Sabtu, 30 Juli 2011

9 Summers 10 Autumns

Judul : 9 Summers 10 Autumns
Penulis : Iwan Setyawan
Halaman : 221
Penerbit : Gramedia
Harga : 52.000


Sebenarnya saya lumayan kecewa terhadap novel yang berlabel 'best seller' ini. Ketika saya membaca sinopsis dibelakangnya, saya berspekulasi bahwa buku ini akan seperti Negeri 5 Menara ataupun Laskar Pelangi. Ditambah lagi resensi dari blog-blog hasil saya blogwalking memberi komentar yang sangat positif. Tapi saya tidak menemukan 'gregetnya', dalam artian saya tidak menemukan klimaks dari novel ini. Semua peristiwa berjalan hampir tanpa tantangan. Bab pertama yang berjudul 'Hampir Pulang Selamanya' menceritakan Iwan yang dirampok oleh beberapa orang di NewYork. Disana ia melihat seorang anak yang berpakaian merah putih. Anak ini memberikan kesan yang mendalam dalam diri Iwan. Disemua bab anak yang misterius ini menemani Iwan. Tak jelas siapa sebenarnya anak ini. Apakah seorang bule? Tapi mengapa ia menggunakan bahasa Jawa pada halaman 7? Apa hubungannya dengan Mbak Ati? Mengapa anak ini begitu dicintai Iwan? Saya masih berpikir keras hingga halaman terakhir.

Kemisteriusan anak itu membuat saya lebih berkonsentrasi untuk menggali siapa anak ini. Saya malah mengesampinkan cerita Iwan tentang kehidupannya dimasa lalu. Buku yang juga berupa otobiografi Iwan ini memang menceritakan Iwa hingga ia berhasil di New York. Melalui anak kecil yang tidak jelas identitasnya tadi Iwan menceritakan segalanya. Bahkan Iwan menceritakan masa lalunya kepada Ibunya, keponakannya, teman perempuannya, semua orang yang ia temui. Menurut saya hal ini terlalu dipaksakan dan membuatnya minim dialog. 

Jika kita kesampingkan kekurangan diatas, memang cerita yang disajikan ini begitu menyentuh karena bertujuan untuk memberi kita pelajaran bahwa kita pasti bisa jika kita berusaha.  Iwan menggambarkan 'rumah' sebagai pusat dimana seorang anak tumbuh dan membentuk dirinya. Dimasa kecilnya, Iwan tidak terlalu suka untuk mengekspresikan perasaannya. Mungkin inilah yang menjadikan ia individu yang pendiam dan tidak terlalu menyukai keramaian saat dewasa. Penggambaran Iwan terhadap perjuangan orangtuanya untuk menghidupi dia dan keempat saudarinya lumayan detail. Bahkan ia juga menceritakan 'sejarah' kakak dan adiknya. Buku ini memberikan motivasi terhadap pentingnya pendidikan, agar kita tidak menyerah dengan kondisi ekonomi yang kita miliki dan tetap giat belajar meraih cita-cita.

EDIT :
Setelah saya pahami lagi buku ini lebih dalam (cieleh) ternyata si anak laki-laki tersebut adalah Iwan Setyawan dimasa lalu. Jadi dia menggambarkan si anak sebagai dirinya sendiri ^^

6 komentar:

  1. Aku penasaran juga sih, penulisnya orang Batu, tempatku tinggal. Dulu mau ikut acara bedah buku dengan penulisnya tapi nggak jadi, tapi kayaknya masih kurang greget ya? Yaaahhh, terang saja, penulisnya kan 'orang biasa' bukan penulis handal seperti Andrea Hirata atau yang lainnya. Hehe, nice review Mbak, terus menulis ya! :D

    BalasHapus
  2. aku udah baca, en pendpatku hampir sama semua kayak reviewnya maya ini.. :)

    ohya, kalo meniritku, anak kecil yang berseragam merah putih itu yaaa...si iwan itu, refleksi dar diri dia sih sebenernya..yang bikin dia balik lagi ke indonesia kan ya "masa kecil" nya itu.. :)

    BalasHapus
  3. pernah liat interviewnya di TV One, kurang menarik kalo buatku pribadi, walaupun tempat lahitku gak terlalu jauh dengan Batu :D

    BalasHapus
  4. wah, ga terllau bagus ya...padahal saya sudah pesan online nih... :(

    BalasHapus
  5. thanks reviewnya mba...
    http://kafebuku.com/9-summers-10-autum-dari-kota-apel-ke-the-big-apple/

    BalasHapus
  6. kalau menurut saya anak kecil itu cerminan dirinya... intinya menjadi apapun kemanapun kita nantinya kita tidak bisa melupakan dan melepaskan diri dari masa kecil kita, dan mas iwan disini sebagai seorang yg kurang beruntung masa kecilnya mampu berusaha untuk menjadi seseorang yang sukses dan dia bangga akan masa kecilnya itu... jadi bagi kita yang kurang beruntung jangan hanya berpangku tangan dan menerima nasib kita, dan jika nantinya kita sukses jangan malu dan melupakan darimana kita berasal tapi banggakanlah itu sebagaimana yang mas iwan lakukan

    BalasHapus