Senin, 28 Juli 2014

Bulan Terbelah Di Langit Amerika

Judul                    : Bulan Terbelah di Langit Amerika
Penulis                 : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Halaman               : 344
Penerbit                : Gramedia
Tahun                    : 2014
Harga                    : 86.500 di Gramedia Veteran


Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan ke-3 aku membaca bukunya Hanum Rais. Setelah dua tahun berturut-turut aku membaca 99 Cahaya di Langit Eropa dan Berjalan di Atas Cahaya. Berbeda dengan dua buku terdahulu, kali ini BTDLA lebih banyak memakai latar belakang Amerika Serikat, bukan Eropa.

Jika dilihat dari sampul bukunya, bisa kita lihat bentuk bulan yang seolah-olah terbelah karena asap yang muncul dari sebuah gedung. Nah, gedung tersebut merupakan menara kembar WTC yang ditabrak pesawat tahun 2001 lalu. Kejadian yang mengguncang tidak hanya Amerika Serikat tetapi juga dunia, khususnya dunia Islam.

Bulan dijadikan judul sekaligus mendapat tempat istimewa didalam buku ini. Di bab terakhir, si Bulan ini bercerita dengan sudut pandang orang pertama mengenai pandangannya terhadap kemanusiaan. Bulan juga dijadikan ‘objek’ yang istimewa karena membelah Bulan merupakan salah satu mukjizat Nabi Muhammad SAW yang tidak banyak diketahui orang. Bahkan bukti bahwa Bulan pernah terbelah sudah ditemukan para ilmuwan.

Perjalanan Hanum bersama suaminya ke AS merupakan suatu kebetulan yang mengejutkan karena Hanum tidak menyangka bahwa suaminya bisa menemaninya. Saat itu Hanum diminta Gertrud, bosnya untuk menulis sebuah artikel berjudul “Apakah dunia akan lebih baik tanpa Islam?” Tentu saja awalnya Hanum menolak artikel yang ditujukan untuk menaikkan oplah koran tersebut. Namun Gertrud terus merayu Hanum agar ia bisa membuktikan melalui artikel tersebut bahwa jawabannya adalah : Tidak. Dunia tidak akan lebih baik tanpa Islam. Untuk menjawab pertanyaan tersebut Hanum harus mewawancarai keluarga dari korban 9/11 dan bertanya pendapat mereka mengenai Islam. Disitulah Hanum berkenalan dengan Julia Collins alias Azima Hussein dan Michael Jones.

Bersamaan dengan penugasan tersebut, Rangga juga mendapat ide untuk mempresentasikan jurnalnya di AS. Ide ini didukung oleh Profesor Reinhard yang mengutus Rangga untuk menemui Philipus Brown dan sekalian merayu Brown agar mau menjadi pembicara di Universitasnya. Brown menjadi terkenal karena ia merupakan orang kaya yang menyumbang ratusan juta dollar untuk anak-anak korban perang. Tidak ada yang tahu apa yang menjadikan Brown begitu dermawan, sampai saat ia bertemu dengan Rangga.

Setelah bersepakat untuk berangkat berdua ke AS, Hanum dan Ranggapun membagi hari  agar tugas-tugas mereka sama-sama bisa selesai. Kota pertama yang mereka kunjungi adalah New York, kemudian Washington DC. Selama di AS mereka sempat terpisah beberapa kali yang membuat Hanum dan Rangga menjadi galau. Dalam novel yang diceritakan bergantian antara Hanum-Rangga ini bisa kita rasakan kalau Hanum dan Rangga sangat mencintai satu-sama lain, soalnya kata-katanya romantis sih.


Dari awal sampai akhir novel ini banyak kebetulan-kebetulan yang kalau didunia nyata hal ini too good to be true. Kenapa aku bilang begitu? Soalnya aku berekspektasi bahwa buku ini non-fiksi sama seperti buku sebelumnya apalagi buku ini membawa fakta sejarah 9/11. Berkali-kali aku mengingatkan diri bahwa cerita ini fiksi yang digabungkan dengan drama, fakta sejarah, traveling, dan spiritual. Sama seperti aku yang berharap kalau semua cerita dan tokoh ini nyata, para pembaca lain juga mempunyai pendapat yang sama (dari yang aku lihat melalui twitter dan goodreads). Hanum sendiri diakhir buku ini mengatakan semua cerita yang ada disini debatable, jadi yang nggak setuju atau menemukan ada yang janggal bisa disampaikan kepada penulisnya langsung.
 
Cute Polka Dotted Pink Bow Tie Ribbon