Selasa, 22 Februari 2011

Writer vs Editor

Judul : Writer vs Editor
Penulis : Ria N. Badaria
Penerbit : Gramedia
Tahun : 2011
Halaman : 307
Harga : 49.500

Nuna Rihana Mirja. Seorang perempuan yang bekerja di sebuah supermarket. Padahal cita-citanya yang sebenarnya adalah menjadi penulis. Banyak naskah yang telah dikirimkannya ke penerbit. Namun sebanyak itu pula naskahnya ditolak. Setelah hampir putus asa mencoba, akhirnya ada sebuah penrbit yang mau menerbitkan novel tulisan Nuna.

Nuna berharap setelah ia menjadi penulis, dunianya akan berubah. Tapi harapan Nuna keliru. Ia justru mendapat editor super menyebalkan bernama Rengga. Pada saat pertemuan pertama mereka saat membahas naskah novel Nuna saja, Rengga mengerjainya dengan cara menyuruh Nuna mentraktir ia makan di restoran mahal. Sejak saat itu Nuna mulai membenci editornya itu.

Tanpa disangka, cinta pertama Nuna yaitu Arfat yang pernah serumah dengannya saat ia masih tinggal dirumah tantenya, kembali dari luar negeri. Membuat Nuna kembali bernostalgia ke masa SMA-nya. Ia merasa berbunga-bunga saat Arfat begitu perhatian dengannya. Walaupun menurut Nuna, Arfat hanya menganggapnya adik.

Arfat rupanya adalah kepala editor baru di Globalbooks. Penerbit novelnya Nuna. Otomatis hal ini membuat Rengga menjadi segan dengan Nuna mengingat kedekatan Nuna dengan Arfat. Tanpa sadar, Rengga pelan-pelan merasa cemburu dengan kedekatan itu. Tapi ia berusaha menyangkal perasaannya terhadap Nuna.

Keseluruhan dari isi novel ini adalah kisah cinta segitiga antara Nuna, Arfat, dan Rengga. Akhir ceritanya gampang ditebak. Membaca novel ini tidak diperlukan konsentrasi yang ekstra karena ceritanya mengalir begitu saja. Sebenarnya tidak ada yang spesial dari novel ini. Karena ceritanya sangat khas seperti FTV. Tapi not bad lah kalau lagi pengin baca novel yang santai :))

Kamis, 17 Februari 2011

Book vs Ebook

Jika disuruh memilih antara membaca buku dari sebuah buku, atau dari laptop, komputer, ebook reader, kamu pilih mana? Kalau saya, pastinya akan lebih memilih membaca dari sebuah buku! Saya mempunyai beberapa alasan kenapa tidak terlalu menyukai membaca lewat ebook : (1) Karena saya biasanya membaca ebook lewat laptop, otomatis hal inimemerlukan energi listrik yang banyak, apalagi jika buku yang kita baca beratus-ratus halaman, (2) Mata cepat lelah. Saya cepat mengantuk jika membaca lewat laptop, (3) Sakit pinggang, karena kan membacanya harus duduk, kalau membaca buku bisa sambil leyeh-leyeh di ranjang, (4) Tidak leluasa. Saya mempunyai kebiasaan membaca sambil makan. Hal ini tentu saja menyulitkan jika saya membaca lewat laptop.

Tetapi membaca buku juga memiliki kekurangan. Yaitu biaya yang harus dikeluarkan. Harga buku sekarang mencapai harga gila-gilaan menurut saya. Sangat sulit memperoleh buku dengan harga dibawah lima puluh ribu. Alternatif untuk menghemat pengeluaran buku ini, ya paling saya pinjam punya teman. Soalnya saya males pinjam dirental buku. Hehe...

Pilihan orang memang berbeda-beda. Mereka yang lebih memilih membaca lewat ebook pastinya mempunyai alasan mereka tersendiri. Tinggal mana yang bikin kita nyaman aja saat melakukannya.Yang penting hobi membaca bisa tersalurkan :)

Selasa, 15 Februari 2011

Sang Pencerah

Judul : Sang Pencerah
Penulis : Akmal Nasery Basral
Penerbit : Mizan
Tahun : 2010
Halaman : 461

Sang pencerah merupakan novelisasi kehidupan K.H Ahmad Dahlan dan perjuangannya mendirikan Muhammadiyah. K.H Ahmad Dahlan mempunyai nama asli Muhammad Darwis. Ia merupakan keturunan dari salah satu wali songo yaitu Syaikh Maulana Malik Ibrahim. Ayahnya adalah Kiai Abu Bakar, khatib dan imam di Mesjid Gedhe Kauman, Yogyakarta. Ibunya, Siti Aminah adalah putri Kiai Haji Ibrahim, seorang penghulu yang cukup terpandang. Jadi, bisa dibilang bahwa Darwis merupakan keturunan orang terhormat.

