Selasa, 26 Juni 2012

Ayahku (Bukan) Pembohong

Judul : Ayahku (Bukan) Pembohong
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Gramedia
Tahun : 2011
Halaman : 299



Bagi Dam kecil, cerita-cerita yang disampaikan oleh ayahnya adalah cerita begitu menarik dan menakjubkan.  Dam sangat senang ketika ayahnya bercerita. Khususnya cerita tentang sang Kapten yang merupakan idola Dam. Ayahnya berkata bahwa sang kapten, pemain sepakbola terkenal itu adalah kenalannya sewaktu ia kuliah di luar negeri. Tentu saja Dam kecil percaya, ayahnya adalah pegawai yang terkenal jujur dikotanya. Lain hari, ayah bercerita tentang petualangannya bertemu suku penguasa angin. Suku itu bisa mengendarai layang-layang. Ayahnya juga suka bercerita tentang apel emas yang rasanya sangat enak. Ayahnya pernah mencicipi apel emas itu di suatu lembah yang amat subur.

Selama dua puluh tahun Dam dibesarkan dengan dikelilingi oleh cerita ayahnya. Sekalipun Dam tidak pernah meragukan kebenaran cerita itu. Setiap cerita yang keluar dari mulut ayahnya adalah hadiah, motivasi bagi Dam di kehidupan mereka yang sangat sederhana. Melalui cerita ayah Dam berhasil untuk masuk klub renang, menjuarai lomba estafet renang, hingga ia masuk akademi gajah.

Kenakalan demi kenakalan dilakukan Dam saat di akademi gajah. Akademi tersebut mengajarkan kedisiplinan tinggi bagi siswanya. Tapi bukan Dam namanya jika tidak berhasil menjahili peraturan yang sudah diterapkan. Hukuman yang diberikan oleh kepala sekolah sangat menarik. Misalnya saja Dam dan kawan sekamarnya harus menunggui buah apel yang jatuh untuk membuktikan teori gravitasi Newton. Dari hukuman juga Dam bisa bebas latihan menggambar seluruh gedung di akademi gajah yang pada akhirnya mengantarkan Dam menjadi arsitek hebat.

Keraguan Dam pada cerita ayah muncul ketika ia membaca sebuah buku yang mirip sekali dengan cerita ayahnya selama ini. Benarkah ayah adalah pembohong? Sampai ia mempunyai dua orang anak, Dam masih kesal dengan ayahnya yang dianggapnya pembohong. Apalagi setelah kejadian yang menimpa ibunya, Dam semakin membenci cerita-cerita ayahnya. 

Cara ayah mendidik Dam kecil sangat unik, aku jadi ingat dulu abah juga sering menceritakan dongeng semacam itu saat malam hari. Aku sih antara percaya dan tidak, tapi cerita abah biasanya lucu-lucu, hehe. Dam sepertinya tidak sadar bahwa cerita ayahnya lah yang mengantarkan dia menjadi seorang yang baik dan tidak pantang menyerah. Sampai ia mempunyai dua anak sebenarnya Dam tidak pernah bisa benar-benar lepas dari pengaruh cerita itu.

Aku suka sama pesan yang ada dibuku ini. Seorang ayah tidak akan pernah membohongi anaknya. Kalaupun pernah itu pasti untuk kebaikan anak itu sendiri. Pengorbanan orangtua buat anaknya memang tidak pernah terbatas ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar