Jumat, 14 Desember 2012

Cinta-Mu Seluas Samudra


Judul : Cinta-Mu Seluas Samudra
Penulis : Gola Gong
Tahun : 2008
Penerbit : Mizan
Halaman : 484

Cinta-Mu Seluas Samudra

Baru kali ini aku membaca sebuah novel yang merupakan rangkuman dari tiga buah novel sebelumnya. Cinta-Mu seluas samudra ini adalah rangkuman dari trilogi Pada-Mu aku bersimpuh, Biarkan aku jadi milik-Mu, dan Tempatku di Sisi-Nya (jadi paket hemat gitu ya, hehe). Pada tahun 2001 novel ini pernah dijadikan sinetron Ramadhan di RCTI, ada yang ingat? Aku sih nggak.. hehe, waktu itu umurku masih 8 tahun. Pemeran utamanya Iis Dahlia yang menurutku nggak cocok sama tokoh cewek di novel ini. Soalnya Anah- si tokoh utama -adalah blasteran Belanda bermata biru.

Novel ini lumayan tebal hampir 500 halaman, tapi halaman tiap chapternya paling cuma 4 halaman. Aku penasaran sebanyak apa adegan yang ‘dirangkum’ dari trilogi tersebut untuk novel ini. Terus, kenapa harus dibuat rangkuman, sih?

Peristiwa di novel ini bermula dengan dibuangnya bayi hasil hubungan terlarang antara pengusaha kelas atas berusia 40 tahun, Hari Natadiningrat dengan model belia berusia 20 tahun, Natalia. Sebulan setelah Natalia melahirkan bayi perempuan cantik berwajah indo, bayi tersebut dibuang oleh sopir Hari Natadiningrat di sebuah gerbong kereta.

Natalia sebenarnya tidak rela menyerahkan bayinya untuk dibuang. Tetapi ia juga tidak ingin karir modelnya hancur. Terlebih Hari Natadiningrat, ia tidak ingin publik tahu mengenai hal ini. Kalau sampai istri dan anaknya tahu, bisa-bisa keluarganya berantakan. Maka Hari Natadiningrat memaksa Natalia untuk membuang bayi tersebut. Sebelum bayinya dibuang Natalia memasukkan semua perhiasannya dibawah keranjang bayi itu dengan harapan agar anaknya tidak hidup kekurangan.

Bayi mungil tersebut ditemukan oleh penjual nasi uduk yang tidak mempunyai anak. Si bayi diberi nama Siti Nurkhasanah atau Anah. Ia tumbuh menjadi anak yang sholehah. Perbedaan muka Anah dengan Bik Eti seringkali mendapat gunjingan dari sekitar. Anah yang waktu itu masih kecil belum mengerti kenapa wajahnya indo sedangkan wajah ibunya hitam tertutup debu pinggir stasiun kereta

Ketika Bik Eti meninggal Anah berusia 10 tahun. Ia dititipkan di rumah Pak Haji Budiman untuk diangkat anak. Haji Budiman mempunyai dua anak laki-laki bernama Hakim dan Bashir. Perasaan Anah dan Bashir tumbuh menjadi cinta.

Kejadian demi kejadian bergulir, pecobaan perkosaan Anah oleh Dicky, Anah diangkat anak oleh Pak Hidayat meneruskan kuliah kedokteran di Jakarta, Kematian misterius Haji Budiman. Hakim sekarang kuliah dan tinggal di Mesir, sedangkan Bashir menjadi wartawan di luar Pulau Jawa. Konflik selalu timbul di novel ini, seperti dendam Bashir kepada Dicky dan Tuan Marabunta, pernikahan Anah dan Hakim yang menyimpan berbagai tanya sampai Anah yang mengetahui siapa orangtua kandungnya.

Dalam novel ini kita akan menemukan arti kehidupan. Banyaknya tokoh yang meninggal membuat kita mengerti bahwa kita pasti berpisah dengan orang yang kita cintai, atau kita sendiri yang meninggalkan mereka. Ya, novel ini adalah novel yang bermula dari kelahiran dan diakhiri dengan kematian.
Ketika membaca novel ini aku menemukan beberapa kejanggalan, diantaranya :

“Tapi, Pak...”
“Kenapa?”
“Adik saya, Pak...”
“Masih ada orang lain disini?”
Bashir mengangguk. “Iya, Pak. Siti Nurkhasanah....” kata Bashir sambil mencari-cari ke kamar mandi.
“Awas, jangan sentuh apa pun!” Kapten Ridwan memperingatkan.
Bashir tertegun. Anah raib entah kemana!
“Ceritakan soal Anah!”

Dari mana polisi tersebut tahu bahwa panggilan Siti Nurkhasanah adalah Anah? Padahal Bashir tidan menyebutkan nama panggilan Anah? Bisa saja kan panggilannya Siti, Nur, atau Hasanah.

Terus, Namlok Sarachipat yang tinggal di Bangkok bercerita bahwa ia menjadi freelancer di KL (Kuala Lumpur) Post, atau mungkin bisa aja ya, menjadi freelancer koran luar? Tapi tetap aja menurutku rada janggal karena tokoh tersebut tidak pernah tinggal di Malaysia, melainkan di Mesir.

Judul di tiap chapter menurutku terlalu spoiler. Pas baca judulnya langsung bisa menebak gimana jalan ceritanya sampai akhir! Jadi nggak surprise lagi deh bacanya. Soalnya sudah tahu, oh, ini nanti pasti begini -__- 3 bintang lah buat novel ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar