Minggu, 05 Februari 2012

The Phantom of The Opera

Judul : The Phantom of The Opera
Penulis : Gaston Leroux
Halaman : 376
Penerbit : Gramedia
Tahun : 2011


The Phantom of the opera merupakan salah satu novel klasik paling terkenal dan pernah diangkat kebeberapa layar lebar serta pementasan opera. Beberapa hari yang lalu aku juga sempat melihat dikoran bahwa pementasan opera ini akan diadakan di Jakarta. Sewaktu aku mencari film the phantom of the opera di youtube, ternyata disana ada filmnya yang berdurasi sekitar dua jam dan dibuat pada tahun 1920an. Pengen nonton, tapi rada takut juga sih soalnya film jadul biasanya lebih kerasa horornya :p

Walaupun aku cuma memberi dua bintang untuk novel ini, namun aku sangat menikmati kemisteriusan si hantu. Novel klasik yang berbalut kisah percintaan ini menceritakan Erik si hantu yang mencintai Christine Daae, seorang penyanyi di Opera. Cinta segitiga terjalin antara Erik, Christine, dan Roul. Sebenarnya Christine dan Roul saling mencintai, tetapi perbedaan strata sosial menghalangi keduanya. Christine yang malang harus memilih antara Erik si hantu ataukah Roul.

Novel ini diceritakan dari sudut pandang Gaston Leroux sendiri sebagai tokoh 'Aku'. Dikata pengantarnya sebagai penulis, Leroux memaparkan keinginannya yang sangat besar untuk mencari tahu tentang Erik. Bukti berupa surat-surat dan mayat Erik yang ditemukan semakin menguatkan Leroux untuk menulis the phantom. 

Apa yang membuat aku hanya memberikan dua bintang? Aku sendiri membutuhkan waktu yang lama, sekitar lima hari untuk menyelesaikan buku ini. Itu pun sempat menyerah karena gaya bahasa yang digunakan membuat mengantuk. Tetapi kalau sudah membaca satu buku dan tidak menyelesaikannya, rasanya ada sedikit rasa bersalah. Makanya aku sedikit 'memaksakan' diri untuk melihat akhir kisah cinta Erik dan Christine :)

Cover edisi tahun 1920

7 komentar:

  1. Wah, baca dalam 5 hari sih biasa kalau aku, May. Terutama untuk novel klasik ya, karena kan selain ceritanya, bahasanya kudu "dirasakan" ya...hehehe...

    BalasHapus
  2. bener mbak! bahasa dalam novel klasik memang 'beda' dan kadang2 aku harus membaca satu kalimat beberapa kali supaya lebih paham :)

    BalasHapus
  3. Novel klasik sih jadi gaya bahasanya sering bikin ngantuk. Hehe. Aku uda kapok nonton filmnya May, jadi ga baca bukunya. Nonton filmnya 3x dan ga tamat, soalnya ketiduran terus di tengah2 film :P

    BalasHapus
  4. hihihi
    keren ..
    novel klasik 'digarap' juga ..
    Buku klasik yang pernah saya baca itu paling buku Pasukan Mau Tahu karya Enid Blayton ..
    eh, tapi itu itu termasuk novel klasik gak ya?
    hahahhaa
    salam kenal
    EYSurbakti
    *kalo berkenan di folbeck ya biar bisa bersilaturahmi
    hhe
    :)

    BalasHapus
  5. Kayaknya baguz.......

    Pingin liat filmnya juga....
    Pengen juga liat operanya.....

    BalasHapus
  6. Tapi ini terjemahannya lumayan enak loh. Agak2 susah memang kyknya buku klasik kalo diterjemahin :)

    BalasHapus
  7. mending nonton film nya aja kali ya :)

    BalasHapus