Sabtu, 29 Januari 2011

Bocah Muslim di Negeri James Bond

Judul : Bocah Muslim di Negeri James Bond
Penulis : Imran Ahmad
Penerbit : Mizan
Halaman : 466
Tahun : 2009

Entah kenapa dalam edisi bahasa Indonesianya buku ini diterjemahkan sebagai 'Bocah Muslim di Negeri James Bond' padahal judul aslinya adalah 'Unimagined'.

Daripada sebuah novel, menurut saya buku ini lebih sebagai otobiografi penulisnya. Di sudut kanan atas setiap halaman akan dituliskan usia dan tahun kejadian pada setiap bab.

Sebagai bocah muslim keturunan Pakistan yang tinggal di negaranya James Bond yaitu Inggris (Saya kira negeri James Bond itu Amerika Serikat -__-) Imran harus menerima kenyataan bahwa ia 'berbeda' dengan teman-temannya. Tak hanya perbedaan warna kulit karena ia adalah bangsa Asia, tapi juga perbedaan keyakinan yang bisa ditebak dari nama belakangnya yaitu Ahmad.

Menginjak remaja, Imran menjadi sosok remaja yang labil dalam hal agama. Ia memiliki keraguan manakah agama yang benar. Antara Islam dan Kristen. Apakah Islam adalah agama yang dibawa oleh Setan seperti kata temannya yang beragama Kristen Evangelis? Imran terus dihantui apakah ia akan masuk neraka karena ia tidak percaya pada pengorbanan darah Yesus. Tapi diakhir buku ini Imran menemukan kepercayaan penuhnya terhadap Islam.

Hidup di Inggris yang notabene adalah negara yang bebas juga memengaruhi Imran. Ia jatuh cinta terhadap seorang gadis bernama Janice yang diyakininya akan menjadi jodohnya. Imran sangat ingin menjadi pacar Janice yang cantik dan membayangkan akan bercinta dengannya. Imran kerapkali mengunjungi Janice di kamar asramanya dan pernah berciuman dengan Janice.Tetapi pertanyaan 'Apakah Tuhan akan marah kepadaku dan memasukkanku ke dalam neraka' menjadikan Imran untuk menjauhi perbuatan yang tercela dimata Tuhan tersebut.

Di cover buku ini saya membaca komentar dari The Guardian dan The Sydney Morning Herald yang mengatakan bahwa buku ini sangat kocak dan penuh rasa humor. Tapi saya sendiri tidak merasakan bahwa buku ini lucu. Apa mungkin karena terjemahan bahasa Indonesia yang menjadikan buku ini tidak lucu? atau rasa humor orang barat dan Indonesia berbeda?

Ada satu bagian yang menurut saya merupakan sudut pandang yang salah dari seorang Imran. Ia menganggap bahwa menutup aurat dari ujung kepala sampai ujung kaki itu tidak ada dalam Islam melainkan hanya ajaran dari aliran wahabisme. Padahal alquran sudah menerangkan bahwa seluruh tubuh perempuan wajib ditutup kecuali muka dan telapak tangan.

Sebenarnya saya sudah satu tahun membeli buku ini tapi mandeg ditengah jalan hehehe.

Buku ini membuat saya mengambil kesimpulan : 
Jangan menilai Islam dari perilaku para penganutnya, tetapi lihatlah dari keindahan ajaranya.

2 komentar:

  1. Setuju dengan kesimpulannya, beruntunglah orang2 yang berpegang teguh pada Islam (ajaran dan Al-Qur'an).

    BalasHapus
  2. Layak disimak lembaran demi lembaran halamannya.

    BalasHapus