Sabtu, 22 September 2012

Rock 'n Roll Onthel

Judul : Rock 'n Roll Onthel
Penulis : Dyan Nuranindya
Tahun : 2012
Penerbit : Gramedia
Halaman : 248


Life is like riding a bicycle, to keep your balance, you must keep moving 

Dulu Saka adalah pemain band yang handal. Orang-orang memberinya julukan The Slash karena permainan gitarnya susah untuk ditandingi. Saka bersama band nya, The Venders merupakan band dengan spesialisasi musik rock 'n roll. Namun kejadian tiga tahun lalu membuat Saka keluar dari band itu. Indah, kekasihnya harus meninggal dunia ketika menonton pertunjukkan Saka di Gudang Sembilan. Sejak saat itu Saka dianggap pengkhianat oleh teman-temannya. Terutama oleh Sisko yang menyimpan dendam pribadi terhadap Saka.

Gudang Sembilan adalah tempat bagi musisi-musisi Jogja yang ingin menunjukkan kebolehannya. Di tempat itu, semua musisi akan dinilai secara fair oleh penonton. Jika permainan kamu bagus, penonton tidak segan-segan untuk naik keatas panggung dan memberi selamat. Tapi, jika buruk, siap-siaplah dilempari dengan botol minuman kaleng. Di Gudang Sembilan inilah Saka mendapat julukan The Slash.

Penampilan Saka sebagai pemuda Jogja tidak terpengaruh walaupun statusnya adalah pemain band rock 'n roll. Sehari-hari, Saka suka memakai kain lurik yang dipadukannya dengan celana jeans. Tidak ketinggalan sepeda Onthel kesayangannya. Saka sering dipandang sebelah mata gara-gara penampilannya ini. 

Keinginan Saka untuk melanjutkan kuliah di sekolah musik ditentang oleh kedua orangtuanya. Mereka menganggap, musik tidak akan menjamin masa depan Saka. Karena itulah Saka pindah ke Jogja dan tinggal bersama Eyang Santoso di kosan Soda. Rupanya, adik Saka, Putri juga menyukai musik seperti kakaknya. Jadi lah Putri ngotot untuk ikut Saka ke Jogja, sekalian menghabiskan liburan disana.

Putri bersama teman-temannya berencana menonton konser di Jogja. Kebetulan ada band baru yang mereka sukai, yaitu Seven Eighthy. Tanpa diketahui Saka, Putri sering bergaul dengan personel band tersebut. Padahal, Seven Eighty adalah nama baru dari band The Venders yang sebelumnya telah bubar. Personel band tersebut masih sama seperti ketika Saka keluar, hanya ditambah Dewo dibagian vokal. Melalui Putri, kesempatan ini dimanfaatkan oleh Sisko untuk membalas dendamnya kepada Saka. Sekaligus untuk memberi Saka pelajaran karena telah merebut Coro, pacarnya. 

Novel ini lumayan seru untuk diikuti. Perpaduan antara musik rock 'n roll dengan budaya Indonesia. Kesan tradisional bisa dilihat dari tokoh Saka yang sangat mencintai wayang. Saka yang sehari-harinya berjualan wayang sering mengambil pelajaran hidup dari tokoh-toko wayang. Walaupun pemain band, Saka tidak malu dengan budaya leluhurnya yang sangat ditekankan oleh ayahnya sejak ia kecil.

Selain wayang, sepeda Onthel yang selalu menemani Saka kemanapun menjadi salah satu benda yang penting di novel ini. Onthel tersebut membuat Saka mengenal Jigo, ketua komunitas Onthel yang sering menolong Saka.   Dengan Onthel ini juga Saka sering membonceng Coro, perempuan aneh yang ia cintai.

Novel ini mengajarkan pentingnya solidaritas dan kesetiakawanan. Juga mengajarkan bahwa kesuksesan akan kita dapat jika kita mau berusaha. Tokoh Saka membuat kita melihat bahwa budaya tradisional bisa bersanding dengan budaya modern. Cerita dalam novel ini mudah dipahami, dan tidak ada typo yang aku temukan. Bagi yang suka musik, aku rekomendasikan buku ini!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar