Sabtu, 18 Desember 2010

Al Qandas Al Kamil

Entah ini buku apaan. Ditulis oleh seorang dokter yang 'mencurigakan'. Isinya ngalor ngidul untuk sebuah buku motivasi. Segalanya diceritakan. Dari Bazaarnya para syaitan, kedelai, Abraham Clinton, Chow Yun Fat, Katak, Super Saiya, Superman... Wah, wah... ini dongeng, buku sejarah, atau kumpulan lelucon?

Dan yang paling narsis, tokoh utama dalam buku ini yaitu dr. Akin sendiri. Ckckck... Saya tak henti-hentinya tertawa ketika membaca salah satu buku dari trias motivatica ini. Tak seperti buku motivasi lainnya yang ditulis oleh orang sekelas Mario Teguh atau Andrie Wongso buku ini sangat ringan dan mudah dicerna.

Dengan subjudul "Kegagalan Yang Sempurna" kita diajak untuk bangga dengan kegagalan-kegagalan yang kita miliki. Sungguh aneh, bukan?

Tentu saja buku ini bukan hanya sekadar buku lucu-lucuan saja. Melainkan ada 'isi' yang bisa kita ambil. Dimana dr. Akin yang saya kadang kepeleset malah mengira ustad Akin selalu menyelipkan nasehat-nasehat mengenai betapa pentingnya berikhtiar sambil bertawakkal. Seperti yang dibahasnya pada bab Antara fa dan wa.

Juga kisah si Katak Tuli yang mengajarkan kita untuk menulikan telinga kita terhadap hal-hal negatif sekecil apapun hal itu. Karena suara-suara negatif yang kita dengar sedikit atau banyak akan memengaruhi perilaku kita.

Buku ini sebenarnya biasa saja. Namun jika kita mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari maka efek yang luar biasa akan kita dapatkan :)

Wassalam

Rabu, 08 Desember 2010

Hikari No Michi

Kisah perjalanan para mualaf dari negeri Jepang yang begitu menyentuh di hadirkan di dalam sebuah buku berjudul Hikari No Michi- Catatan cinta mualaf dari negeri matahari terbit. Masyarakat Jepang mengenal agama hanya sebagai tradisi atau budaya dan tidak terlalu mempedulikan agama. Sehingga kehadiran Islam di pandang sebagai sesuatu yang aneh. Bahkan hampir semua mualaf yang diceritakan pada awalnya sama sekali tidak mengetahui apa itu Islam.

Kehadiran masyarakat muslim yang merupakan minoritas di negeri Sakura itu menarik perhatian warga Jepang yang tergugah hatinya untuk mempelajari Islam. Hidayah, Allah lan yang berkuasa. Maka melalui perkenalan dengan mahasiswa muslim, para pekerja atau melalui pernikahan mereka mereguk nikmat menjadi seorang muslim.

Buku ini menceritakan bagaimana para mualaf Jepang berusaha mempratekkan sholat, puasa, dan kewajiban sebagai muslim lainnya. Sungguh upaya mereka sanggup menggetarkan hati kita. Ada yang harus menempuh perjalanan antar kota hanya untuk sholat di mesjid. Kegigihan mereka untuk belajar membaca Al-Quran juga patut di acungi jempol. Karena pengucapan Jepang berbeda dengan lafal bahasa Arab.

Salah satu cerita yang membuat saya menangis adalah ketika begitu sulitnya para muslim disana untuk sholat di mesjid sehingga mereka harus menghamparkan sajadah di sudut taman untuk sujud kepada Allah. Sedangkan di Indonesia, mesjid sangat banyak di temukan tetapi kita sangat enggan untuk menginjakkan kaki disana.

Kisah-kisah unik dan menarik lainnya pun bisa kita temukan di buku ini. Memotovasi kita yang memang sudah menjadi seorang muslim sejak lahir untuk terus meningkatkan ibadah dan pengetahuan kita tentang Islam agar tidak kalah dengan semangat para mualaf yang terus belajar Islam :))