Jogja. Kebetulan ada band baru yang mereka sukai, yaitu Seven Eighthy. Tanpa diketahui Saka, Putri sering bergaul dengan personel band tersebut. Padahal, Seven Eighty adalah nama baru dari band The Venders yang sebelumnya telah bubar. Personel band tersebut masih sama seperti ketika Saka keluar, hanya ditambah Dewo dibagian vokal. Melalui Putri, kesempatan ini dimanfaatkan oleh Sisko untuk membalas dendamnya kepada Saka. Sekaligus untuk memberi Saka pelajaran karena telah merebut Coro, pacarnya. 

Novel ini lumayan seru untuk diikuti. Perpaduan antara musik rock 'n roll dengan budaya Indonesia. Kesan tradisional bisa dilihat dari tokoh Saka yang sangat mencintai wayang. Saka yang sehari-harinya berjualan wayang sering mengambil pelajaran hidup dari tokoh-toko wayang. Walaupun pemain band, Saka tidak malu dengan budaya leluhurnya yang sangat ditekankan oleh ayahnya sejak ia kecil.

Selain wayang, sepeda Onthel yang selalu menemani Saka kemanapun menjadi salah satu benda yang penting di novel ini. Onthel tersebut membuat Saka mengenal Jigo, ketua komunitas Onthel yang sering menolong Saka.   Dengan Onthel ini juga Saka sering membonceng Coro, perempuan aneh yang ia cintai.

Novel ini mengajarkan pentingnya solidaritas dan kesetiakawanan. Juga mengajarkan bahwa kesuksesan akan kita dapat jika kita mau berusaha. Tokoh Saka membuat kita melihat bahwa budaya tradisional bisa bersanding dengan budaya modern. Cerita dalam novel ini mudah dipahami, dan tidak ada typo yang aku temukan. Bagi yang suka musik, aku rekomendasikan buku ini!

Membaca Bersama Readingwalk

Membaca adalah aktivitas yang sangat mengasyikkan. Kita bisa berkeliling dunia, berkenalan dengan banyak orang hanya dengan duduk diam di tempat. Kecintaanku pada buku bermula sejak aku bahkan belum bisa membaca. Saat itu aku masih TK, melihat kakakku yang berlangganan majalah anak-anak, aku pun tertarik untuk ikut membolak-balik halaman majalah itu. Sampai ketika sudah mengenal huruf, aku semakin rajin untuk membaca. Ketika bergabung dengan #BBI hasrat membaca semakin tersalurkan. Bagaimana tidak, disitu aku menemukan teman-teman yang sama-sama mencintai buku. Walaupun aku belum pernah bertemu langsung dengan anggota BBI, tapi ngobrol dengan mereka melalui dunia maya sangat seru.

Hobi membaca buku membuatku paling tidak membaca 5 sampai 10 buku perbulan. Tergantung kesibukan kuliah juga sih, tapi aku tetap menyempatkan diri membaca novel disela-sela tugas kuliah. Biar nggak stres, hehehe. Pas lagi baca buku, biasanya aku share di twitter, atau melalui link di Goodreads. Tujuannya biar semakin banyak orang yang tertarik untuk membaca buku. Kadang teman-teman di kampus suka nanya-nanya tentang buku yang aku baca. Kan bagus kalau banyak orang Indonesia yang cinta buku.

Banyak orang yang tidak membaca buku dengan alasan harga buku yang mahal, atau karena tidak sempat ke toko buku. Sepertinya alasan ini sudah tidak berlaku lagi deh zaman sekarang. Harga buku yang mahal, malas ke toko buku, itu bisa kok disiasati asalkan ada kemauan untuk terus membaca buku. Sudah pada tahu nggak sekarang kita bisa meminjam buku secara online? Nah, kalau belum tahu, yuk kenalan sama Readingwalk.