Darwis sudah mempelajari agama sejak ia kecil. Ayah dan kakak-kakak iparnya yang juga seorang kiai lah yang mengajarkannya tentang Islam. Sikap Darwis yang kritis pun sudah ia tampakkan sejak ia menghadiri yasinan Pak Poniman, ayah temannya. Ia heran kenapa ada masyarakat mengadakan acara yasinan padahal tidak mampu, bahkan berhutang kepada rentenir. Bukankah Islam tidak pernah memberatkan umatnya seperti itu?

Untuk memperdalam ilmu agamanya, Darwis berangkat ke Mekkah. Sekaligus untuk menunaikan ibadah haji. Sepulang dari Mekkah, ia mendapatkan nama Ahmad Dahlan, pemberian seorang kiai. Sejak itu, Darwis berubah menjadi Dahlan.

Ketika berumur 21 tahun, Dahlan menikah dengan Siti Walidah yang juga sepupunya. Siti Walidah adalah perempuan yang sangat mendukung perjuangan Dahlan. Disini terasa sekali bagaimana peran Walidah dalam membesarkan hati suaminya ketika didera berbagai macam masalah.

Karena sikapnya yang suka mengkritisi tradisi-tradisi masyarakat Yogya, Dahlan dituduh sebagai kiai kafir. Apalagi ketika Dahlan mengajarkan agama dengan bermain biola yang dianggap seperti orang kafir. Langgar Kidul, tempat Dahlan biasa mengajar pun dirobohkan, lantaran Dahlan mengatakan bahwa masjid-masjid di Kauman kiblatnya menyimpang dari arah Ka'bah.

Organisasi Budi Utomo yang didirikan para pemuda STOVIA menginspirasi Dahlan untuk mendirikan Muhammadiyah. Tetapi, rekomendasi dari Budi Utomo rupanya tidak membuat Dahlan dapat dengan mudah mendirikan Muhammadiyah. Karena masih ada Kiai Penghulu Kamaludiningrat yang sempat berselisih paham dengan Dahlan.

Woooo, saya sebenarnya sudah lama ingin membaca novel ini. Tapi baru kesampaian. Sebagai warga Muhammadiyah, saya ingin mengetahui lebih jauh tentang tokoh pendiri organisasi ini. Ternyata sosok Ahmad Dahlan benar-benar seorang kiai yang sabar dan mencerahkan.

Kalau sudah baca novelnya, sekarang saatnya saya untuk menonton film Sang Pencerah. Semoga filmnya tidak mengecewakan karena biasanya novel selalu lebih bagus daripada filmnya :p

Jumat, 11 Februari 2011

Ranah 3 Warna

Judul : Ranah 3 Warna
Penulis : A. Fuadi
Penerbit : Gramedia
Tahun : 2011
Halaman : 473

Setelah novel 'Negeri 5 Menara' sukses besar, A. Fuadi meneruskannya dengan Ranah 3 Warna. Buku kedua dari trilogi ini masih bercerita tentang Alif Fikri, seorang bujang dari Maninjau. Jika di N5M Alif menjadi santri di Pondok Madani, di R3W Alif sudah kuliah.

Dengan tekad ingin kuliah di universitas negeri, Alif berusaha untuk mendapat ijazah persamaan SMA dan belajar mati-matian agar lulus UMPTN. Cibiran dari sahabatnya sejak kecil, Randai tidak membuatnya patah semangat. Malah Alif ingin membuktikan bahwa ia akan bisa bersaing dengan temannya yang lulusan SMA dan anak saudagar kaya tersebut.

Perjuangan Alif tidak sia-sia. Berbekal mantra Man jadda wajada saja ternyata tidak cukup ampuh. Maka Alif menambah mantranya : Man shabara zhafira. Mantra tersebut diajarkan oleh Kiai Rais saat Alif masih di Pondok Madani, yang artinya 'siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil' dan 'siapa yang bersabar akan beruntung'. Akhirnya Alif berhasil masuk Unpad jurusan HI, walaupun tidak sesuai keinginannya di teknik penerbangan ITB.

Hidup Alif tidak berjalan semulus itu. Kematian ayahnya sangat membuat Alif terpukul. Menyebabkan ibunya yang hanya guru SD menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga yang harus membiayai kuliah Alif dan sekolah kedua adiknya. Sebagai anak sulung, Alif tidak ingin merepotkan ibunya dan ia berusaha mencari sendiri penghasilan mulai dari berdagang parfum, baju, jadi guru les privat, dan yang terakhir menjadi penulis.

Perjalanan Alif menjadi penulis sangat sulit. Alif digodok oleh Bang Togar, seniornya yang galak dan sangat disiplin. Alif mulai menulis untuk koran kampus, lokal, bahkan sampai nasional. Hasil dari menulis itu digunakannya untuk menghidupi kebutuhannya dan mengirimi ibu serta adik-adiknya di kampung. Masih dengan mantra yang sama, Alif terus bersabar walaupun Bang Togar melatihnya dengan benar-benar keras.

Sampai ia kuliah, Alif tidak pernah melupakan mimpinya yang pernah ia ucapkan bersama sahibul menara. Alif sangat ingin menginjak tanah Amerika walaupun ia tidak tahu caranya. Maka ketika Alif bertemu dengan seorang seniornya di bus kota, Alif mengetahui bahwa dengan mencari beasiswa ia bisa pergi keluar negeri secara gratis.

