Rabu, 26 Januari 2011

Tanah Tabu


Judul : Tanah Tabu
Penulis : Anindita S. Thayf
Penerbit : Gramedia
Halaman : 240
Tahun : 2009

Entah kenapa saya baru bisa menyelesaikan membaca buku ini tadi pagi. Padahal saya telah membelinya pada bulan agustus tahun 2009. Mungkin karena saya tidak mengerti jalan ceritanya pada awalnya atau karena memang saya yang sedang malas membaca pada saat itu.

Ketika kemarin saya coba untuk membaca lagi lanjutan buku ini, saya menemukan sesuatu yang berbeda ketika saya dulu membacanya. Saya bisa merasakan keindahan tanah papua yang eksotik. Novel ini sendiri merupakan pemenang I sayembara novel DKI 2008. Saya rasa penghargaan tersebut memang layak diberikan mengingat isi novel ini yang berbeda dari novel kebanyakan.

Secara garis besar, tanah tabu merupakan kisan tentang Mabel. Seorang perempuan yang sudah berumur tetapi sangat berani menyuarakan pendapatnya walau harus mengorbankan nyawanya sendiri. Ia mempunyai cucu bernama Leksi yang mempunyai rasa ingin tahu yang teramat tinggi.

Leksi sejak kecil tidak pernah bertemu dengan ayahnya yang meninggalkan dia dan Mace sejak Leksi dalam kandungan. Ayahnya tidak pernah mengakui Leksi sebagai anaknya karena Mace pernah diperkosa oleh kawanan laki-laki bersenjata yang membuatnya trauma.

Sudut pandang dinovel ini bergantian dituturkan oleh Leksi (aku), Pum, dan Kwee. Pum sudah dianggap lebih dari sahabat atau bahkan saudara oleh Mabel sehingga Mabel bisa menceritakan segala rahasianya pada Pum. Sedangkan Kwee juga sudah dianggap saudara sendiri dan Kwee seringkali menjaga Leksi. Mereka berlima tinggal dalam satu atap.

Pergantian sudut pandang dalam penceritaan itulah yang terkadang membuat saya bingung sehingga harus kembali lagi ke halaman sebelumnya untuk melihat judul siapa yang bercerita.

Perlawanan terhadap perusahaan emas di Papua yang mengeruk tanah tabu demi kepentingan pendatang tersebut, penindasan terhadap wanita yang dilakukan kaum pria, dan pemilihan bupati yang terus ditentang oleh Mabel adalah isi dari novel ini. Anindita begitu apik dalam menyampaikan setiap gagasannya.

Kata-kata favoritku dalam novel ini adalah :
Ya, Tuhan. Waktu itu aku berharap lebih baik mati saja, dan kalaupun rohku masuk neraka, setidaknya siksaan di sana pastilah dijatuhkan-Nya dengan adil; sesuai kesalahan yang kulakukan. (Hal 158)

3 komentar:

  1. tambah mantap aja reviewmu..
    salut... moga targetnya tercapai tahun ini. Baca seratus buku kan?

    saya bulan januari ini belum juga ngabisin satu buku. udah beli si kemarin, tapi ga habis2.

    BalasHapus
  2. aku sudah lama ragu beli novel ini atau nggak..sekilas aku dengar juga ceritanya bagus karena menangin penghargaan gitu..jadi kepikiran beli lagi deh setelah baca review ini..hehehe

    BalasHapus
  3. @Huda : Thanks.. Amin.. :D Ayo di baca bukunya..

    @Fca : Rame kok bukunya tapi kadang bingung sama sudut pandang siapa yang cerita.. hehe

    BalasHapus