Online Delivery Book Rental

Buat kamu yang berdomisili di Jakarta, kamu bisa meminjam buku di Readingwalk tanpa harus bermacet-macet ria, lho! Soalnya sistem di Readingwalk ini, buku yang kamu pinjam akan mereka antarkan langsung ke rumah kamu. Kalau masa peminjaman sudah habis, mereka sendiri yang akan ‘menjemput’ buku-buku tersebut. Hemat waktu pastinya. Koleksi buku mereka juga update, dan genrenya bervariasi. Banyak buku-buku favoritku yang tersedia di Readingwalk. Oh iya, paket peminjamannya bervariasi lho. Bisa disesuaikan dengan keinginan kamu. Harga pinjam buku yang tertera di situs mereka sudah termasuk ongkos antar jemput buku. Ongkos buat tol, parkir, dan bensin otomatis bisa ikut dihemat.

Melalui Readingwalk, kamu juga bisa titip buku untuk dipinjamkan. Selain mendapatkan keuntungan dari uang sewa buku, akan mengurangi tumpukan buku kamu yang sudah tidak muat lagi di lemari. Hehe.
Kalau kamu kebingungan buku apa yang kira-kira cocok buat kamu, bisa saja kamu berkonsultasi dengan admin Readingwalk. Mereka ramah-ramah lho. Kalau kamu nyari novel-novel best seller juga banyak tersedia disini. Jadi, nggak ada lagi kan alasan untuk malas membaca buku? :p

Rabu, 19 September 2012

Moga Bunda disayang Allah

Judul : Moga Bunda disayang Allah
Penulis : Tere Liye
Tahun : 2006
Penerbit : Republika
Halaman : v+246



Keluarga HK merupakan salah satu keluarga terkaya di kota cantik itu. Kebaikan hati keluarga mereka terkenal diseluruh kota. Tuan HK merupakan pemilik pabrik sukses yang tidak segan untuk membantu orang lain. Semua ini tidak terlepas dari peran Bunda HK, istrinya yang sangat lembut sehingga suaminya lambat laun bisa merubah perangainya. Sayangnya, sudah tiga tahun ini Bunda HK sakit-sakitan. Ia seringkali hanya terbaring lemah di ranjang ditemani pembantu setianya, Salamah.

Tiga tahun belakangan ini memang waktu yang sangat berat bagi keluarga HK. Melati, putri mereka satu-satunya yang berumur enam tahun harus menjalani hidup yang berbeda dari anak seusianya. Anak itu sudah tidak bisa lagi berkomunikasi dengan dunia disekitarnya. Ia sering mengamuk, melempar benda apapun yang bisa dijangkaunya. Sejak tiga tahun lalu Melati buta dan juga tuli, serta otomatis bisu.

Disisi lain, Karang adalah pemuda yang hidupnya kacau. Anak yatim piatu itu sebenarnya sangat sayang dengan anak-anak. Ia membangun banyak taman bacaan, menghidupkan semangat anak jalanan yang bernasib sama dengan dirinya. Tetapi ada suatu peristiwa yang membuatnya merasa sangat bersalah. Kejadian itu juga terjadi tiga tahun yang lalu.

Berita mengenai kemampuan Karang yang bisa menyembuhkan anak yang lumpuh, sampai ditelinga Bunda HK. Bunda HK tertarik untuk menjadikan Karang sebagai guru Melati. Pada mulanya Karang menolak mentah-mentah ide tersebut. Sempat terjadi konflik batin pada dirinya karena ia merasa bertanggung jawab tatas kematian 18 anak-anak didiknya. Karang tidak ingin lagi berhubungan dengan dunia anak-anak. Tetapi tiba-tiba saja ia bertekad ingin menolong Melati. Agar anak itu bisa menemukan caranya berkomunikasi dengan dunia.

Sayangnya cara mengajar Karang membuat Tuan HK marah. Karang memukul, meneriaki, dan memperlakukan Melati dengan semena-mena. Tuan HK menganggap cara Karang mengajar Melati sangat keterlaluan.

Pernah membaca cerita yang mirip sama novel ini? Tere Liye mengaku ia terinspirasi dengan Hellen Keller. Seorang yang buta-tuli-bisu seperti Melati. Secara garis besar, jalan ceritanya memang sangat mirip. Bagi yang pernah membaca The Story of My Life yang ditulis oleh Hellen Keller pasti bisa menebak bagaimana ending novel ini.