Dengan rajin Alif mencari tahu tentang beasiswa yang bisa mengantarkannya ke Amerika. Sampai suatu saat, ia mengikuti seleksi program pertukaran mahasiswa. Namun, lagi-lagi Randai menjadi saingannya. Apalagi saat itu Alif melihat Randai begitu dekat dengan Raisa, perempuan yang diam-diam disukai oleh Alif.

Berhasilkan Alif pergi ke tanah impiannya? Silahkan baca buku ini :p

Kamis, 10 Februari 2011

Pak Beye dan Istananya

Judul : Pak Beye dan Istananya
Penulis : Wisnu Nugroho
Tahun : 2010
Penerbit : Kompas
Halaman : 256

Iseng-iseng nggak ada kerjaan di rumah, saya menyempatkan diri untuk menengok buku tentang orang nomor 1 di negeri kita ini. Saya pikir ini adalah buku bermuatan politik yang biasa dibaca oleh bapak-bapak. Tapi setelah saya baca, buku ini berisikan lelucon-lelucon tentang Pak Beye dan hal-hal yang terjadi di Istana negara.

Terdiri atas 6 bab yaitu : Tunggangan Istana; Orang penting; Orang yang terlupakan; Antara penting dan genting; pernak-pernik Pak Beye; Istana punya cerita.

Cerita-cerita di bab ini merupakan kritik yang ditulis oleh Wisnu Nugroho ketika ia yang berprofesi sebagai wartawan meliput berbagai kejadian di istana. Tapi tidak dengan bahasa yang serius. Saya saja selalu menyunggingkan senyum ketika membaca halaman demi halaman.

Pak Beye dan istananya adalah buku pertama dari tetralogi sisi lain SBY. Di dalamnya juga terdapat foto-foto yang sempat diabadikan oleh penulis. Tunggangan istana misalnya, terdapat foto-foto mobil-mobil mewah yang dimiliki SBY maupun mentri serta tamu-tamunya. Semuanya adalah mobil-mobil langka yang jarang bisa kita temukan di jalanan karena harganya yang tak bisa dijangkau oleh orang kebanyakan.

Pokoknya seru deh. Bukunya lucu. Daripada membahas isu politik yang nggak jelas juntrungnya, buku ini layak dibaca sebagai selingan supaya tidak stres :p

Kamis, 03 Februari 2011

The Host

Judul : The Host
Penulis : Stephenie Meyer
Penerbit : Gramedia
Halaman : 770
Tahun : 2009

Bumi telah dikuasai oleh makhluk dari luar angkasa. Makhluk tersebut memerlukan manusia sebagai inangnya untuk bertahan hidup. Makhluk berdarah perak yang menyerupai cacing tersebut kemudian menyisipkan kedalam diri manusia. Sehingga populasi manusia di bumi nyaris mendekati kepunahan. Makhluk asing yang menganggap dirinya jiwa tersebut melenyapkan manusia yang dia tempati tubuhnya.

Melanie Stryder menolak untuk dilenyapkan. Wanderer-jiwa yang disisipkan ketubuh Melanie-terpaksa harus mengakui bahwa Melanie sungguh kuat. Ingatan-ingatan yang dimiliki Melanie menguasainya. Namun Wanderer menolak untuk berpindah ke inang yang lain. Ia tidak mau menjadi peloncat. Wanderer telah menjalani sembilan kehidupan di planet lain. Dan menurutnya, bumi lah tempat yang paling emosional.

Melanie menuntun Wanderer untuk menemukan Jamie-adik laki-lakinya- dan Jared-lelaki yang dicintainya-. Melanie terus memunculkan ingatan dan mimpi-mimpinya. Sehingga Wanderer turut mencintai Jared dan Jamie sama seperti Melanie.

Pencari yang mengetahui bahwa Melanie masih hidup ingin melenyapkan Melanie. Namun Wanderer lebih memilih kabur bersama Melanie. Mereka berdua mencari Jamie dan Jared hingga mereka ditemukan oleh Jeb, Paman Melanie yang ternyata masih hidup.

Mereka dibawa ke sebuah gua bawah tanah yang terdapat di padang pasir. Disana Melanie dan Wanderer menemukan manusia-manusia yang masih selamat. Jumlah mereka sekitar 35 orang termasuk Jared dan Jamie.

Melanie sangat mencintai Jared, dan Wanderer juga mencintainya. Tetapi ada lelaki lain yang mencintai Wanderer yaitu Ian. Disinilah masalah muncul. Tubuh Melanie menginginkan Jared. Sedangkan Wanderer (yang kemudian dipanggil Wanda) mencintai Ian.

Cerita cinta yang sangat mengharukan. Disini saya melihat ketulusan cinta yang diberikan Ian kepada Wanda. Walaupun Wanda hanyalah sesosok jiwa yang tubuh aslinya lebih mirip cacing. Menurut saya cinta segitiga (atau segiempat?) disini mirip seperti Twilight Saga, mungkin karena penulisnya sama ya.. hehehe