Rabu, 09 Maret 2011

De Journal

Judul : De Journal
Penulis : Naneng Setiasih
Penerbit : Navila
Halaman : 438
Tahun : 2010
Harga : Rp. 63.500,00

PS : Novel ini adalah kisahku selama lima belas tahun on and off ber-backpacking solo di Indonesia dan 30 negara lainnya.

Dengan niat untuk melengkapi book challenge What's in a name 4, saya membeli buku ini. Ketika sudah membayar bukunya dikasir, eh baru sadar kalau saya keliru. Judul buku ini de JOURNAL, bukannya JOURNEY. Hhh.. ya sudah lah saya pikir apalagi resensi dibelakang buku ini terlihat menarik. Dengan tidak sabar, saya baca buku ini dengan harapan bukunya akan sebagus resensinya.

Tya adalah seorang perempuan tomboi berkulit hitam, hidung pesek, dada rata, dan tubuh jangkung. Ia merasa mengalami diskriminasi karena selalu dibandingkan dengan tetehnya yang berkulit putih, cantik dan feminim. Hobi Tya selain karate adalah travelling. Ia senang backpacking sendirian ketempat-tempat yang sebelumnya belum pernah ia kunjungi.

Tya ingin menjadi perempuan yang bebas, tidak dikekang dan dibatasi oleh siapapun. Maka ia menolak ketika pacarnya ingin melamarnya dengan alasan yang cukup menyinggung SARA (Islam dan Kristen). Dinovel ini diceritakan Tya berkunjung ke Flores, Medan, Denpasar, Bukittinggi dan lainnya. Diperjalanan ia sering bertemu bule yang dengan sangat percaya diri diceritakan bahwa semua bule yang bertemu dengannya tertarik dan jatuh cinta dengannya.

Perjalanan yang dilakukan Tya dipaparkan dengan sangat teliti. Tetapi, adanya footnote yang terlalu banyak bahkan untuk hal tidak penting sekalipun sangat mengganggu. Inikan novel, walaupun penulisnya adalah seorang saintis ya tetap saja jangan dibuat seolah-olah ini adalah buku non-fiksi.

Kemudian ada banyak sekali kalimat-kalimat janggal :
"Beautiful night, no?" Lima orang bule dengan logat khas Italianya, 3 laki-laki dan seorang perempuan menyapa kami (Hal 236)

Lha, katanya lima orang, tapi kok cuma 3 laki-laki dan seorang perempuan? Harusnya kan empat orang!

Selain itu, seakan-akan penulis setuju dengan perilaku lesbian (Hal 317) dan penulis juga menyatakan tidak apa-apa kalau kita memakai narkoba asal tidak mengganggu kenyamanan orang lain. Kejanggalan lain saya temukan dihalaman 417 :
Kondisi seperti ini juga sebenarnya banyak ditemukan dibanyak dunia. Profesor yang nulis buku Sex is fun  ini, juga nulis buku lain berjudul Gun, Germs, and Steel yang menang.....

Saya sudah bolak-balik halaman novel ini untuk menemukan siapa yang dimaksud penulis dengan Profesor ini. Dihalaman sebelum maupun sesudah kalimat itu tidak ada satupun yang menjelaskan atau memberitahu nama profesor ini.

Kejanggalan terakhir saya temukan di halaman 194 :
Bergegas kututup pintu dan Ayat Kursi mengalirr dengan lancar dari bibirku. Nama berbagai Tuhan dari berbagai agama pun mengalir.

Kira-kira apa maksudnya ya?

Saya sungguh kecewa dengan buku ini. Disamping harganya yang mahal, buku ini sama sekali tidak memberi saya kepuasan. Saya malah dongkol membaca bab demi bab. Diresensi dikatakan bahwa akan ada cerita pengalaman penulisnya di 30 negara. Nyatanya, tidak satupun saya temukan kisah perjalanan si penulis ke luar negeri. Saya malah disuruh membeli lagu sekuel yang menceritakan pengalaman penulis keberbagai negara. Tapi saya pikir cukup membaca buku pertama ini. Karena saya sangat tidak tertarik membaca buku yang kedua, maupun ketiga (kalau ada)

8 komentar:

  1. hahahhaa... aku ktawa nih baca resensimu ini, jujur dan lugas. aku suka bangett :)
    emang harusnya begini nih kalo ngereview yah.. ihihihihi.. emang bukunya separah itu ya non? tapi makasih ya udah dikasih tahu, kalo ngga jangan2 orang lain pada beli juga buku ini.. soalnya covernya cukup menggoda juga.. :)

    BalasHapus
  2. hihihihihi..
    jadi salah beli ya may??

    ehm memang susah ya skrang nemu buku yg bagus,
    sesuai referensi.
    Referensi terbaik adalah dari verbal, atau org yg udah pernah baca.

    makasih share nya ya,
    sya bakal tandain nih buku *not recomended

    BalasHapus
  3. salam,wah reviewnya .. jadi tahu isi sebagian buku itu kalo maya gak berminat hihih apalagi saya hehehe.. keep post but thanks for review sangat bermanfaat,

    yg jadi pertanyaan ,skrng bukunay dibuang apa dikoleksi hayooo ???

    BalasHapus
  4. naah..manfaat reveiw adalah yang seperti ini, heheheeh. Susah memang mempercayai resensi singkat di cover belakang....

    memangnya di Toko buku itu ga ada dummy-nya? satu buku yang segelnya sengaja dibuka--apa sih istilahnya--biar pembeli ga salah bawa.

    well, keep review yah!

    BalasHapus
  5. helo..
    terkikik baca review-nya.. iya, detil2 yg ga logis ky 5 orang yg tnyata cuma 4 gitu ngeganggu bgt, skrg banyak buku dicetak tp kadang editing+proofreading-nya kurang y

    BalasHapus
  6. @sapidudunk :Iya. Covernya sangat menggoda :D

    @Tito : Aku salah beli... hiks :( tapi kalau kita tidak pernah membaca buku yang 'begini' kita tidak akan bisa menghargai buku yang bagus :)

    @brigadir kopi : disimpan donk. sayang kalau dibuang :p

    @huda : nggak ada yang sudah dibuka. bukunya juga tersimpan dipojokan toko buku

    @dsy : setuju. jadi mikir "editornya nggak kerja ya?" kesalahan ejaan dinovel ini sangat banyak :(

    BalasHapus
  7. kata temenku bagus, ternyata begitu ?? :/ xp

    BalasHapus
  8. saya dapet buku ini gratis, dapet ditumpukan buku2 yang udah kena rayap, haha

    BalasHapus