Walaupun begitu, cara Tere Liye ‘menceritakan ulang’ The Story of My Life sangat baik. Setting dan tokohnya berbeda jauh dengan cerita nyata dari Hellen Keller. Ceritanya sangat mengharukan. Keterbatasan Melati membuat kita mensyukuri betapa sempurnanya indra yang sudah diberikan Tuhan kepada kita.

nb : di halaman 187 kayaknya ada paragraf yang kepotong. Soalnya di halaman 188 nya kok jadi sedikit nggak nyambung

Kamis, 13 September 2012

Skripzi Krezi


Judul : Skripzi Krezi
Penulis : We Are Victims
Tahun : 2012
Penerbit : Gradien
Halaman : 200



Apa hal yang paling bikin deg-degan mahasiswa tingkat akhir? Ya, SKRIPSI! Skripsi sudah menjadi momok bagi semua mahasiswa. Banyak cerita-cerita horor seputar skripsi yang biasanya tidak jauh dari dosen pembimbing. Kalau dapat dosen pembimbing yang baik sih nggak masalah ya, tapi dalam buku ini, Nesya dapat dosen pembimbing yang nyebelin tujuh turunan. Siapa sih yang jadi dosen pembimbingnya Nesya? Sebut saja namanya PANU. Bukan Panu penyakit kulit itu.. tapi singkatan dari Pak Wisnu. Ketika membaca buku ini, dari kata pengantar sampai halaman akhir kamu akan menemukan bukti betapa menyebalkannya Panu. Digambarkan bahwa Panu adalah dosen yang sering mengakui dirinya masih jomblo. Tujuannya sih jelas, agar dia masih bisa mengecengi mahasiswi-mahasiswi kece. Panu ini juga punya tingkat kepercayaan diri diatas rata-rata, dan dia suka nyuruh-nyuruh!

Panu jadi dosen pembimbingnya Wini dan Nesya. Sebenarnya Panu ini baik kok, tapi dia suka banyak maunya. Nesya bisa dibilang sebagai ‘anak emas’ nya Panu. Soalnya Panu suka nanya-nanya tentang Nesya sama mahasiswa lain. Panu kelihatannya fans berat Nesya. Berbeda dengan Wini, Panu kelihatannya kurang suka sama dia. Wini dianggap mahasiswi pemalas yang tidak sepintar Nesya. Hmm.. kayaknya Panu naksir Nesya nih!?

Sewaktu baca buku ini aku nggak bisa berhenti senyum-senyum sambil membayangkan “oh, gitu ya rasanya skripsi? Ngejar-ngejar dosen pembimbing? Kayaknya berat banget ya jadi mahasiswa tingkat akhir?” Kalau dilihat, memang banyak mahasiswa yang jadi stres gara-gara skripsi. Apalagi kalau punya dospem kayak Panu... amit-amit deh! Eh, tapi ide buat menuliskan pengalaman pas skripsi oke juga ya? Malahan kayaknya banyakan hal-hal konyol daripada dukanya? Hmm.. mungkin jadi konyol karena sudah dialami ya? Coba pas sedang terjadi, ya bisa sampai nangis-nangis :D

Percakapan-percakapan yang hampir sebagian besar mengisi buku ini lumayan kocak. “Kepolosan” Panu benar-benar bikin kita ikut-ikutan kesal sama dia. Ah, memang ada ya dosen kayak Pak Wisnu ini? Kok bisa ya keterima jadi dosen? Haha.. Kalau lagi suntuk, atau bete gara-gara dosen pembimbingnya susah dihubungi, silakan baca buku ini. Atau yang masih mahasiswa baru, pengen tau seperti apa rasanya skripsi? Ayo buruan ke toko buku dan seret buku ini ke kasir!!

Thalita

Judul : Thalita
Penulis : Stephanie Zen
Penerbit : Gramedia
Tahun : 2009
Halaman : 272



Thalita baru saja lulus SMP dan ingin meneruskan sekolah di SMA yang sama dengan Andra, pacarnya. Sayangnya keinginan Thalita harus diurungkan gara-gara ayahnya tidak setuju Thalita satu SMA dengan Andra. Ayah Thalita tahu kalau Andra adalah junkies alias pemakai narkoba. Thalita juga diminta untuk segera putus Beliau tidak ingin putrinya ikut terjerumus menggunakan obat-obatan terlarang. Thalita berkali-kali meyakinkan ayahnya bahwa ia  berpacaran dengan Andra untuk menyadarkan Andra. Tetapi ayahnya tetap pada keputusannya.

Di sekolahnya yang baru, Thalita berkenalan dengan Tatyana dan Darren. Dua kakak beradik dari keluarga broken home. Tatyana dan Darren sama-sama satu angkatan walaupun umur mereka berbeda satu tahun. Tatyana berusaha menjodohkan Darren dengan Thalita. Darren tidak pernah lagi dekat dengan cewek sejak pacarnya, Cheryl terjerumus narkoba. Nasib Darren mirip dengan Thalita ya.

Saat Thalita down karena Andra OD, Darren terus ada disamping Thalita untuk menguatkannya. Thalita yang awalnya tidak punya perasaan apa-apa terhadap Darren lama kelamaan jatuh cinta. Mereka berpacaran, sampai Cheryl datang dan mengatakan ia sudah bersih...

Tema yang diambil Stephanie Zen untuk novel ini sangat bagus. Mengingatkan remaja akan bahaya narkoba. Narkoba menghancurkan masa depan, membuat kita kehilangan orang yang kita cintai. Semua itu disampaikan Stephanie dengan gamblang. Kekurangannya sih menurutku tokohnya cenderung protagonis semua, alias 'baik' semua. Kayaknya lebih seru kalau ada yang jahat ya.. hehe. Andra sama Cheryl pun nggak jahat-jahat amat, soalnya mereka kan 'korban'. Tapi pesan yang ingin disampaikan dinovel ini 'kena' banget, salut buat Stephanie Zen :)

Jumat, 07 September 2012

The Boy Who Ate Stars

Judul : The Boy Who Ate Stars
Penulis : Kochka
Tahun : 2008
Penerbit : Gramedia
Halaman : 104



Halo, halo! Lama sekali aku nggak nge blog.. jadi kangen. Liburan kuliah ini aku keasyikan baca buku demi menghabiskan timbunan. Sekarang Alhamdulillah timbunan sisa 5 ajah *kalem. Buku satu ini masuk dalam proyek bulan Septemberku, yaitu membaca 1 buku dalam 1 hari. Halamannya lumayan tipis, jadi selesai dalam 2 jam kalau nggak salah. TBWAS aku dapat dibuku obral, pas ngubek-ngubek eh ada buku ini sisa satu. Langsung beli deh mumpung harganya murah. Hehe

Pas beli buku ini, aku nggak baca sinopsisnya sama sekali. Aku cuma pernah liat ratingnya di GR cukup bagus walaupun aku nggak tahu ceritanya seperti apa. Buku ini cocok untuk semua umur. Pokoknya bisa dinikmati anak-anak sampai yang sudah tua. Cuma terjemahannya agak kaku sih menurutku. Mungkin karena buku aslinya berbahasa Perancis ya?

Siapakah anak lelaki yang memakan bintang-bintang ini? Aku penasaran, ini anak penyihir atau apa jadi bisa makan bintang. Oh, ternyata itu perumpamaan yang digunakan Lucy kepada Matthew. Matther adalah tetangga Lucy, ia berusia empat tahun dan mengidap autistik. Seperti kebanyakan anak autistik lainnya, Matthew adalah anak yang cerdas. Cara Matthew bersosialisasi mungkin berbeda dengan anak lainnya, tapi dia bukan anak cacat! Matthew suka melakukan komunikasi dengan memainkan rambut orang lain, apalagi kalau rambut itu panjang. Awalnya Lucy dan orang lain kaget dengan tingkah laku Matthew. Sampai akhirnya mereka memahami dengan cara itu lah Matthew menunjukkan bahwa ia menyukai seseorang :,)

Matthew juga bersahabat dengan Francois, anjing kecil yang dititipkan di rumah Lucy. Lucy berusaha menjadikan anjing itu 'normal'. Menurut Lucy anjing itu terlalu lemah. Tidak bersikap sebagaimana seekor anjing. Matthew juga menyukai Francois. Mereka senang berkeliling kota bersama Francois.

Aku suka buku ini! Anak autistik memang menakjubkan, mereka bisa memahami dunia lebih dari kita. Bagi yang sampai sekarang suka mengejek orang dengan sebutan 'autis lo!' Aduh, stop deh olok-olokan kayak gitu :)