Rabu, 28 Maret 2012

Sonata Musim Kelima

Judul : Sonata Musim Kelima
Penulis : Lan Fang
Penerbit : Gramedia
Tahun : 2012
Halaman : 151




Nama Lan Fang mungkin bukan sosok yang asing bagi dunia sastra di Indonesia. Penulis wanita berdarah tionghoa ini telah wafat pada 25 Desember tahun lalu akibat kanker hati yang dideritanya. Sebelum meninggal, ia sempat meluncurkan tiga buah buku. Diantara ketiga buku tersebut salah satunya adalah kumpulan cerpen Sonata Musim Kelima yang diterbitkan oleh Gramedia. 

Kumpulan cerpen setebal 151 halaman ini terdiri dari 15 buah cerita pendek yang semuanya mempunyai satu benang merah, yaitu cinta. Lan Fang mampu menggambarkan cerita cinta dengan sangat puitis. 15 cerpen tersebut berjudul : Bai She Jing, Dear Gani, Dermaga, Festival Topeng, Gandrung, Hujan di atas Ciuman, Laila, Musim Kelima, Qiu Shui Yi, Sonata, Sri Kresna, Surat Untuk Sakai, Tentang Musim, Tukang Dongeng dan Tukang Mimpi, dan terakhir adalah Yang Paling Penting.

Hampir disemua cerpen, perpisahan dan cinta yang tak kesampaian rupanya menjadi tema favoritnya. Bukan cinta ala remaja, tetapi Lan Fang bahkan menuliskan cinta ala tokoh pewayangan,  ada juga yang berasal dari legenda rakyat Cina. Kutipan puisi dari Sapardi Djoko Damono pun kerap kali menjadikan cerpennya semakin puitis.

Bai She Jing merupakan cerpen yang ia dedikasikan untuk Sanie B. Kuncoro.

"Sanie, tidak peduli kunang-kunang itu bersayap lengkap atau hanya sebelah. Yang terpenting adalah tetap semangat menjadi cahaya!"- hal. 19

Sampul buku ini menunjukkan sebuah Dermaga, tempat dimana tokoh perempuan jatuh cinta kepada laki-laki berkebangsaan Australia namun laki-laki itu mempunyai sesuatu hal yang disembunyikan.

Sebetulnya sebuah dermaga tidak perlu terlalu diingat-ingat. Tepatnya, aku tidak perlu mengingat-ingat dia lagi. Bukankah kami sudah berpisah? Dan tidak ada yang perlu diingat dari perpisahan - hal. 29-30.

Salah satu cerpen yang mengandung unsur budaya tionghoa adalah Hujan di atas ciuman. Lan Fang memasukkan sebuah lagu berjudul Yue Liang Dai Biao Wo De Xin (Sinar Bulan Mewakili Isi Hatiku) 

Kau menanyakan seberapa dalamkah cintaku padamu?
dan seberapa besarkah aku mencintaimu?
maka perasaanku yang sesungguhnya...
maka cintaku yang sesungguhnya...
bagaikan sinar bulan yang mewkili seluruh isi hatiku

Kau menanyakan seberapa dalamkah cintaku padamu?
dan seberapa besarkah aku mencintaimu?
maka perasaanku tak akan pernah bergeser
maka cintaku tak akan pernah berubah
biarkanlah sinar bulan yang mewakili seluruh perasaan hatiku

Kau menanyakan seberapa dalamkah cintaku padamu?
dan seberapa besarkah aku mencintaimu
maka renungkanlah sekali lagi
maka pandanglah sekali lagi
sinar bulan akan mewakili seluruh isi hatiku

sebuah ciuman yang lembut...
telah menyentuh hatiku
sebuah perasaan kasih yang dalam..
membuatku merindukanmu sampai saat ini

Dari semua cerpen, yang menjadi favoritku adalah Sonata. Tentang seorang penulis tuli yang saling mencintai dengan seorang pianis buta. Si penulis tidak bisa mendengarkan keindahan permainan piano si pianis. Sedangkan si pianis sangat ingin membaca tulisan-tulisan si penulis. Didalam cerpen yang satu ini, arti cinta sejati bergitu terasa.

Bukankah di dalam cinta, kebungkaman lebih berarti daripada percakapan?- hal. 104

Semangat hidup Lan Fang memang patut untuk ditiru.. ditengah perjuangannya melawan kanker hati, ia tetap menolong orang lain. Meski beragama Buddha, ia tetap mau memberikan pelajaran sastra kepada santri di beberapa pondok pesantren di Jawa Timur.

Hidup bukan perjuangan menghadapi badai. Tetapi bagaimana agar tetap bisa menari di tengah hujan.- hal. 69

Selamat jalan Lan Fang, selamat kembali ke dermaga mu...

"aku suka sekali dengan dermaga. Karena memberi rasa yang meneduhkan. Sesederhana apapun dermaga tetap sebuah dermaga. Di dermaga, semua yang pergi pasti rindu untuk kembali..." - hal. 124


1 komentar:

  1. sukaa banget ma covernya, ada juga kan satu lagi terbitan gramedia yang isinya kumcer lan fang, itu juga bagus covernya #cintakover

    BalasHapus